Presiden Ukraina Ajak Vladimir Putin Bertemu di Medan Perang Donbass

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan prajurit berjalan di dekat garis depan dengan separatis yang didukung Rusia di Zalizne di Wilayah Donetsk, Ukraina, 6 Agustus 2020. REUTERS/Gleb Garanich

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan prajurit berjalan di dekat garis depan dengan separatis yang didukung Rusia di Zalizne di Wilayah Donetsk, Ukraina, 6 Agustus 2020. REUTERS/Gleb Garanich

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menantang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menemuinya di daerah konflik Donbass. Dikutip dari kantor berita Reuters, Zelensky ingin pembicaraan soal damai di perbatasan Ukraina dan Krimea dibahas di kawasan konflik tersebut. Tidak berhenti di situ, Zelensky juga meminta para sekutunya untuk melempar sinyal bahwa mereka siap mendukung Ukraina dalam konfliknya dengan Rusia.

    "Putin, saya bersedia untuk selangkah lebih jauh dengan mengundangmu untuk bertemu di Donbass di mana perang terjadi," ujar Zelensky, Selasa waktu setempat, 20 April 2021.

    Seperti diberitakan sebelumnya, konflik antara Ukraina dan Rusia memanas beberapa hari terakhir. Pemicunya adalah aksi Rusia melakukan konsentrasi militer di kawasan perbatasan timur Ukraina serta Krimea. Di kedua lokasi, Rusia menerjunkan total 80 ribu personil militernya, lengkap dengan perlengkapan dan alutsista.

    Ukraina menganggap aksi Rusia tersebut sebagai ajakan berperang. Sebab, tak jauh dari lokasi konsentrasi militer dilakukan berdiri kawasan Donbass. Donbass adalah wilayah di mana kelompok separatis pro-Kremlin berperang dengan militer Ukraina.

    Pada pemilu 2018 untuk periode jabatan presiden 2018-2024 Putin kembali mencalonkan diri, Putin meraih sekitar 75 persen suara, yang menjadi tiket untuknya menjabat sebagai presiden satu periode lagi. Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin via REUTERS

    Menurut Ukraina, Rusia berniat membantu kelompok separatis tersebut dan mengklaim Donbass sebagai wilayahnya. Jika itu rencananya, maka insiden Krimea di tahun 2014 terulang. Di tahun tersebut, Rusia mencaplok Krimea sebagai bagiannya. Adapun Rusia sudah membantah tuduhan itu walau tak menyangkal bakal bereaksi keras jika terjadi apa-apa terhadap kelompok separatis di Donbass.

    Atas situasi tersebut, Ukraina sudah meminta Rusia untuk segera menarik pasukannya dari perbatasan timur Ukraina dan Krimea. Rusia bergeming, menolak permintaan itu dengan pembelaan mereka memiliki hak untuk melakukan konsentrasi militer. Ukraina kemudian meresponnya dengan meminta NATO untuk memasukkannya ke dalam keanggotaan dan meminta Uni Eropa menjatuhkan sanksi ke Rusia.

    "Penduduk kami perlu mendapat sinyal jelas bahwa negeri ini tidak hanya sekedar tameng, tetapi juga dipandang sebagai rekan, sebagai bagian dari tim (Uni Eropa), sejajar."

    "Apakah Ukraina menginginkan perang? Tidak. Apakah Ukraina siap berperang? Jawabannya ya," ujar Zelensky.

    Presiden Rusia Vladimir Putin belum merespon permintaan Presiden Rusia Volodymyr Zelensky. Walau begitu, Rusia sudah mendapat sanksi besar dari Amerika pada pekan lalu, salah satunya terkait situasi di perbatasan timur Ukraina. Bentuk sanksi beragam mulai dari sanksi ekonomi hingga pengusiran diplomat Rusia dari Amerika. 

    Baca juga: Ukraina Cemas 120 Ribu Tentara Rusia Bakal Dikerahkan ke Perbatasan

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H