Konflik Dengan Rusia Memanas, Ukraina Teken Aturan Pemakaian Serdadu Cadangan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan prajurit berjalan di parit dekat garis depan dengan separatis yang didukung Rusia di Krasnohorivka di Wilayah Donetsk, Ukraina 7 Agustus 2020. REUTERS/Gleb Garanich

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan prajurit berjalan di parit dekat garis depan dengan separatis yang didukung Rusia di Krasnohorivka di Wilayah Donetsk, Ukraina 7 Agustus 2020. REUTERS/Gleb Garanich

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memandang serius konflik dengan Rusia, menganggapnya bisa berkembang menjadi perang sewaktu-waktu. Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia telah menekan regulasi baru untuk mempermudah penggunaan serdadu cadangan dalam situasi darurat. Sebelumnya, penggunaan serdadu cadangan harus diawali dengan pengumuman mobilisasi.

    "Regulasi ini akan mempermudah penguatan unit militer manapun dengan serdadu cadangan. Hal itu akan memperkuat efektivitas mereka saat agresi militer," ujar Kantor Kepresidenan Ukraina dalam keterangan persnya, Rabu, 21 April 2021.

    Regulasi itu sesungguhnya sudah disetujui oleh Parlemen Ukrainan pada Maret lalu. Namun, Zelensky baru menandatanganinya April ini usai melihat ketegangan dengan Rusia di perbatasan timur Ukraina dan Krimea meningjkat.

    Seperti diberitakan sebelumnya, konflik antara Ukraina dan Rusia memanas beberapa hari terakhir. Pemicunya adalah aksi konsentrasi militer Rusia di kawasan perbatasan timur Ukraina serta Krimea. Di kedua lokasi, Rusia menerjunkan total 80 ribu personil militernya, lengkap dengan perlengkapan dan alutsista.

    Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina ke-130 mengukuti latihan militer di pinggiran Kyiv, Ukraina pada 10 April 2021. REUTERS/Valentyn Ogirenko.

    Ukraina menganggap aksi Rusia tersebut sebagai ajakan berperang. Sebab, tak jauh dari lokasi konsentrasi militer berdiri kawasan Donbass. Donbass adalah wilayah di mana kelompok separatis pro-Kremlin berperang dengan militer Ukraina.

    Menurut Ukraina, Rusia berniat membantu kelompok separatis tersebut dan mengklaim Donbass sebagai wilayahnya. Jika itu rencananya, maka insiden Krimea di tahun 2014 terulang. Di tahun tersebut, Rusia mencaplok Krimea sebagai bagiannya. Adapun Rusia sudah membantah tuduhan itu walau tak menyangkal bakal bereaksi keras jika terjadi apa-apa terhadap kelompok separatis di Donbass.

    Atas situasi tersebut, Ukraina sudah meminta Rusia untuk segera menarik pasukannya dari perbatasan timur Ukraina dan Krimea. Rusia bergeming, menolak permintaan itu dengan pembelaan mereka memiliki hak untuk melakukan konsentrasi militer. Ukraina kemudian meresponnya dengan meminta NATO untuk memasukkannya ke dalam keanggotaan dan meminta Uni Eropa menjatuhkan sanksi ke Rusia.

    Bahkan, Selasa kemarin, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menantang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menemuinya di Donbass. Zelensky ingin negosiasi damai digelar di sana jika Putin tak ingin perang terjadi. "Apakah Ukraina menginginkan perang? Tidak. Apakah Ukraina siap berperang? Jawabannya ya," ujar Zelenskiy.

    Baca juga: Presiden Ukraina Ajak Vladimir Putin Bertemu di Medan Perang Donbass

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.