Diprotes, Kanselir Jerman Angela Merkel Batalkan Lockdown COVID-19 Saat Paskah

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kanselir Jerman Angela Merkel. Bernd von Jutrczenka/Pool via REUTERS

    Kanselir Jerman Angela Merkel. Bernd von Jutrczenka/Pool via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Kanselir Jerman Angela Merkel bertekuk lutut. Usai menerima kritik dari berbagai pihak, ia memutuskan untuk membatalkan pemberlakuan lockdown pada periode libur Hari Raya Paskah. Padahal, kebijakan lockdown tersebut baru ia tetapkan pada Selasa kemarin untuk menekan efek gelombang ketiga COVID-19.

    Pada pengumumannya Selasa kemarin, Merkel menyatakan ia dan pemimpin dari 16 negara bagian setuju untuk memberlakukan lockdown selama libur Paskah. Periodenya lima hari dengan tanggal 1-3 April ia sebut sebagai "hari isitirahat". Dengan kata lain, selama periode itu, tidak boleh ada toko apapun yang beroperasi.

    "Ide lockdown Paskah didasari niat baik. Kita harus berupaya menghentikan gelombang ketiga pandemi COVID-19. Namun, memang tidak pas menyetujuinya secara terburu-buru. Saya mengaku bersalah," ujar Angela Merkel, dikutip dari kantor berita Reuters, Rabu, 24 Maret 2021.

    Asosiasi pengusaha ritel mengapresiasi langkah Merkel. Menurutnya, keputusan Merkel sebelumnya bisa menyebabkan serbuan mendadak ke supermarket di saat suplai bahan pokok belum mencukupi. Dengan lockdown dibatalkan, pengusaha supermarket memiliki ruang lega.

    "Dengan keputusan hari ini, kita kembali ke kebijakan virus Corona yang lebih masuk akal," ujar presiden asosiasi pengusaha ritel Jerman, HDE, Stefan Genth.

    Sebelumnya, publik, politisi, dan pengusaha frustasi dengan keputusan Merkel menerapkan lockdown lagi. Selain itu, juga karena kegagalannya menggenjot vaksinasi COVID-19 sesuai target. Menurut publik dan oposisinya, Merkel kebingungan bagaimana sebaiknya mengendalikan pandemi COVID-19.

    Baca juga: Jerman Berencana Perpanjang Lockdown

    "Tidak ada rencana, tidak ada petunjuk, tidak ada keberanian," ujar berita utama harian populer di Jerman, Bild, mengomentari cara Merkel menangani pandemi COVID-19.

    Dietmar Bartsch, oposisi dari Merkel dan kepala oposisi partai kiri Linke, mengusulkan mosi tidak percaya terhadap Merkel. Menurutnya, Merkel sudah tidak bisa diharapkan lagi dalam perang melawan pandemi COVID-19.

    Pernyataan Bartsch didukung survei terbaru yang menunjukkan popularitas partai konservatif Merkel terus turun. Bahkan, sudah mencapai titik terendahnya menjelang pemilu pada September lalu. Merkel sendiri berencana turun sebelum pemilu dan partai konservatifnya belum menentukan kandidat penggantinya.

    Per berita ini ditulis, Jerman tercatat memiliki 2,6 juta kasus dan 75.212 korban jiwa akibat COVID-19. Angka tersebut sudah menghitung penambahan 15.813 kasus dan 248 kematian dalam 24 jam terakhir.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.