100 Hari Menjelang Olimpiade, Jepang Masih Waswas dengan Corona

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Olimpiade Tokyo 2020 yang ditunda hingga 2021 karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19), terlihat di dekat papan rambu lalu lintas di gedung Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang 22 Januari 2021. Olimpiade Tokyo seharusnya digelar pada 2020 namun pandemi Covid-19 membuat Komite Olimpiade Internasional mengundurkan pesta olahraga dunia itu selama satu tahun. REUTERS/Issei Kato

    Logo Olimpiade Tokyo 2020 yang ditunda hingga 2021 karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19), terlihat di dekat papan rambu lalu lintas di gedung Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang 22 Januari 2021. Olimpiade Tokyo seharusnya digelar pada 2020 namun pandemi Covid-19 membuat Komite Olimpiade Internasional mengundurkan pesta olahraga dunia itu selama satu tahun. REUTERS/Issei Kato

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Kesehatan Jepang waswas varian baru Covid-19 bisa menyebabkan gelombang keempat penyebaran wabah virus corona. Apalagi, 109 hari lagi akan diselenggarakan Olimpiade Tokyo.

    Varian baru Covid-19 diyakini lebih mudah menular dan muncul dugaan kebal dengan vaksin virus corona. Di Jepang, varian baru virus corona belum menyebar luas.

    Akan tetapi, kondisi Kota Osaka cukup buruk, di mana infeksi virus corona di sana pada akhir pekan lalu menyentuh rekor tertinggi. Kondisi ini telah mendorong pemerintah daerah untuk memberlakukan kebijakan lockdown selama sebulan terhitung mulai 5 April 2021.

    Suasana sepi Bandara Haneda atas mewabahnya Virus Corona di Tokyo, Jepang, 14 Maret 2020. REUTERS/Athit Perawongmetha

    Varian baru Covid-19 pertama kali ditemukan di Inggris dan sekarang kasusnya sudah ditemukan di wilayah Osaka. Menurut Koji Wada Penasehat Pemerintah untuk pandemi Covid-19, penyebaran varian baru Covid-19 terjadi sangat cepat. Tempat tidur rumah sakit dengan cepat terisi dan banyak kasus dalam kondisi serius.     

    “Gelombang keempat virus corona akan sangat besar. Kami perlu mulai mendiskusikan bagaimana menggunakan kebijakan,” kata Wada, yang juga seorang profesor dari International University of Health and Welfare, Tokyo.

    Jepang sudah dua kali memberlakukan status darurat nasional yang diberlakukan pada tahun lalu di hampir sebagian besar wilayah di Negeri Sakura itu. Pada tahun baru 2021, Jepang mengalami gelombang ketiga wabah virus corona dan cukup mematikan.

    Baca juga: Olimpiade 2032: Seoul Ajukan Proposal Jadi Tuan Rumah Bersama Pyongyang 

    Sejumlah otoritas saat ini sedang mengevaluasi beberapa kebijakan yang diantaranya mempercepat jam kerja atau jam operasional usaha dan memberlakukan denda untuk mereka yang melanggar aturan.

    Osaka sudah membatalkan acara iring-iringan Obor Olimpiade, namun Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga berkeras pihaknya akan menyelenggarakan pesta olahraga dunia itu sesuai jadwal.

    Pada Minggu 4 April lalu, Suga mengatakan beberapa kebijakan yang diperlukan bisa diberlakukan di Kota Osaka hingga diperluas ke area Tokyo dan sekitarnya jika memang diperlukan.

    Ada 249 kasus infeksi virus corona di Tokyo pada Senin, 5 April 2021. Sedangkan pada puncaknya Januari 2021 lalu, di Tokyo pernah ada lebih dari 2.500 kasus infeksi virus corona. Data pada Senin, 4 April 2021, memperlihatkan ada 341 kasus positif Covid-19 di Osaka, angka itu turun dibanding pada Sabtu, 3 April 2021 yang tercatat sebanyak 666 kasus.

         

    Sumber: Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.