Petarung Cilik Muay Thai Ingin Kembali ke Ring Demi Nafkahi Keluarga

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi petinju cilik, Pornpattara Peachurai alias Tata Por Lasua saat melawan Jaruadfai Ufa Boom Deksean dalam pertandingan tinju di Provinsi Chachoengsao, Thailand, 26 Oktober 2021. Ada sekitar 300 ribu petinju di bawah usia 15 tahun, menurut Asosiasi Tinju Profesional Thailand. REUTERS/Athit Perawongmetha

    Aksi petinju cilik, Pornpattara Peachurai alias Tata Por Lasua saat melawan Jaruadfai Ufa Boom Deksean dalam pertandingan tinju di Provinsi Chachoengsao, Thailand, 26 Oktober 2021. Ada sekitar 300 ribu petinju di bawah usia 15 tahun, menurut Asosiasi Tinju Profesional Thailand. REUTERS/Athit Perawongmetha

    TEMPO.CO, Jakarta - Petinju Muay Thai berusia sembilan tahun kembali bertanding di ring demi menafkahi keluarganya meski risiko pandemi Covid-19 menghantui.

    Pornpattara "Tata" Peachaurai sangat ingin kembali naik ring setelah pembatasan virus corona menghentikan musim pertarungannya lebih dari lima bulan lalu. Uang yang dia hasilkan adalah penghasilan penting bagi keluarganya.

    "Semua uang dari tinju, pembayaran rutin dan tip, semuanya menjadi milik ibu," kata petarung muda itu, dikutip dari Reuters, 7 April 2021.

    "Saya bangga menjadi petinju dan menghasilkan uang untuk ibu saya," kata Tata.

    Pertarungan terakhir Tata terjadi pada bulan Oktober, sebelum wabah Covid-19 kedua di Thailand menutup acara olahraga.

    "Saya tidak bisa bertinju. Saya belum berlatih tinju juga... Saya membantu ibu saya menjual sesuatu."

    Tata tinggal bersama ibu dan adik perempuannya yang berusia 16 tahun, Poomrapee, yang juga seorang petinju di timnas muda.

    Pornpattara Peachurai, yang dikenal dengan nama ring Tata Por Lasua, adalah bocah petinju Muay Thai berusia 9 tahun, saat menghabiskan waktu bersama ibunya, Sureeporn Eimpong, 40 tahun, setelah sesi latihan di gym di Bangkok, Thailand, 3 Oktober 2020. [REUTERS / Athit Perawongmetha]

    Keluarganya mengandalkan pendapatan Tata sebagai jalan keluar dari kemiskinan dan berharap dia bisa menjadi petarung Muay Thai profesional, atau mewakili polisi atau tentara di atas ring dan mendapatkan pangkat dan bonus yang lebih tinggi.

    "Biasanya dia memberikan penghasilannya kepada ibu," kata ibu Tata, Sureeporn Eimpong, 40 tahun.

    "Terkadang dia meminta beberapa mainan setelah bertanding," ujar sang ibu.

    Muay Thai anak di Thailand bisa sepopuler pertarungan orang dewasa dan berlangsung di turnamen, festival, dan pameran kuil. Ada sekitar 300.000 petinju di bawah usia 15 tahun, menurut Asosiasi Tinju Profesional Thailand.

    Petinju cilik, Pornpattara Peachurai alias Tata Por Lasua berlatih di sebuah gym di Bangkok, Thailand, 3 Oktober 2020. Sejak 5 bulan terakhir, bocah 9 tahun itu kehilangan salah satu pendapatan karena tidak bertanding di atas ring. REUTERS/Athit Perawongmetha

    Beberapa ahli medis menyerukan larangan tinju untuk anak di bawah umur, meskipun, mengatakan hal itu dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, masalah neurologis jangka panjang, kerusakan otak, dan cacat.

    Lihat juga: Kembali Bertanding, Pertarungan Muaythai Digelar Tanpa Penonton

    Izin orang tua adalah satu-satunya persyaratan saat ini untuk petinju anak.

    "Saya tidak khawatir tentang tinju," kata Sureeporn, menambahkan bahwa petinju dilatih untuk melindungi diri mereka sendiri.

    "Tidak banyak cedera dalam tinju anak. Saya yakin dengan sistemnya.

    Tetapi sistem tidak selalu berfungsi. Pada 2018, Tata bertarung di turnamen yang sama di mana seorang bocah lelaki berusia 13 tahun meninggal karena pendarahan otak setelah tersingkir di atas ring. Sureeporn mengatakan wasit terlalu lambat untuk turun tangan.

    Sureeporn mengatakan tinju adalah kehidupan putranya.

    "Saya dari kelas bawah dan saya hanya menghasilkan cukup uang untuk bertahan hidup dan tidak memiliki tabungan atau rumah mewah," katanya.

    Petinju cilik, Pornpattara Peachurai alias Tata Por Lasua berlatih di sebuah gym di Bangkok, Thailand, 3 Oktober 2020. Sejak 5 bulan terakhir, bocah 9 tahun itu kehilangan salah satu pendapatan karena tidak bertanding di atas ring. REUTERS/Athit Perawongmetha

    Adisak Plitponkarnpim, direktur Institut Nasional Perkembangan Anak dan Keluarga di Universitas Mahidol Thailand, adalah bagian dari tim peneliti yang melakukan pemindaian otak pada 250 petinju anak, beberapa di antaranya menunjukkan kerusakan parah yang dapat memengaruhi perkembangan otak dan tingkat kecerdasan.

    "Tinju menciptakan cedera otak seperti yang bisa kita lihat dengan jelas pada petinju yang lebih tua," kata Adisak.

    "Para orang tua yang mengandalkan pendapatan dari anak-anak mereka pada usia delapan atau sembilan tahun harus bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya mereka tuntut dari mereka," ujarnya.

    Beberapa anggota parlemen Thailand telah berusaha untuk melarang tinju bagi mereka yang berusia di bawah 12 tahun, tetapi rancangan undang-undang tersebut gagal mencapai parlemen dan kemungkinan akan menghadapi perlawanan karena popularitas Muay Thai anak dan pendapatan yang mereka hasilkan.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.