Seniman Argentina Buat Karya Seni dari Limbah Medis Covid-19

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seniman Argentina Marcelo Toledo mengerjakan karya seni yang menggambarkan virion virus corona yang terbuat dari besi yang akan menjadi bagian dari

    Seniman Argentina Marcelo Toledo mengerjakan karya seni yang menggambarkan virion virus corona yang terbuat dari besi yang akan menjadi bagian dari "Museum of the After", di bengkelnya di Buenos Aires, Argentina, 4 Maret 2021. [REUTERS / Agustin Marcarian]

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang seniman Argentina punya cara unik untuk memanfaatkan limbah medis dari pandemi Covid-19 agar menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.

    Pematung bernama Marcelo Toledo, yang biasanya memakai metal untuk membuat patung atau perhiasan, kini menggunakan lmasker dan jarum suntik bekas limbah pandemi Covid-19.

    Toledo, yang pernah membuat perhiasan untuk musikal "Evita" di Broadway dan karya-karya unik untuk Barack Obama dan Madonna, termasuk orang pertama di Argentina yang mengidap Covid-19 setahun lalu, yang membuatnya dirawat di rumah sakit selama delapan hari karena pneumonia.

    Pengalaman itu rupanya meninggalkan jejak dalam hidupnya dan memancing kreativitas membuat karya seni, dengan membuat masker sepanjang 14 meter dengan bendera Argentina yang ia tempatkan di Obelisk ikonik di Buenos Aires untuk meningkatkan kesadaran tentang donasi organ selama pandemi.

    Untuk pameran seni barunya, "Museum of the After", Toledo mengumpulkan limbah daur ulang virus corona yang dikirim oleh rumah sakit, laboratorium, dan orang secara acak. Limbah ini termasuk botol vaksin corona bekas pakai dan suku cadang medis, dan kliping surat kabar tentang pandemi.

    "Saya senang bisa mengubah rasa sakit menjadi keindahan dan tujuan pameran ini hanya itu, mengenang semua yang terjadi pada kita sebagai masyarakat," kata Toledo, 45 tahun, dari bengkelnya di distrik San Telmo di Buenos Aires, dikutip dari Reuters, 27 Maret 2021.

    Seniman Argentina Marcelo Toledo membuka kotak berisi jarum suntik yang akan menjadi bagian dari "Museum of the After", di bengkelnya di Buenos Aires, Argentina, 4 Maret 2021. [REUTERS / Agustin Marcarian]

    Karya seni, yang akan dipamerkan mulai September di ruang publik di pusat kota Buenos Aires, semuanya akan dibuat dari bahan sekali pakai atau sampah yang dikirim orang kepada Toledo, di mana banyak di antaranya disegel di dalam kantong yang dikemas dan divakum.

    "Ini pertama kalinya saya melakukan pameran di mana saya tidak perlu membeli satu pun material," ujarnya, "semuanya akan ditutup atau dimasukkan ke dalam kapsul karena kita tidak boleh melupakan ini. Jadi idenya adalah bahwa segala sesuatu dapat dipertahankan dari waktu ke waktu."

    Seniman Argentina Marcelo Toledo (kanan) dan asistennya Facundo Mineldin menggeser karya seni yang menggambarkan Adam, yang akan menjadi bagian dari "Museum of the After", di bengkelnya di Buenos Aires, Argentina, 4 Maret 2021. [REUTERS / Agustin Marcarian ]

    Dalam pameran tersebut akan ada kapal sungguhan yang secara simbolis melintasi "badai" dan pulau daur ulang untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan.

    "Pameran ini akan menceritakan kisah tentang kapal yang berlayar dan terdampar setelah badai, yang merupakan metafora yang bagus untuk apa yang terjadi pada kami. Pandemi ini, badai global yang hebat," kata Toledo.

    Baca juga: Lockdown Dilonggarkan, Teater di Argentina Buka Lagi

    "Ide dari 'Museum of the After' ini di satu sisi untuk mencari elemen dari seluruh dunia, dan juga untuk dapat menirunya di tempat lain dan bahkan membuat museum fisik meninggalkan pekerjaan untuk anak cucu," kata Toledo.

    Seperti halnya masker raksasa, yang direplikasi di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Jepang untuk memperingati dahsyatnya dampak pandemi Covid-19, seniman Argentina itu bermimpi mereproduksi pameran seni baru di kota-kota lain di seluruh dunia.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.