Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson Bisa Digunakan Lagi di Amerika

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Botol dan jarum suntik terlihat di depan logo Johnson & Johnson yang ditampilkan dalam ilustrasi yang diambil pada 11 Januari 2021. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    Botol dan jarum suntik terlihat di depan logo Johnson & Johnson yang ditampilkan dalam ilustrasi yang diambil pada 11 Januari 2021. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Regulator bidang kesehatan di Amerika Serikat pada Jumat, 23 April 2021 mengungkap Washington bisa melanjutkan kembali penggunaan vaksin virus corona Johnson & Johnson. Saran itu disampaikan untuk mengakhiri 10 hari penghentian sementara penggunaan vaksin Johnson & Johnson.

    Penggunaan vaksin Covid-19 Johnson & Johnson dihentikan sementara penggunaannya menyusul dilakukannya investigasi mengenai dugaan keterkaitan vaksin itu dengan kondisi yang jarang terjadi, yakni pembekuan darah yang bisa berakibat kematian.

    Petugas medis membawa pasien positif virus corona atau COVID-19 menuju ambulans diNew York City, 24 Maret 2020. Amerika Seikat menjadi negara dengan kasus positif tertinggi di dunia. REUTERS/Stefan Jeremiah

    Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC) serta Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika, risiko-risiko yang mungkin muncul seperti pembekuan darah dan jumlah trombosit rendah, masih sangat sedikit. Mereka baru menemukan 5 kasus dalam 8 juta suntikan yang diberikan.

    “Kami tidak lagi merekomendasikan penghentian sementara penggunaan vaksin ini. Berdasarkan analisa mendalam, tampaknya ada sebuah keterkaitan, namun risikonya masih sangat rendah,” kata Direktur CDC Rochelle Walensky.      

    Pejabat di Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika juga mengatakan keputusan untuk kembali menggunakan vaksin virus corona Johnson & Johnson harus diputuskan segera. Rencananya Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika akan memberikan peringatan risiko bahaya vaksin ini, yang kemudian dibagikan ke penerima vaksin dan penyedia vaksin tersebut.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika mengambil keputusan itu setelah dilakukan sebuah rapat dengan sejumlah penasehat CDC, yang merekomendasikan penghentian penggunaan vaksin virus corona Johnson & Johnson segera dihentikan.      

    Dalam sebuah analisis yang dipaparkan dalam pertemuan itu, CDC mengatakan kasus-kasus yang mereka temukan jumlahnya sekitar 7-per-1 juta dosis yang diberikan pada perempuan usia di bawah 50 tahun. Risiko tertinggi muncul dikalangan perempuan usia 30 tahun - 39 tahun.

    Untuk perempuan usia di atas 50 tahun dan laki-laki semua kalangan usia, kasus pembekuan darah yang terjadi sekitar 1-per-1 juta dosis vaksin Covid-19 Johnson & Johnson. Secara resmi, ada tiga kematian dalam hal ini.

    Baca juga: Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Kembali Didistribusikan di Eropa

    Sumber: Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.