Menlu Amerika: Kami Tidak Akan Pakai Vaksin COVID-19 untuk Kepentingan Politik

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara selama kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Departemen Luar Negeri di Washington, AS, 4 Februari 2021. [REUTERS / Tom Brenner]

    Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara selama kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Departemen Luar Negeri di Washington, AS, 4 Februari 2021. [REUTERS / Tom Brenner]

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri Antony Blinken memastikan Amerika tidak akan menggunakan vaksin COVID-19 untuk kepentingan politik. Hal tersebut menyusul rencana Amerika untuk berbagi vaksin COVID-19 dengan negara lain. Amerika sendiri dikabarkan memiliki surplus vaksin hingga jutaan dosis yang bisa dibagikan ke negara lain lewat berbagai skema.

    "Ini tentang menyelamatkan nyawa (bukan kepentingan politik. Kami membantu rekan-rekan kami dengan penuh rasa hormat," ujar Antony Blinken, dikutip dari CNN, Selasa, 6 April 2021.

    Untuk memuluskan distribusi vaksin COVID-19 dari Amerika ke negara lain, Blinken menyatakan administrasi Joe Biden telah merekrut koordinator khusus untuk itu, Gayle Smith. Gayle Smith, kata Blinken, akan bertanggung jawab menggenjot distribusi vaksin COVID-19 dari Amerika ke negara lain agar suplai vaksin yang ada tak sia-sia.

    Sebelumnya, Al Jazeera melaporkan bahwa Amerika memiliki surplus vaksin COVID-19 dengan jumlah kurang lebih 600 juta dosis. Hal itu disebabkan karena pemesanan yang gencar ke berbagai produsen saat pandemi tengah tinggi-tingginya pada tahun lalu. Adapun Amerika dilaporkan telah memesan 1,2 miliar dosis vaksin COVID-19 sementara penduduknya hanya 328 juta.

    Dua pekan lalu, Pemerintah Meksiko mengabarkan bahwa mereka telah berkomunikasi dengan Amerika soal bagaimana caranya mendapat surplus vaksin COVID-19 tersebut. Namun, istilah yang dipakai Pemerintah Meksiko adalah "meminjam vaksin" yang memunculkan spekulasi adanya timbal balik politis yang diterima Amerika. 

    Petugas medis mempersiapkan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech yang akan disuntikan pada warga. Di Alaska, Amerika Serikat, seorang petugas medis menderita reaksi alergi serius setelah disuntik vaksin Covid-19 Pfizer/BioNTech. REUTERS/Gonzalo Fuentes

    "Seiring dengan makin yakinnya kami dengan keamanan suplai vaksin COVID-19, kami mulai mengeksplor berbagai opsi untuk berbagi dengan negara-negara lain ke depannya."

    "Saya tahu sudah ada banyak negara meminta tolong kepada kami untuk berbagi vaksin COVID-19. Beberapa di antaranya mati-matian meminta tolong karena buruknya situasi pandemi di negara mereka. Kami akan bergerak sesegera mungkin," ujar Blinken menegaskan.

    Blinken tidak menjelaskan estimasi waktu pembagian dan posisi vaksinasi Amerika sebelum mulai berbagi vaksin nanti. Ia hanya mengatakan bahwa kalaupun 300 juta penduduk Amerika sudah divaksin hari ini, hal tersebut bukan jaminan aman karena virus COVID-19 masih beredar.

    Menurut data dari New York Times, angka vaksinasi harian di Amerika terus meningkat. Per berita ini ditulis, Amerika menyuntikkan kurang lebih 3 juta dosis vaksin COVID-19 per hari. Adapun jumlah dosis vaksin COVID-19 yang telah disuntikkan adalah 167 juta dari 207 juta dosis yang telah dibagikan.

    Menurut peneliti dari Duke University, Andrea Taylor, salah satu opsi berbagai vaksin COVID-19 yang bisa diambil Amerika adalah via COVAX. COVAX adalah lembaga inisiasi WHO yang berfungsi untuk meratakan akses ke vaksin COVID-19. Opsi lainnya, kata Taylor, adalah memberikan vaksin COVID-19 ke negara-negara yang sistem kesehatannya sudah di ujung tanduk atau negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan Amerika.


    Baca juga: Amerika Diperkirakan Punya Surplus 600 Juta Dosis Vaksin COVID-19

    ISTMAN MP | AL JAZEERA | NEW YORK TIMES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.