Warga Indonesia Ikut Vaksinasi COVID-19 di Amerika, Ini Pengalamannya

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atikah Bagawan, mahasiswa asal Indonesia, saat disuntik vaksin Covid-19 di stadion Ford Field, Michigan, Amerika Serikat. (Sumber: Indri Maulidar)

    Atikah Bagawan, mahasiswa asal Indonesia, saat disuntik vaksin Covid-19 di stadion Ford Field, Michigan, Amerika Serikat. (Sumber: Indri Maulidar)

    TEMPO.CO, Jakarta – Program vaksin Covid-19 di Amerika Serikat terbuka untuk siapa saja tidak peduli status kewarganegaraan. Sejak dibuka untuk umum pada awal April lalu, puluhan orang Indonesia di Michigan sudah mengikuti kampanye vaksinasi COVID-19 yang berlangsung di sana.

    Salah satunya Atikah Bagawan, 27 tahun. Warga Indonesia asal Riau itu kuliah di Michigan State University. Sabtu pekan lalu, Ia mendapat undangan suntik vaksin COVID-19 di stadion football Ford Field di Detroit, Michigan. Karena sejatinya ia menetap di Lansing, maka berkendaralah ia ke Detroit yang memakan waktu kurang lebih satu jam. 

    Di Ford Field, semua hal yang berkaitan dengan vaksinasi COVID-19 sudah diatur rapi, bahkan termasuk soal urusan parkir. Setiap peserta vaksinasi yang membawa kendaraan diarahkan ke area parkir gratis yang sudah disiapkan. Dari sana, peserta kemudian harus berjalan kaki menembus suhu dingin Detroit, yang kala itu 16 derajat celcius, ke pintu masuk stadion. 

    Para sukarelawan atau petugas medis siaga di beberapa titik masuk. Mereka mengarah setiap peserta vaksinasi yang baru datang ke lokasi registrasi ulang dan tempat tunggu. Penjagaan malah tidak begitu ketat dengan hanya dua mobil polisi siaga di depan Ford Field. 

    “Jauh lebih sepi dari perkiraan saya. Mungkin karena masih pagi,” kata Atikah kepada Tempo, Sabtu, 10 April 2021.

    Stadiun Ford Field, Michigan, menjadi salah satu lokasi vaksinasi COVID-19 di Amerika yang membebaskan warga dengan status kewarganegaraan apapun untuk divaksin gratis (Sumber: Indri Maulidar)

    Proses masuknya berlapis. Pertama-tama, Atikah harus memperlihatkan dulu formulir registrasi di ponselnya kepada petugas yang ada. Setelah dikonfirmasi, baru kemudian Atikah bisa masuk lebih jauh. 

    Selang beberapa meter, Atikah sampai di titik pemeriksaan awal. Di situ suhunya dicek sebelum diloloskan ke ruang registrasi lanjutan. Di sana, seorang pekerja kemudian menyerahkan formulir registrasi yang berisi kolom nama, tanggal lahir, dan status kesehatan. 

    Untuk mengisi formulir itu, petugas mengarahkan Atikah ke area duduk di dekat area registrasi. Di sana, petugas meletakkan beberapa kursi yang sudah disusun dengan jarak masing-masing dua meter. Untuk memastikan semua lancar, personil Angkatan Udara Amerika, yang hadir mengenakan masker, diperbantukan menjadi petugas vaksinasi. 

    Selesai mengisi formular registrasi, ia pindah ke meja cek poin untuk menyerahkan formulir yang ada. Di sana, lagi-lagi identitas diperiksa untuk memastikan data yang ada akurat. Uniknya, apabila dibandingkan dengan pengalaman beberapa teman di Indonesia, petugas di Detroit menanyakan apakah peserta mau disuntik di lengan kanan atau kiri. Bagi Atikah, baik kanan maupun kiri sama saja, namun ia kemudian memilih kiri. 

    “Agak nervous nih," ujar Atikah.

    Atikah Bagawan, mahasiswa asal Indonesia, saat menunggu antrian vaksin Covid-19 di stadion Ford Field, Michigan, Amerika Serikat. (Sumber: Indri Maulidar)

    Setelah pengecekan data beres, petugas cek poin menyerahkan kartu tanda vaksin Center for Disease and Control Prevention. Atikah diminta mengisi nama dan tanggal lahirnya di situ dulu baru kemudian boleh ke bilik vaksin bertirai gelap untuk disuntik. Setidaknya ada sekitar 20 bilik di Ford Field dan Atikah kebagian bilik nomor 10 di mana petugas menunggu peserta.

    Tiba di bilik 10, petugas langsung menyambut Atika dan menanyakan kabarnya. Setelah itu, ia langsung menjelaskan prosedur suntik dan jenis vaksin. Atika mendapat produk Pfizer, salah satu vaksin COVID-19 buatan Amerika dengan tingkat efektivitas di atas 90 persen, tempat penyimpanan minus 70 derajat celcius. 

    Proses berlangsung amat cepat. Dalam hitungan detik, Atika sudah keluar dari bilik. Seperti proses suntik pada umumnya, Atika mengatakan rasanya seperti dicubit saja, tidak lebih. Namun, ia tidak boleh langsung meninggalkan area vaksinasi, harus menunggu 15 menit dulu di area observasi sebagai langkah jaga-jaga jika ada efek samping. 

    Karena tak merasa apa-apa, Atika diperbolehkan pulang setelah 15 menit berlalu. Sebagai perbandingan, beberapa tempat vaksin di Indonesia meminta peserta untuk menunggu dulu 30 menit. Seluruh proses, jika ditotal, hanya memakan waktu sekitar 40 menit.

    Atikah Bagawan, mahasiswa asal Indonesia, di are observasi 15 menit usai disuntik vaksin Covid-19 di stadion Ford Field, Michigan, Amerika Serikat (Sumber: Indri Maulidar)

    Vaksin massal di Michigan gratis dan diberikan kepada siapa saja, tidak pandang status kewarganegaraan, status imigrasi, kota tempat tinggal, atau kepemilikan asuransi. Selain di Ford Field, warga Michigan juga dapat memperoleh vaksin di klinik kesehatan seperti CVS, Walgreens, atau Kroger Pharmacy.

    Setidaknya 820 ribu kasus Covid-19 terdeteksi di Michigan. Detroit adalah kota yang paling parah terpapar virus Covid-19 di Michigan dengan sekitar 188 ribu kasus sejak pandemik. Demografi kota ini didominasi warga kulit hitam, warga keturunan Middle East, dan imigran lainnya.

    Baca juga: Menlu Amerika: Kami Tidak Akan Pakai Vaksin COVID-19 untuk Kepentingan Politik


    INDRI MAULIDAR (MICHIGAN)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.