Kelompok Etnis Bersenjata Myanmar Akan Bertindak Jika Junta Terus Bunuh Pendemo

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara dari Tentara Negara Bagian Shan-Selatan berbaris dalam formasi selama parade militer merayakan Hari Nasional Negara Bagian Shan ke-69 di Loi Tai Leng, markas besar kelompok itu, di perbatasan Thailand-Myanmar 7 Februari 2016. [REUTERS / Soe Zeya Tun / File Foto]

    Tentara dari Tentara Negara Bagian Shan-Selatan berbaris dalam formasi selama parade militer merayakan Hari Nasional Negara Bagian Shan ke-69 di Loi Tai Leng, markas besar kelompok itu, di perbatasan Thailand-Myanmar 7 Februari 2016. [REUTERS / Soe Zeya Tun / File Foto]

    TEMPO.CO, Jakarta - Faksi kelompok etnis bersenjata Myanmar tidak akan berdiam diri dan bakal bertindak jika pasukan junta militer terus membunuh pengunjuk rasa, kata pemimpin salah satu kelompok etnis bersenjata Myanmar pada hari Sabtu.

    Setidaknya 50 pengunjuk rasa tewas oleh pasukan keamanan di seluruh Myanmar pada Sabtu, menurut media dan saksi setempat, saat junta merayakan Hari Angkatan Bersenjata tahunan untuk memperingati perlawanan bersenjata melawan penjajah Jepang pada 27 Maret.

    "Hari Angkatan Bersenjata Myanmar bukanlah hari angkatan bersenjata, ini lebih seperti hari mereka membunuh orang," kata Jenderal Yawd Serk, ketua Dewan Pemulihan Negara Bagian Shan/Tentara Negara Bagian Shan-Selatan (RCSS), kepada Reuters, 27 Maret 2021.

    "Ini bukan untuk melindungi demokrasi juga, tapi bagaimana mereka merusak demokrasi ...Jika mereka terus menembaki pengunjuk rasa dan menindas orang, saya pikir semua kelompok etnis tidak akan hanya berdiam diri dan tanpa melakukan apa-apa," kata Jenderal Serk.

    RCSS, yang beroperasi di dekat perbatasan Thailand, adalah salah satu dari beberapa kelompok etnis bersenjata yang mengecam kudeta militer dan berjanji untuk berdiri bersama para pengunjuk rasa. Dua puluh faksi etnis bersenjata Myanmar menguasai sebagian besar Myanmar.

    Baca juga: Tentara Kemerdekaan Kachin Serbu Kamp Militer Myanmar

    Berbicara pada parade militer sebelumnya, pemimpin junta Min Aung Hlaing mengatakan tugas militer adalah melindungi rakyat dan mempromosikan demokrasi, mengulangi janjinya akan pemilihan baru yang dilakukan setelah tentara mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari. Tetapi Jenderal Hlaing tidak menetapkan tanggal pemilu baru.

    Junta militer mengatakan pemungutan suara 8 November 2020, yang dimenangkan secara telak oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung San Suu Kyi, dicurangi, memaksa militer untuk mengambil kendali.

    Kematian terbaru jumlah korban tewas unjuk rasa pada Sabtu akan membuat total korban tewas menjadi 380 orang sejak protes menentang kudeta militer 1 Februari.

    Banyak pengunjuk rasa menyerukan pembentukan tentara federal dan Yawd Serk mengatakan dia mendukung itu. "Kelompok etnis bersenjata sekarang memiliki musuh yang sama dan kita perlu bergandengan tangan dan melukai mereka yang menyakiti rakyat. Kita harus bersatu," kata pemimpin kelompok etnis bersenjata Myanmar itu.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H