Di Tengah Pertemuan, Amerika Sebut Cina Sebagai Ancaman Stabilitas Global

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara selama kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Departemen Luar Negeri di Washington, AS, 4 Februari 2021. [REUTERS / Tom Brenner]

    Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara selama kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Departemen Luar Negeri di Washington, AS, 4 Februari 2021. [REUTERS / Tom Brenner]

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika melanjutkan kritiknya terhadap Cina sepanjang tur diplomasi di Asia. Bahkan, mereka menyampaikannya secara langsung ke Cina dalam pertemuan di Alaska pada Kamis kemarin waktu setempat. Dikutip dari Channel News Asia, Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken menyebut Cina sebagai ancaman terhadap stabilitas global.

    "Aksi Cina mengancam tatanan hukum yang menjaga kestabilan regional," ujar Blinken, dalam pembukaan pertemuan dengan CIna, Kamis, 18 Maret 2021.

    Blinken melanjutkan, ada banyak hal yang ingin ia bahas dengan Cina. Salah satunya terkait nasib Muslim Uighur di Xinjiang. Selama ini, Amerika menuduh Cina telah melakukan genosida terhadap Muslim Uighur mulai dari melakukan kontrol populasi secara paksa hingga memperlakukan mereka secara tidak manusiawai.

    Selain isu Uighur, Blinken juga meminta penjelasan soal status Hong Kong, Taiwan, serangan siber ke Amerika, serta aksi koersif terhadap sekutu Amerika di Indo-Pasifik. Adpaun Blinken menegaskan bahwa apa yang ia cari dari Cina bukanlah konflik, melainkan solusi atas masalah-masalah yang ia anggap ditimbulkan CIna.

    Penasihat Keamanan Nasional Amerika, Jake Sullivan, mendukung pernyataan Blinken. Ia menambahkan, Sikap Amerika terhadap Cina adalah perwujudan dari prinsip-prinsip yang mereka pegang selama ini. Selain itu, kata ia, sebagai upaya untuk mendukung sekutu-sekutu mereka.

    "Dan kami akan selalu menegakkan prinsip-prinsip kami untuk warga kami dan kawan-kawan kami," ujar Sullivan menegaskan.

    Salah seorang pejabat Pemerintah Amerika, yang turut serta dalam pertemuan dengan Cina, memprediksi pembahasan dengan negeri tirai bambu itu akan berlangsung alot. Ia pun pesimis kedua kubu akan memiliki banyak kesepakatan usai pertemuan berakhir. Sebab, dari tema pertemuan saja, keduanya sudah berbeda dengan CIna menyebutnya dialog strategis dan Amerika menuebutnya sebagai pertemuan bilateral.

    "Kami membayangkan pembahasan akan cukup rumit ke depannya," ujar pejabat senior itu.

    Sebelumnya, administrasi Presiden Joe Biden menyatakan bahwa pemerintahannya tidak menutup kemungkinan kerjasama dengan Cina. Namun, selama kerjasama tersebut mendukung kepentingan Amerika. Beberapa isu yang dirasa Joe Biden bakal terbantu dengan kerjasama Cina - Amerika adalah perubahan iklim dan denuklirisasi Korea Utara.

    Terkait denuklirisasi Korea Utara, Amerika berkeyakinan Cina bisa memainkan pengaruhnya untuk membujuk Pemimpin Agung Kim Jong Un menghentikan pengembangangan nuklir. Menurut Amerika, Cina adalah sekutu terdekat Korea Utara dan memiliki daya tawar tinggi terhadap negeri gingseng utara itu.

    Baca juga: Sehari Sebelum Pertemuan Bilateral, Amerika Beri Sanksi ke Hong Kong dan Cina

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H