Amerika Tahan Semua Kerjasama Dagang Dengan Myanmar

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Joe Biden berbicara kepada media saat dia tiba di Newcastle, Delaware, AS, 26 Maret 2021. Kacamata model klasik ini mulai populer saat dikenakan oleh Jenderal Douglas MacArthur dalam Perang Dunia II.  REUTERS/Joshua Roberts

    Presiden AS Joe Biden berbicara kepada media saat dia tiba di Newcastle, Delaware, AS, 26 Maret 2021. Kacamata model klasik ini mulai populer saat dikenakan oleh Jenderal Douglas MacArthur dalam Perang Dunia II. REUTERS/Joshua Roberts

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika memperkuat tekanannya ke Militer Myanmar perihal kudeta yang mereka lakukan. Perkembangan terbaru, administrasi Presiden Amerika Joe Biden menahan semua kerjasama perdagangan dengan Myanmar. Hal tersebut untuk merespon situasi kudeta yang kian buruk di Myanmar di mana ratusan warga terbunuh dengan kejam.

    "Kerjasama perdagangan yang tercantum dalam Trade and Investment Framework Agreement 2013 akan berlaku apabila pemerintahan yang demokratis telah kembali," ujar keterangan juru bicara Kementerian Perdagangan Amerika, Katherine Tai, dikutip dari CNN, Selasa, 30 Maret 2021.

    Diberitakan sebelumnya, jumlah korban jiwa di Myanmar terus bertambah seiring berjalannya kudeta. Menurut data Asosiasi Bantuan Hukum untuk Tahanan Politik Myanmar (AAPP), jumlah korban meninggal telah mencapai 510 orang. Sebanyak 14 di antaranya tewas dibunuh pada hari Senin kemarin.

    Selain membunuh warga, Militer Myanmar juga menangkap ribuan orang selama kudeta. Jumlahnya sudah melebihi 3000 orang. Beberapa di antaranya adalah aktivis, jurnalis, politisi, anggota komite penyelenggaraan pemilu, serta pejabat negara. Salah satu contohnya adalah Penasihat Negara Aung San Suu Kyi.

    Banyaknya korban dan tahanan selama kudeta direspon berbagai negara dengan sanksi. Amerika adalah salah satu pemberi sanksi terbanyak. Selain sudah memberi sanksi kepada pejabat-pejabat Militer Myanmar, Amerika juga memasukkan perusahaan-perusahaan milik militer ke daftar hitam. Niat Amerika adalah memiskinkan junta militer agar mereka terdesak untuk mengakhiri kudeta.

    Katherine Tai melanjutkan, hukuman terbaru tersebut efektif berlaku pekan ini. Adapun Tai menegaskan kembali bahwa Amerika mendukung upaya warga Myanmar mengembalikan demokrasi di negara mereka meski harus berhadapan dengan kekejaman militer.

    "Kami mengutuk aksi brutal Militer Myanmar terhadap warga sipil. Aksi membunuh pengunjuk rasa, pelajar, pekerja, petugas medis, dan anak-anak yang dilakukan Militer Myanmar telah mengejutkan kami. Aksi tersebut adalah serangan langsung terhadap transisi demokrasi di Myanmar dan upaya warga untuk masa depan yang cerah," ujar Katherine Tai menegaskan.

    Baca juga: Jumlah Korban Jiwa Kudeta Myanmar Capai 500 Orang

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...