WHO Kemungkinan Keluarkan Sertifikat Untuk Vaksin Sinovac Pada 3 Mei

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara berjaga di samping kontainer bermuatan bahan baku vaksin Covid-19 Sinovac setiba di PT Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, 25 Maret 2021. Sebanyak 16 juta dosis kembali diterima PT Bio Farma dengan demikian total bulk vaksin Sinovac yang diterima Indonesia mencapai 53,5 juta vaksin atau setara 43 juta dosis produk jadi. Total vaksin Covid-19 (vaksin butan CoronaVac, buatan Bio Farma, dan buatan AstraZeneca) yang tersedia di Indonesia saat ini sebanyak 47,1 juta dosis. TEMPO/Prima Mulia

    Tentara berjaga di samping kontainer bermuatan bahan baku vaksin Covid-19 Sinovac setiba di PT Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, 25 Maret 2021. Sebanyak 16 juta dosis kembali diterima PT Bio Farma dengan demikian total bulk vaksin Sinovac yang diterima Indonesia mencapai 53,5 juta vaksin atau setara 43 juta dosis produk jadi. Total vaksin Covid-19 (vaksin butan CoronaVac, buatan Bio Farma, dan buatan AstraZeneca) yang tersedia di Indonesia saat ini sebanyak 47,1 juta dosis. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, - Pakar teknis di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan meninjau vaksin COVID-19 dari pembuat obat Cina, Sinopharm, pada 26 April. Hal ini kemungkinan akan diikuti dengan menerbitkan daftar penggunaan darurat (Emergency Use of Listing/EUL) vaksin Sinovac (SVA.O) pada 3 Mei, kata badan itu pada Kamis.

    "Kami mengharapkan keputusan beberapa hari kemudian," kata WHO dikutip dari Reuters, Kamis, 22 April 2021.

    Sejauh vaksin Covid-19 yang telah mendapatkan EUL dari WHO adalah buatan Pfizer (PFE.N), AstraZeneca (AZN.L), dan Johnson & Johnson (JNJ.N). Pemberian EUL  memberi vaksin-vaksin ini dukungan dari keamanan dan kemanjuran mereka sehingga membantu negara-negara yang ingin menggunakannya.

    Hal ini sempat diutarakan pula oleh Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Indonesia, Wiku Adisasmito. Ia mengatakan mengatakan EUL vaksin Sinovac dari WHO akan dikeluarkan pada Mei 2021.

    "EUL diberikan sebagai prasyarat pasokan vaksin COVAX yang menjadi vaksin subsidi WHO ke berbagai negara di dunia," kata Wiku Adisasmito dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 16 April 2021.

    Wiku mengatakan, EUL juga sebagai prasyarat untuk membantu suatu negara dalam memutuskan kelayakan penggunaan, produksi atau impor vaksin dan selanjutnya untuk memutuskan Emergency Use of Authorization atau EUA. "Izin EUA secara spesifik hanya untuk izin edar terbatas pada suatu negara," ujarnya.

    Kesamaan pertimbangan tersebut diantaranya, diperuntukkan bagi penyakit yang serius dan mematikan serta memiliki peluang menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat. Kemudian, belum ada produk farmasi sebelumnya yang mampu menghilangkan dan mencegah wabah. Juga tahapan produksi dilakukan berdasarkan kaidah ilmiah dengan standar yang berlaku seperti good clinical practice, proof concept, good laboratory practice serta good manufacturing practices.

    Perbedaan dua izin tersebut ada pada badan otorita yang mengeluarkannya. EUL dikeluarkan WHO, sementara EUA dikeluarkan orotitas dalam negeri seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan.

    Baca juga: WHO Pede Pandemi COVID-19 Bisa Terkendali Dalam Hitungan Bulan

    Sumber: REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perkiraan Ukuran Tubuh Megalodon, Pemangsa Zaman Purba

    Setelah berbagai macam penelitian yang dilakukan para ahli, akhirnya mereka bisa menyimpulkan perkiraan ukuran tubuh Megalodon, sang hiu purba.