Paus Fransiskus: Saya Berlutut Memohon Aparat Tidak Tembaki Demonstran Myanmar

Paus Fransiskus mengadakan misa untuk menandai 500 tahun Kekristenan di Filipina, di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 14 Maret 2021. [Tiziana Fabi / Pool via REUTERS]

TEMPO.CO, Jakarta - Paus Fransiskus kembali menyampaikan permohonan terdalam agar aparat junta militer berhenti menembaki demonstran Myanmar antikudeta setelah kekerasan semakin parah dari hari ke hari.

Paus Fransiskus mengungkapkan kesedihannya tentang Myanmar dalam audiensi Mingguannya, mengingat banyaknya warga Myanmar yang terbunuh di tangan aparat junta militer.

"Sekali lagi dan dengan sangat sedih saya merasakan urgensi untuk membangkitkan situasi dramatis di Myanmar, di mana begitu banyak orang, terutama kaum muda, kehilangan nyawa mereka untuk memberikan harapan kepada negara mereka," kata Paus Fransiskus dilaporkan Vatican News, 18 Maret 2021.

"Bahkan kalau perlu saya juga akan berlutut di jalanan Myanmar dan berkata: hentikan kekerasan! Saya juga mengulurkan tangan dan berkata: utamakan dialog!" kata Paus Fransiskus memohon.

Paus Fransiskus tampaknya terinspirasi biarawati Myanmar, Suster Ann Rosa Nu Tawng, yang baru-baru ini viral setelah menghalangi pasukan keamanan berhenti menembak demonstran dengan berlutut.

Biarawati Ann Rose Nu Tawng (berjubah putih) berlutut di hadapan para polisi di Myitkyina, Myanmar, 8 Maret 2021. Seorang biarawati Myanmar kembali berlutut di depan polisi di kota Myanmar utara dan memohon kepada mereka untuk berhenti menembak pengunjuk rasa yang menentang kudeta bulan lalu. [MYITKYINA NEWS JOURNAL/Handout via REUTERS]

Insiden itu terjadi pada 28 Februari di Myitkyina, ibu kota negara bagian Kachin, ketika polisi mempersiapkan diri untuk menindak para pengunjuk rasa di jalan. Tidak terpengaruh oleh bahaya tersebut, biarawati Xaverian berusia 45 tahun itu mendekati polisi, kemudian berlutut di depan mereka dan memohon sambil menyatukan dua kepal tangan agar tidak menyakiti para demonstran yang tidak bersenjata.

Dia diperintahkan untuk segera pergi, tapi dia berdiri tegak, berkata, "Tembak saja aku kalau kalian mau. Para pengunjuk rasa tidak memiliki senjata dan mereka hanya menunjukkan keinginan mereka dengan damai".

Video tindakannya yang berani menjadi viral di media sosial dan sejumlah media internasional mewawancarainya.

Ini adalah pernyataan publik kedua Paus Fransiskus tentang krisis Myanmar sejak kudeta 1 Februari, di akhir audiensi umum mingguannya yang diadakan dari jarak jauh dari perpustakaan Vatikan karena pembatasan Covid-19.

Baca juga: Paus Fransiskus Minta Militer Myanmar Bebaskan Aung San Suu Kyi

Ada kurang dari 800.000 Katolik Roma di negara yang mayoritas beragama Buddha.

Menurut laporan Reuters, Paus Fransiskus, yang pernah mengunjungi Myanmar pada 2017, berkata: "Darah tidak menyelesaikan apa pun. Dialog harus diutamakan."

Pemimpin Katolik Roma Myanmar Charles Maung Bo, juga menyerukan diakhirinya pertumpahan darah.

Hingga kini tercatat 180 lebih demonstran Myanmar, yang kebanyakan usia muda, tewas ketika pasukan keamanan mencoba untuk menghancurkan gelombang demonstrasi yang menentang kudeta militer.

VATICAN NEWS | REUTERS






68 Tahun Bob Geldof, Penggagas Konser Live AId Ini Pernah Kecam Aung San Suu Kyi

1 jam lalu

68 Tahun Bob Geldof, Penggagas Konser Live AId Ini Pernah Kecam Aung San Suu Kyi

Bob Geldof penyanyi, penulis lagu, aktor dan aktivis sosial-politik. Ia pernah mengecam Aung San Suu Kyi. Apa alasannya?


Paus Memohon Putin dan Zelensky Setop Perang Rusia Ukraina

2 hari lalu

Paus Memohon Putin dan Zelensky Setop Perang Rusia Ukraina

Dalam pidatonya, Paus memohon secara pribadi kepada Putin Zelensky untuk menghentikan perang Rusia Ukraina. Ia minta Putin memikirkan nasib rakyatnya.


Junta: Pemberontak Myanmar Tembak Penumpang Pesawat Saat Mendarat

5 hari lalu

Junta: Pemberontak Myanmar Tembak Penumpang Pesawat Saat Mendarat

Junta militer menyebut pemberontak Myanmar menembak seorang penumpang di wajahnya saat pesawat mendarat di negara itu.


Skandal Pelecehan Seks Uskup Belo, Vatikan: Sudah Diberi Sanksi Sejak 2019

5 hari lalu

Skandal Pelecehan Seks Uskup Belo, Vatikan: Sudah Diberi Sanksi Sejak 2019

Vatikan mengkonfirmasi bahwa Uskup Belo telah berada di bawah sanksi disiplin selama dua tahun terakhir atas tudhan pelecehan seksual


Vatikan Tanggapi Dugaan Pelecehan Seksual Uskup Belo

6 hari lalu

Vatikan Tanggapi Dugaan Pelecehan Seksual Uskup Belo

Vatikan akan memeriksa informasi terkait laporan majalah Belanda mengenai pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Uskup Belo dari Timor Leste.


Aung San Suu Kyi dan Penasihat asal Australia Dihukum 3 Tahun

6 hari lalu

Aung San Suu Kyi dan Penasihat asal Australia Dihukum 3 Tahun

Pengadilan Myanmar menghukum pemimpin terguling Aung San Suu Kyi dan mantan penasihat ekonominya, Sean Turnell dari Australia, 3 tahun penjara


Ratu Kecantikan Myanmar Akhirnya Mendarat di Kanada, Berbulan-bulan Tinggal di Bandara Thailand

6 hari lalu

Ratu Kecantikan Myanmar Akhirnya Mendarat di Kanada, Berbulan-bulan Tinggal di Bandara Thailand

Ratu Kecantikan Myanmar menuai perhatian publik atas komentar pedasnya terhadap junta militer. Dia akhirnya mendapat suaka dari Kanada.


Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

8 hari lalu

Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

Mantan ratu kecantikan Myanmar itu telah terlunta-lunta sejak 21 September di Thailand.


Amerika Gelontorkan Rp 2,5 Triliun untuk Bantu Etnis Rohingya

12 hari lalu

Amerika Gelontorkan Rp 2,5 Triliun untuk Bantu Etnis Rohingya

Total bantuan AS dalam menanggapi Krisis Pengungsi Rohingya telah mencapai hampir US$1,9 miliar (Rp 28 triliun) sejak Agustus 2017.


Jepang Setop Kerja Sama Beri Pelatihan Militer ke Myanmar

12 hari lalu

Jepang Setop Kerja Sama Beri Pelatihan Militer ke Myanmar

Akibat eksekusi junta militer terhadap aktivis pro-demokrasi, Jepang menghentikan pemberian latihan militer untuk Myanmar.