Dinyatakan Joe Biden Sebagai Genosida, Ini 5 Fakta Pembantaian Armenia 1915

Sejumlah sukarelawan Armenia memegang replika senjata saat mengikuti latihan menembak di tengah konflik perang dengan Azerbaijan di Yerevan, Armenia, 27 Oktober 2020. Latihan menembak ini diikuti oleh puluhan warga baik pria dan wanita. REUTERS/Gleb Garanich

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Joe Biden membuat pernyataan bersejarah dengan mengakui pembantaian Armenia di Kekaisaran Ottoman pada 1915 sebagai genosida. Selama ini, Amerika selalui menghindari segala kemungkinan mengakui peristiwa tersebut untuk menjaga hubungan baik dengan Turki.

Berbaga pihak tidak kaget dengan keputusan Biden tersebut. Mereka menyebut memburuknya hubungan Amerika - Turki sebagai pemicu deklarasi Joe Biden. Namun, ada juga yang mengatakan Joe Biden telah berjanji di tahun 2020 bahwa akan ada pengakuan peristiwa 1915 sebagai genosida.

Berikut beberapa fakta soal peristiwa pembantaian yang menewaskan jutaan orang tersebut, termasuk hubungan dengan Amerika, dikumpulkan Tempo dari berbagai sumber:

1. Diawali Kekhawatiran Armenia Mendukung Rusia
Peristiwa pembantaian Armenia di tahun 1915 berkaitan erat dengan Perang Dunia I. Dalam perang itu Turki Ottoman, yang berada di pihak Jerman dan Kerajaan Austro-Hungarian, khawatir Armenia akan mendukung pihak lawan yakni Rusia. Rusia, pada saat itu, diketahui mengincar Konstantinopel (sekarang Istanbul) yang memegang akses atas laut hitam.

Khawatir warga Armenia yang tinggal di Ottoman akan benar-benar mendukung Rusia, kekaisaran mencap mereka sebagai ancaman nasional. Tak lama setelah itu, pembantaian dimulai dengan jumlah korban mencapai jutaan. Beberapa di antaranya tewas karena kelaparan atau kehausan ketika deportasi besar-besaran dilakukan terhadap warga Armenia di Anatolia.

Presiden Turki Tayyip Erdogan berpidato di depan anggota Partai AK yang berkuasa selama pertemuan di parlemen di Ankara, Turki, 23 Desember 2020. [Kantor Pers Kepresidenan / Selebaran melalui REUTERS]

2. Turki Membantah Genosida
Republik Turki, berdiri di tahun 1923 setelah kekaisaran Ottoman runtuh, tidak mengakui telah terjadi genosida sistemik terhadap Armenai. Mereka mengklaim matinya warga dipicu konlik antar etnis antara Turki Ottoman dan Armenia di saat Kekaisaran Ottoman mulai runtuh. Pernyataan Turki itu diamini sekutunya sekaligus musuh Armenia, Azerbaijan

3. Kesepakatan Damai Sempat Diteken
Untuk mengubur permusahan lama, Turki dan Armenia sepakat untuk meneken rekonsiliasi di tahun 2009. Salah satu wujud rekonsiliasi, kedua negara sepakat membentuk dewan pakar internasional yang akan meneliti pembantaian di tahun 1915. Selain itu, hubungan diplomatik dan pembukaan perbatasan juga dilakukan.

Damai tak berlangsung lama. Armenia dan Turki saling tuduh dewan yang dibentuk berupaya menulis ulang sejarah sesuai narasi masing-masing. Dalam hitungan bulan, kesepakatan damai itu bubar jalan dan baru diakui secara formal berakhir tahun 2018.

Presiden AS Joe Biden berbicara tentang sektor lapangan pekerjaan dan ekonomi di Gedung Putih di Washington, AS, 7 April 2021. [REUTERS / Kevin Lamarque]

4. Ada 2 Juta Keturunan Armenia di Amerika
Presiden Amerika Joe Biden berjanji di masa Pilpres Amerika 2020 bahwa ia akan mengakui pembantaian di tahun 1915 sebagai genosida. Sebelum itu, hanya Ronald Reagan yang mengakui peristiwa tersebut sebagai genosida.

Kurang lebih ada 2 juta warga Amerika yang keturunan Armenia. Mayoritas tumbuh dengan cerita soal pembantaian tersebut. Adapun populasi keturunan Armenia terbesar berada di Glendale, California yang mewakili 40 persen dari 200 ribu total penduduknya.

5. Pengakuan Dimulai Sejak 2019
Tahun 2019, Senat Amerika secara mufakat meloloskan resolusi yang mengakui pembantaian Armenia 1915 sebagai genosida. Wakil Presiden Kamala Harris, saat itu senator California, mendukung resolusi itu dan menjadi jembatan terhadap komunitas Amerika-Armenia.

Turki mencoba melobi Amerika untuk mencabut resolusi itu, tetapi gagal. Saat itu, hubungan dengan Turki sudah mulai memburuk karena serangan Turki di Suriah serta pembelian sistem pertahanan udara buatan Rusia. Donald Trump, pendahulu Joe Biden, bahkan memberi sanksi.

Baca juga: Usai Dikritik, Joe Biden Akan Tambah Jumlah Pengungsi yang Diizinkan ke AS

ISTMAN MP | REUTERS | CNN






Samuel Eto'o Terlibat Pertengkaran di Piala Dunia 2022

6 jam lalu

Samuel Eto'o Terlibat Pertengkaran di Piala Dunia 2022

Mantan striker Kamerun Samuel Eto'o bentrok dengan seorang pria yang memegang kamera video.


Hubungan Bilateral Sangat Erat, Dubes AS: Joe Biden Berkomitmen Bantu Transportasi Rendah Emisi di RI

6 jam lalu

Hubungan Bilateral Sangat Erat, Dubes AS: Joe Biden Berkomitmen Bantu Transportasi Rendah Emisi di RI

"Presiden Joe Biden berkomitmen membantu meningkatkan transportasi rendah emisi di Indonesia," kata Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia.


Pendanaan JETP Rp 310 Triliun Ditindaklanjuti pada 2023, Airlangga: Terima Kasih Amerika dan G7

10 jam lalu

Pendanaan JETP Rp 310 Triliun Ditindaklanjuti pada 2023, Airlangga: Terima Kasih Amerika dan G7

Airlangga Hartarto memastikan pemerintah Indonesia akan menindaklanjuti komitmen pendanaan JETP dan proyek infrastruktur infrastruktur hasil KTT G20.


Pembantaian Pisang, Ribuan Buruh Dibunuh Karena Disebut Komunis

14 jam lalu

Pembantaian Pisang, Ribuan Buruh Dibunuh Karena Disebut Komunis

Ribuan orang dibantai secara massal di Kolombia pada 5-6 Desember 1928. Peristiwa ini disebut Pembantaian Pisang.


Elon Musk Jawab Isu Soal Bunuh Diri Usai Beberkan Bisnis Anak Biden di Ukraina

1 hari lalu

Elon Musk Jawab Isu Soal Bunuh Diri Usai Beberkan Bisnis Anak Biden di Ukraina

Elon Musk menyangkal kabar upaya bunuh diri di tengah pertanyaan mengenai kesehatan mentalnya yang membeberkan dugaan intervensi di pemilu AS.


KontraS Soroti Pasal Pelanggaran HAM Berat di RKUHP

2 hari lalu

KontraS Soroti Pasal Pelanggaran HAM Berat di RKUHP

KontraS menilai pasal pelanggaran HAM berat di RKUHP justru mendegradasi kekhususan tindak pidana kemanusiaan yang berat.


Formula 1 Cina 2023 Dibatalkan Lagi, Apa Penyebabnya?

3 hari lalu

Formula 1 Cina 2023 Dibatalkan Lagi, Apa Penyebabnya?

Grand Prix Formula 1 Cina dipastikan tidak akan masuk dalam agenda F1 2023. Apa penyebabnya? Simak selengkapnya di artikel ini!


Biden Tak Mau Bertemu Putin, Tapi Siap Berdialog Demi Ukraina

3 hari lalu

Biden Tak Mau Bertemu Putin, Tapi Siap Berdialog Demi Ukraina

Gedung Putih menyatakan Biden belum berencana bertemu dengan Putin sekarang, namun AS maupun Rusia bersedia berdialog dengan sejumlah syarat.


Kanye West Puji Hitler, dari Biden sampai Twitter dan Adidas Mengutuknya

3 hari lalu

Kanye West Puji Hitler, dari Biden sampai Twitter dan Adidas Mengutuknya

Presiden Amerika Serikat Joe Biden memberikan perhatian mengenai masalah anti-semit setelah heboh pernyataan Kanye West memuji Pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler.


Fitur Emergency SOS via Satellite iPhone 14 Selamatkan Pria di Alaska

3 hari lalu

Fitur Emergency SOS via Satellite iPhone 14 Selamatkan Pria di Alaska

Aktivasi fitur Emergency SOS via Satellite milik Apple ini diharapkan meluas ke Prancis, Jerman, Irlandia dan Inggris pada Desember ini.