Iran Tingkatkan Pengayaan Nuklir ke 60 Persen Karena Insiden Natanz

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara selama konferensi pers di Teheran, Iran 14 Desember 2020. [Situs web resmi Kepresidenan Iran/REUTERS]

    Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara selama konferensi pers di Teheran, Iran 14 Desember 2020. [Situs web resmi Kepresidenan Iran/REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Iran membalas insiden jaringan energi di situs nuklir Natanz dengan meningkatkan pengayaan uranium di sana. Dikutip dari kantor berita Reuters, Iran meningkatkan pengayaan hingga ke angka 60 persen. Walau begitu, Presiden Iran Hassan Rouhani kembali menegaskan bahwa pengayaan tersebut tidak dilakukan untuk kepentingan militer, apalagi membentuk senjata pemusnah massal seperti nuklir.

    "Respon kami dalam merespon kejahatan pekan lalu adalah dengan mengganti mesin pengaya uranium (sentrifugal) yang rusak dengan versi lebih canggih serta meningkatkan pengayaan di Natanz hingga 60 persen," ujar Hassan Rouhani, Rabu, 14 April 2021.

    Seperti diberitakan sebelumnya, situs pengayaan uranium Natanz mengalami gangguan energi selama beberapa jam pada Ahad kemarin. Padahal, saat itu, Iran baru saja mengaktifkan mesin sentrifugal atau pengaya uranium baru yang diperkenalkan di hari Sabtu.

    Gangguan energi listrik tersebut tidak menimbulkan korban atau kebocoran terhadap fasilitas nuklir yang berada di provinsi Ishafan itu. Walau begitu, beberapa mesin mengalami kerusakan dan harus diganti dengan mesin baru. Di saat bersamaan, investigasi dilakukan untuk mencari siapa dalangnya.

    Pemandangan fasilitas pengayaan uranium Natanz 250 km di selatan ibu kota Iran, Teheran, 30 Maret 2005. [REUTERS / Raheb Homavandi]

    Rouhani melanjutkan, dirinya masih menunggu laporan akhir investigasi insiden jaringan energi di Natanz. Ia menyakini insiden tersebut adalah sebuah sabotase atau terorisme nuklir yang dilakukan oleh Israel meski belum ada bukti kuat yang mendukungnya.

    "Tentu saya masih menunggu laporan akhir dari tim keamanan dan intelijen, namun ini adalah kejahatan dari Zionis (Israel). Jika Zionis mencoba melawan kami, kami akan membalasnya," klaim Rouhani.

    Sebagai catatan, Israel beberapa kali menentang pengayaan uranium di situs nuklir Iran. Di sisi lain, mereka juga menentang upaya Amerika untuk kembali membawa Iran ke Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA) yang tujuannya untuk membatasi pengayaan uranium di Iran. Menurut Israel, lebih baik Amerika memperkuat sanksi kepada Iran.

    Perihal insiden di Natanz, Israel belum memberikan komentar apapun. Sementara itu, Agensi Energi Atom Internasional, yang merupakan badan pengawas bentukan PBB, menyatakan telah menerima laporan dari Iran dan ikut menindaklanjutinya.

    Sebelum insiden di Natanz terjadi, pengayaan uranium di sana sudah mencapai 20 persen. Angka itu jauh di atas batas yang ditetapkan pada Perjanjian Nuklir Iran, 3,67 persen. Jika Iran meningkatkan pengayaan hingga 60 persen, maka hal itu makin mendekati tingkatan yang dibutuhkan untuk pengembangan senjata nuklir.

    Baca juga: Iran Lagi-lagi Tuduh Israel Atas Insiden di Situs Nuklir Natanz

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.