Perusahaan Vaksin Bagikan Keuntungan Setara Rp 378 Triliun

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi uang. Sumber: Gulf Daily News

    Ilustrasi uang. Sumber: Gulf Daily News

    TEMPO.CO, Jakarta - Aliansi Vaksin Masyarakat atau The People's Vaccine, inisiatif global untuk mengawal vaksinasi di dunia, mengecam pembagian keuntungan dan pembelian kembali saham perusahaan vaksin di tengah pandemi virus corona yang belum berakhir.

    “Ini adalah situasi genting untuk kesehatan masyarakat, jangan menjadi kesempatan keuntungan pribadi," kata Anna Marriot, Oxfam Health Policy Manager, dikutip dari keterangan tertulis The People's Vaccine, Rabu, 28 April 2021.

    Perusahaan-perusahaan farmasi seperti Pfizer, Johnson & Johnson, dan AstraZeneca bakal menggelar rapat pemegang saham dalam waktu dekat. The People's Vaccine menghitung kelompok perusahaan ini telah membayarkan setara dengan Rp 378 trilliun dalam bentuk pembagian keuntungan dan pembelian kembali saham kepada pemilik saham mereka dalam 12 bulan terakhir. Lonjakan pembagian keuntungan ini disebut menciptakan gelombang jutawan baru, di saat ekonomi global masih terhenti akibat distribusi vaksin yang lambat dan tidak merata.

    Dana tersebut, menurut The People's Vaccine, cukup untuk membiayai vaksinasi setidaknya 1,3 milliar jiwa, setara dengan populasi di Afrika. “Kami tidak dapat membiarkan perusahaan menentukan siapa yang hidup dan mati, di saat mereka terus menimbun keuntungan. Kita memerlukan vaksin untuk masyarakat, bukan vaksin untuk keuntungan," ucap Anna.

    Rapat pemegang saham dimulai pada 22 April 2021, diawali dari Pfizer dan Johnson & Johnson, kemudian diikuti oleh Moderna dan AstraZeneca dalam beberapa pekan mendatang.

    Aksi protes dari masyarakat luas untuk menentang privatisasi vaksin Covid-19 terus dilakukan. Koalisi masyarakat mendesak perusahaan farmasi untuk membuka hak kekayaan intelektual, serta berbagi teknologi dan pengetahuan dengan produsen vaksin yang memenuhi syarat di seluruh dunia terus disuarakan.

    Salah satu alasan perusahaan farmasi mendapatkan keuntungan yang sangat besar adalah regulasi hak kekayaan intelektual yang membatasi akses produksi ke banyak perusahaan. “Alih-alih menciptakan jutawan baru, kita memerlukan jutaan vaksin untuk negara berkembang," tutu Anna.

    Baca juga: India Berharap Dapat Porsi Terbesar Surplus Vaksin COVID-19 Amerika


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.