Iran dan Cina Teken Perjanjian Kerja Sama Selama 25 Tahun

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Iran Hassan Rouhani.[Tehran Times]

    Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Iran Hassan Rouhani.[Tehran Times]

    TEMPO.CO, - Cina dan Iran menandatangani perjanjian kerja sama selama 25 tahun pada Sabtu kemarin untuk memperkuat aliansi ekonomi dan politik mereka. Kesepakatan ini mereka ambil di tengah sanksi yang Amerika Serikat berikan kepada kedua negara.

    "Hubungan antara kedua negara sekarang telah mencapai tingkat kemitraan strategis dan Cina berusaha untuk meningkatkan hubungan secara komprehensif dengan Iran," kata Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi dikutip dari Reuters, Ahad, 28 Maret 2021.

    Menurut Wang, hubungan Cina dengan Iran tidak akan terpengaruh oleh situasi saat ini yang sedang berkonfrontasi dengan Amerika Serikat tetapi akan permanen dan strategis. "Iran memutuskan secara independen hubungannya dengan negara lain dan tidak seperti beberapa negara yang mengubah posisi mereka dengan satu panggilan telepon," ucap dia.

    Kesepakatan ini membawa Iran ke dalam Belt and Road Initiative China, skema infrastruktur multi-triliun dolar yang dimaksudkan untuk membentang dari Asia Timur ke Eropa.

    Proyek ini bertujuan untuk memperluas pengaruh ekonomi dan politik Cina secara signifikan dan telah menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat.

    Cina sering berbicara menentang sanksi AS terhadap Iran dan sebagian menentangnya. Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Cina "teman untuk masa-masa sulit".

    Wang bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani menjelang penandatanganan di Teheran. Perjanjian tersebut diharapkan mencakup investasi Cina di sektor-sektor seperti energi dan infrastruktur.

    Rouhani juga mengapresiasi atas dukungan Cina untuk posisi Iran pada kesepakatan nuklir 2015. Dalam kesepakatan ini, Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi internasional. "Kerja sama antara kedua negara sangat penting untuk implementasi kesepakatan nuklir dan pemenuhan kewajiban negara-negara Eropa," katanya.

    Presiden Amerika Serikat Joe Biden berusaha untuk menghidupkan kembali pembicaraan dengan Iran tentang kesepakatan nuklir yang ditinggalkan pada 2018 oleh pendahulunya, Donald Trump. Iran ingin sanksi yang diberlakukan Trump dihapus sebelum negosiasi dilanjutkan.

    "Di bawah pemerintahan baru, Amerika ingin mempertimbangkan kembali kebijakan mereka dan kembali ke perjanjian nuklir, dan Cina menyambut baik langkah mereka," kata Wang.

    Dengan kesepakatan ini, Cina juga berjanji akan memberikan lebih banyak vaksin virus corona ke Iran, negara Timur Tengah yang paling parah terkena pandemi.

    Baca juga: Khamenei Ragu Amerika Akan Benar-benar Batalkan Sanksi ke Iran

    Sumber: REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.