Korea Utara Ancam Putus Hubungan Diplomatik dengan Malaysia

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian Malaysia berjaga-jaga saat akan terjadinya aksi unjuk rasa di depan kedubes Korea Utara di Kuala Lumpur, Malaysia, 23 Februari 2017. REUTERS/Athit Perawongmetha

    Petugas kepolisian Malaysia berjaga-jaga saat akan terjadinya aksi unjuk rasa di depan kedubes Korea Utara di Kuala Lumpur, Malaysia, 23 Februari 2017. REUTERS/Athit Perawongmetha

    TEMPO.CO, JakartaKorea Utara mengatakan akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia setelah pengadilan Malaysia memutuskan bahwa seorang pria Korea Utara dapat diekstradisi ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan pencucian uang, kata media pemerintah Korut KCNA melaporkan pada Jumat.

    Kementerian Luar Negeri Korea Utara juga memperingatkan Amerika Serikat akan "membayar harga" atas tindakannya, lapor KNCA.

    Dikutip dari Reuters, 19 Maret 2021, pada 9 Maret pengadilan tinggi Malaysia memutuskan bahwa seorang pria Korea Utara bernama Mun Chol Myong, dapat diekstradisi ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan pencucian uang, menurut laporan media.

    Mun ditangkap pada 2019 setelah Amerika Serikat menuduhnya melakukan pencucian uang melalui perusahaan bayangan dan mengeluarkan dokumen palsu untuk mendukung pengiriman ilegal ke Korea Utara. Dia menggugat permintaan ekstradisi dengan alasan itu bermotif politik.

    "Ekstradisi sebagai tindakan jahat dan kejahatan berat yang tidak dapat diampuni dan dilakukan oleh otoritas Malaysia, yang telah membuat warga negara kami sebagai korban tindakan permusuhan AS yang menyimpang dari hukum internasional yang diakui," kata Kementerian Luar Negeri Korea Utara.

    Tindakan Malaysia telah menghancurkan seluruh fondasi hubungan bilateral yang didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan, katanya.

    Hubungan dekat Malaysia dengan Korea Utara semakin menurun setelah saudara laki-laki pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Jong Nam, dibunuh di bandara Kuala Lumpur pada Februari 2017 ketika dua perempuan mengolesi wajahnya dengan agen saraf VX, racun mematikan yang digolongkan oleh PBB sebagai senjata pemusnah massal.

    "Kami memperingatkan sebelumnya bahwa AS - manipulator belakang panggung dan penyebab utama insiden ini - juga akan diminta membayar harga yang harus dibayar," lapor KCNA.

    Pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden akan menyelesaikan peninjauan kebijakan Korea Utara dalam beberapa minggu ke depan dalam konsultasi erat dengan sekutu.

    Baca juga: Korea Utara Minta Amerika Jangan Cari Masalah Jika Ingin Berdamai

    Pemerintah Joe Biden dilaporkan telah mengontak Korea Utara untuk negosiasi melalui berbagai saluran diplomatik sejak pertengahan Februari, tetapi tidak direspons.

    Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Korea Utara, Choe Son-hui, mengkonfirmasi bahwa AS menontak Pyongyang bahkan sehari sebelum latihan gabungannya dengan Korea Selatan.

    "Kami telah menyatakan pendirian kami bahwa tidak ada kontak dan dialog DPRK-AS yang mungkin dilakukan kecuali AS membatalkan kebijakan permusuhannya terhadap DPRK," kata Choe, dikutip dari Yonhap.

    "Oleh karena itu, kami juga akan mengabaikan upaya AS seperti itu di masa depan," katanya.

    Choe mengatakan bahwa AS telah melakukan beberapa upaya untuk menghubungi Korea Utara melalui berbagai saluran sejak pertengahan Februari.

    Namun dia mengatakan AS upaya menghubungi Korea Utara sebagai "trik murahan" untuk mengulur waktu, dan memperingatkan tidak akan memberikan Amerika kesempatan lagi untuk pembicaraan, seperti KTT Singapura pada Juni 2018 dan KTT Hanoi 2019.

    REUTERS | YONHAP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.