Laki-laki di Cina Dihukum Mati karena Membunuh Penyandang Disabilitas

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. shutterstock.com

    Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah pengadilan di Cina memperkuat putusan hukuman sebelumnya yang menjatuhkan vonis mati kepada seorang terpidana laki-laki, yang dipublikasi hanya dengan nama keluarganya, Huang. Huang didakwa telah membunuh seorang penyandang disabilitas, 40 tahun, dan berniat menggunakan jenazahnya untuk menggantikan jenazah lain.

    Kasus pertukarang jenazah ini terjadi di Kota Lufeng, Provinsi Guangdong, Cina. Korban yang menderita down sindrom, pada 1 Maret 2017 diculik oleh Huang ketika dia sedang memunguti sampah di pinggir jalan seperti kebiasaannya setelah makan siang.

    Ketika korban tidak kunjung pulang sampai waktu makan malam, keluarga korban mulai waswas dan menghubungi polisi. Pembunuh korban baru tertangkap 2,5 tahun kemudian.

    Surat kabar Shandong Business Daily mewartakan berdasarkan hasil investigasi polisi yang dipublikasi pada November 2019. Diwartakan bahwa setelah Huang membujuk korban untuk masuk ke kendaraannya, korban dipaksa untuk minum minuman keras yang sudah dibelinya.

    Ketika korban mabuk dan tidak sadarkan diri, dia memasukkan korban dalam peti mati, lalu menguncinya. Dia lalu membawa jenazah korban dalam peti mati itu untuk ditukar dengan pembeli dua hari kemudian. Tidak diketahui saat pertukaran jenazah itu apakah korban masih hidup atau tidak.

    Di pengadilan terungkap bahwa Huang dijanjikan mendapatkan komisi yang besar jika dia bisa mendapatkan jenazah untuk ditukar, yang selanjutnya dikremasi. Bos Huang menginformasikan bahwa Huang ditawari uang sebesar 107 ribu yuan atau Rp 238 juta dari orang kaya yang abangnya meninggal karena kanker pada Februari 2017.  

    Masalah muncul saat almarhum berwasiat agar tubuhnya jangan dikremasi, melainkan dikubur saja. Namun pemerintah daerah melarang penguburan jenazah. Huang lalu menjalankan rencana demi uang.

    Tidak dijelaskan bagaimana kejahatan ini akhirnya terbongkar. 

    Pada September 2020, pengadilan memvonis Huang bersalah karena melakukan pembunuhan dengan motif membunuh korban untuk ditukar dengan jenazah almarhum, yang meninggal karena sakit kanker tersebut. Uang sebesar 90 ribu yuan (Rp 200 juta) yang dia terima, disita oleh negara.  

    Haung mengajukan banding atas hukuman mati yang diterimanya. Dia beralasan, tidak memaksa korban untuk minum alkohol. Namun korban meninggal karena penyakit setelah minum-minuman keras. Pengadilan banding dalam putusannya memperkuat putusan pengadilan tingkat pertama.

        

    Baca juga: Nurhadi dan Menantunya Divonis 6 Tahun Penjara

    Sumber: asiaone.com

         


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H