Akanksha Arora Deklarasikan Diri Maju di Pemilihan Sekjen PBB

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akanksha Arora mendeklarasikan diri bakal maju di pemilihan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Foto: Instagram

    Akanksha Arora mendeklarasikan diri bakal maju di pemilihan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Foto: Instagram

    TEMPO.CO, - Akanksha Arora, seorang wanita 34 tahun, mendeklarasikan diri bakal maju di pemilihan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jika sukses ia akan menjadi wanita pertama dan termuda yang memimpin organisasi itu.

    Arora mengatakan keinginannya menjadi pemimpin PBB karena merasa organisasi itu mengecewakan banyak orang yang seharusnya mendapat bantuan. Satu-satunya cara untuk mengubahnya, menurut dia, dengan menduduki kursi pimpinan.

    “Musuh terbesar PBB adalah ketidakmampuannya sendiri untuk menyampaikan. Pengambilan keputusan bukanlah masalahnya. Implementasinya yang gagal," katanya dikutip dari Aljazeera, Rabu, 14 April 2021.

    Namun Arora harus berjuang keras untuk bisa menjadi Sekjen PBB. Pasalnya dia tidak memiliki pengalaman diplomatik. Ia baru bergabung dengan PBB pada 2016 sebagai auditor.

    Hal ini dapat menggangu dia untuk menggalang dukungan dari negara-negara anggota demi menjadi Sekjen PBB. Sebagai perbandingan, saat ini Sekjen PBB dijabat oleh Antonio Guterres yang berusia 71 tahun dan memiliki segudang pengalaman diplomatik.

    Arora mengakui kekurangannya ini. Dia percaya diplomasi tidak dipelajari dan dikuasai di ruang konferensi dan pertemuan politik saja.

    Bila terpilih, Arora menjadikan krisis pengungsi sebagai prioritas utamanya. "Saya membayangkan PBB menjadi penjaga bagi para pengungsi," ucap dia.

    Menurut badan pengungsi PBB, UNHCR, setidaknya 79,5 juta orang di seluruh dunia terpaksa meninggalkan rumah mereka. Di antara mereka ada hampir 46 juta pengungsi dan hampir 26 juta orang berusia di bawah 18 tahun.

    “PBB memiliki tanggung jawab untuk memprioritaskan diskusi seputar pengungsi. Dan untuk menekankan bahwa kita tidak dapat membiarkan para pengungsi ini tinggal di kamp selama satu dekade. Itu penguncian 10 tahun," tuturnya.

    PBB tidak pernah memilih sekretaris jenderal wanita. Dalam pemilu terakhir lima tahun lalu, tujuh dari 13 kandidat yang dicalonkan adalah perempuan.

    Arora merasa ini saatnya kaum hawa menunjukkan kepada dunia apa yang dapat dicapai oleh kepemimpinan perempuan. “Kami terlambat 75 tahun untuk memiliki ketua perempuan. Pencalonan ini bukan hanya ujian kemampuan saya tapi juga bagi PBB. Apakah mereka benar-benar percaya pada kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan," katanya.

    Baca juga: Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Mau Bujuk Jenderal Junta untuk Selesaikan Krisis

    Sumber: ALJAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.