WHO Sebut Hasil Investigasi Asal-usul COVID-19 di Cina Belum Komplit

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menghadiri konferensi pers yang diselenggarakan oleh Asosiasi Koresponden Persatuan Bangsa-Bangsa Jenewa (ACANU) di tengah wabah Covid-19, yang disebabkan oleh virus corona baru, di markas besar WHO di Jenewa Swiss 3 Juli, 2020. [Fabrice Coffrini / Pool melalui REUTERS]

    Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menghadiri konferensi pers yang diselenggarakan oleh Asosiasi Koresponden Persatuan Bangsa-Bangsa Jenewa (ACANU) di tengah wabah Covid-19, yang disebabkan oleh virus corona baru, di markas besar WHO di Jenewa Swiss 3 Juli, 2020. [Fabrice Coffrini / Pool melalui REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) buka suara soal jalannya investigasi asal-usul COVID-19 di Cina yang berlangsung Januari lalu. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa Pemerintah Cina menahan sejumlah data terkait awal pandemi COVID-19 sehingga investigatornya tidak bisa memberikan hasil investigasi paling komplit soal dugaan asal-usul virus.

    "Dalam diskusi saya dengan tim investigator, mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan data mentah (soal awal pandemi COVID-19)," ujar Ghebreyesus, dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 31 Maret 2021.

    Diberitakan sebelumnya, tim investigator WHO menghabiskan waktu kurang lebih empat pekan di Cina untuk menyelidiki asal usul virus COVID-19. Selama ini, keyakinan yang berkembang adalah Wuhan, Cina menjadi ground zero (titik awal) penyebaran virus COVID-19.

    Investigasi tersebut sempat terkendala beberapa hal. Selain investigator sempat tidak mendapat izin masuk ke Cina, negeri tirai bambu itu sendiri menentang investigasi asal-usul COVID-19. Cina menganggap investigasi COVID-19 bernada politis mengingat pengusulnya adalah Amerika dan Australia yang bermasalah dengannya.

    Peter Ben Embarek, anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul pandemi penyakit virus corona atau COVID-19 saat mengunjungi pameran bagaimana Tiongkok memerangi virus corona di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 30 Januari, 2021. Satu hipotesis, yang ditolak oleh Cina, adalah bahwa wabah tersebut disebabkan oleh kebocoran di laboratorium pemerintah. REUTERS/Thomas Peter

    Setelah empat pekan menghabiskan waktu berkunjung ke berbagai lokasi wabah COVID-19, investigator WHO berkesimpulan bahwa virus tersebut tidak muncul di Cina, tetapi dibawa ke Cina. Pembawanya diyakini adalah hewan liar yang melakukan perjalanan jauh. Selain itu, WHO juga membantah virus COVID-19 dibuat di lab.

    Nah, soal dari mana tepatnya virus datang dan bagaimana virus mulai menyebar dengan cepat dari Cina, WHO belum menemukan jawabannya. Ghebresyesus mengharapkan ada studi kolaboratif lagi soal asal-usul COVID-19 dengan durasi penelitian lebih panjang serta skema berbagi data yang lebih komprehensif. Dengan begitu, pertanyaan-pertanyaan yang tersisa bisa terjawab.

    "Saya tidak percaya hasil investigasi yang ada sudah komplit. Data-data dan studi lebih jauh diperlukan untuk mendapatkan konklusi yang lebih tegas," ujar Ghebreyesus menegaskan.

    Pemimpin tim investigator WHO, Peter Ben Embarek, membenarkan soal kurang komplitnya hasil investigasi timnya. Ia berkata, ada beberapa area di mana timnya kesulitan mendapatkan data mentah. "Ada berbagai alasan mulai dari batasan hingga ruang privasi," ujarnya Embarek yang mengharapkan investigasi kedua soal asal-usul COVID-19 di Cina.

    Baca juga: Asal-usul Virus Corona, WHO dan Cina Yakin Manusia Tertular dari Hewan Perantara

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.