Debut di PBB, Kamala Harris Singgung Kesetaraan Gender

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kamala Harris saat pelantikan sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2021. (Instagram/@w.rosadojewelry)

    Kamala Harris saat pelantikan sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2021. (Instagram/@w.rosadojewelry)

    TEMPO.CO, - Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris melakukan debutnya hadir di rapat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Selasa. Dalam pidatonya, dia menyinggung soal kesetaraan gender.

    Kamala Harris mengatakan demokrasi pada dasarnya bergantung pada pemberdayaan perempuan. Ia menilai demokrasi di seluruh dunia kini dalam tekanan besar.

    “Demokrasi membutuhkan kewaspadaan terus menerus, perbaikan terus menerus. Ini adalah pekerjaan yang sedang berjalan. Dan hari ini, kita tahu bahwa demokrasi semakin tertekan," kata Kamala Harris dalam sebuah pernyataan video kepada Komisi ke-65 tentang Status Wanita dikutip dari Reuters, Rabu, 17 Maret 2021.

    “Status demokrasi juga sangat bergantung pada pemberdayaan perempuan. Bukan hanya karena pengucilan perempuan dalam pengambilan keputusan merupakan penanda demokrasi yang cacat, tetapi karena partisipasi perempuan memperkuat demokrasi," ucap dia.

    Sebelumnya di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump, Amerika Serikat mendorong PBB menentang promosi hak dan kesehatan seksual serta reproduksi perempuan. Trump saat itu menganggap hal ini sebagai kode untuk aborsi.

    Kamala Harris mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden akan merevitalisasi kemitraan Washington dengan UN Women - badan PBB yang didedikasikan untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

    Baca juga: Pelantikan, Kamala Harris Gunakan 2 Kitab Injil Penuh Makna

    Sumber: REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.