Dapat Banyak Sanksi Baru, Rusia Minta Dubes Amerika Menghadap

Pada pemilu 2018 untuk periode jabatan presiden 2018-2024 Putin kembali mencalonkan diri, Putin meraih sekitar 75 persen suara, yang menjadi tiket untuknya menjabat sebagai presiden satu periode lagi. Sputnik/Alexei Druzhinin/Kremlin via REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Rusia merespon keras pemberian sanksi baru oleh Amerika terkait sejumlah isu. Dikutip dari Channel News Asia, mereka meminta Duta Besar Amerika untuk Rusia, John Sullivan, menghadap ke Kremlin dan menjelaskan keputusan tersebut. Adapun juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan balasan terhadap sanksi-sanksi dari Amerika tak terhindarkan.

"Kami sudah berkali-kali memperingatkan Amerika perihal konsekuensi atas langkah-langkahnya yang memicu permusuhan. Apa yang mereka lakukan meningkatkan kemungkinan konfrontasi antar kedua negara," ujar Zakharova, menyindir pernyataan Presiden Joe Biden yang menginginkan hubungan Amerika - Rusia yang stabil dan terkendali, Kamis, 15 April 2021.

Zakharova tidak menjelaskan bakal seperti apa respon dari Rusia atas sanksi-sanksi Amerika. Ia hanya menyatakan respon yang ada bakal menyulitkan Amerika. Ia pun menyebut pembicaraan dengan Dubes Amerika nanti tidak akan berjalan mudah untuk Negeri Paman Sam.

"Washington harus sadar bahwa mereka harus bertanggung jawab atas menurunnya hubungan bilateral Amerika-Rusia. Hal itu sepenuhnya ada di tangan Amerika," ujar Zakharova kembali menegaskan.

Diberitakan sebelumnya, Amerika mengeluarkan sejumlah sanksi baru untuk Rusia terkait sejumlah isu. Hal itu mulai dari soal intervensi Pilpres Amerika, okupasi Krimea, hingga peretasan perusahaan teknologi Amerika SolarWinds. Amerika menyebut Rusia memiliki niatan jahat di balik aksi-aksi tersebut.

Orang-orang terlihat di tempat pemungutan suara awal secara langsung untuk pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) di Fairfax, Negara Bagian Virginia, AS, pada 18 September 2020. (Xinhua/Liu Jie)

Sanksi yang diberikan Amerika beragam. Soal intervensi Pilpres Amerika, misalnya, Kementerian Keuangan memasukkan 32 entitas dan individu ke dalam daftar hitam, menghilangkan kemampuan mereka untuk melakukan transaksi ekonomi di Negeri Paman Sam.

Contoh lain, Amerika mengusir 10 diplomat Rusia, termasuk pejabat intelijen, yang berbasis di Washington DC dan New York. Mereka diberi waktu 30 hari untuk meninggalkan Amerika. Menurut seorang pejabat Pemerintah Amerikam yang enggan disebutkan namanya, kesepuluhnya melakukan hal yang inkonsisten dengan tugas serta fungsi mereka.

Hubungan Rusia dan Amerika memang sudah lama memburuk. Salah satu titik krusialnya terjadi di tahun 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina. Amerika, seperti diberitakan selama ini, menyokong Ukraina.

Tahun ini, isu Ukraina dan Krimea kembali memanas. Rusia tiba-tiba mengerahkan 80 ribu pasukannya ke perbatas timur Ukraina dan Krimea. Amerika mengendus konsentrasi militer itu sebagai niatan berperang mengingat kelompok separatis pro-Kremlin masih aktif di sana. Rusia membantah tuduhan itu, namun tidak menyangkal bakal bereaksi keras jika terjadi sesuatu terhadap kelompok separatis mereka.

Baca juga: Respon Konsentrasi Militer di Ukraina, Amerika Hujani Rusia dengan Sanksi Baru

ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA






Kepala Keamanan Presiden Uruguay Ditangkap, Bantu Warga Rusia Ilegal

22 menit lalu

Kepala Keamanan Presiden Uruguay Ditangkap, Bantu Warga Rusia Ilegal

Kepolisian Uruguay menangkap kepala keamanan pribadi presiden Luis Lacalle Pou karena membantu warga Rusia masuk secara ilegal


Diplomatnya Diusir Rusia, Jepang Protes Keras dan Siapkan Pembalasan

1 jam lalu

Diplomatnya Diusir Rusia, Jepang Protes Keras dan Siapkan Pembalasan

Tokyo mengajukan protes keras dan akan melakukan pembalasan karena diplomatnya diusir Rusia karena dianggap mata-mata


Diduga Mata-mata, Konjen Jepang di Vladivostok Diusir Rusia

2 jam lalu

Diduga Mata-mata, Konjen Jepang di Vladivostok Diusir Rusia

Pemerintah Rusia mengusir Konjen Jepang di Vladivostok, Motoki Tatsunori atas tuduhan spionase


Putin Beri Kewarganegaraan Rusia pada Edward Snowden

3 jam lalu

Putin Beri Kewarganegaraan Rusia pada Edward Snowden

Putin, mantan kepala mata-mata Rusia, mengatakan pada 2017 bahwa Edward Snowden salah karena membocorkan rahasia AS


Pipa Gas Rusia Nord Stream 2 Bocor di Baltik

3 jam lalu

Pipa Gas Rusia Nord Stream 2 Bocor di Baltik

Pemerintah Denmark meminta kapal menghindari radius lima mil laut dari pulau Bornholm setelah terjadi kebocoran gas dari pipa Nord Stream 2 Rusia


Pidato di Sidang Umum PBB, Retno Marsudi Menyerukan Kerja Sama Global

3 jam lalu

Pidato di Sidang Umum PBB, Retno Marsudi Menyerukan Kerja Sama Global

Mewakili Presiden Joko Widodo di Sidang Umum PBB, Menlu Retno menyoroti perlunya kerja sama global di tengah ketegangan geopolitik dan ancaman krisis ekonomi.


Volodymyr Zelensky Percaya Putin Serius soal Senjata Nuklir

4 jam lalu

Volodymyr Zelensky Percaya Putin Serius soal Senjata Nuklir

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meyakini bahwa Presiden Vladimir Putin bersungguh-sungguh mengenai penggunaan senjata nuklir dalam perang Ukraina untuk membela Rusia.


Minyak Rusia Diprediksi Beralih ke Asia dan Timur Tengah

5 jam lalu

Minyak Rusia Diprediksi Beralih ke Asia dan Timur Tengah

Perang Rusia-Ukraina telah membuat keamanan energi menjadi masalah utama bagi pemerintah saat mereka bergulat dengan inflasi serta larangan minyak Rusia ke Eropa.


Top 3 Dunia: Unjuk Rasa Menolak Mobilisasi Militer Rusia ke Ukraina

6 jam lalu

Top 3 Dunia: Unjuk Rasa Menolak Mobilisasi Militer Rusia ke Ukraina

Top 3 dunia pada 26 September 2022, di antaranya mobilisasi militer Rusia ke Ukraina yang mendapat penolakan dari warganya sendiri.


Lagi, Volodymyr Zelensky Klaim Ukraina Menangi Pertempuran

17 jam lalu

Lagi, Volodymyr Zelensky Klaim Ukraina Menangi Pertempuran

Volodymyr Zelensky mencatat pertempuran sengit dengan Rusia masih terjadi di garis depan dengan total panjang lebih dari 2 ribu kilometer.