Pemerintah Malaysia Ajukan Banding Soal Penggunaan Kata Allah Oleh Kristen

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umat Islam menunaikan salat Jumat berjemaah dengan menerapkan jaga jarak di Masjid Negara Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat, 15 Mei 2020. Jumlah jemaah yang hadir dibatasi maksimal 30 orang guna mengantisipasi penyebaran virus Corona Covid-19. ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman

    Umat Islam menunaikan salat Jumat berjemaah dengan menerapkan jaga jarak di Masjid Negara Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat, 15 Mei 2020. Jumlah jemaah yang hadir dibatasi maksimal 30 orang guna mengantisipasi penyebaran virus Corona Covid-19. ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman

    TEMPO.CO, - Pemerintah Malaysia mengajukan banding atas keputusan Pengadilan Tinggi yang mengizinkan umat Kristen di sana menggunakan kata 'Allah' untuk merujuk pada Tuhan.

    Merujuk dokumen yang dilihat AFP, Senin, 15 Maret 2021, pemerintah Malaysia merasa tidak puas dengan putusan itu.

    Mengutip laporan Channel News Asia, pihak berwenang di Malaysia telah lama melarang umat Kristen menggunakan lafaz Allah. Mereka berdalih mengizinkan non-Muslim menggunakan kata "Allah" membingungkan dan bisa mempengaruhi Muslim untuk pindah agama.

    Pekan lalu, Pengadilan Tinggi Malaysia memutuskan bahwa umat Kristen diizinkan menggunakan kata "Allah" dalam publikasi keagamaan untuk tujuan pendidikan. Tiga kata lain: Baitullah, Ka'bah, dan salat juga dapat digunakan dalam publikasi agama.

    Dalam memberikan penilaiannya, Hakim Pengadilan Banding Nor Bee Ariffin mengatakan bahwa aturan tahun 1986 oleh kementerian dalam negeri yang melarang penggunaan empat kata itu oleh orang Kristen adalah ilegal dan tidak rasional

    "Tidak dapat disangkal bahwa (materi) itu untuk pendidikan keagamaan pribadinya," kata hakim seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 10 Maret 2021.

    Kasus ini bermula dari penyitaan sejumlah CD milik Jill Ireland Lawrence Bill, seorang umat Kristen asal Serawak, oleh petugas Bea Cukai Bandara Internasional Kuala Lumpur 2008 silam. CD-CD itu berjudul “Cara Hidup Dalam Kerajaan Allah”, “Hidup Benar Dalam Kerajaan Allah” dan “Ibadah Yang Benar Dalam Kerajaan Allah".

    Jill lalu menggugat Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Malaysia terkait penyitaan itu. Ia menuntut ada pengakuan resmi terhadap hak konstitusional untuk menjalankan ajaran agamanya dan perlakuan non-diskriminatif.

    Pengadilan Tinggi Malaysia lantas memutuskan jika kementerian dalam negeri bersalah dan memerintahkannya untuk mengembalikan CD milik Jill.

    Pada 2015, Pengadilan Banding mengirim kedua masalah konstitusional tersebut kembali ke Pengadilan Tinggi untuk disidangkan. Kasus tersebut disidangkan oleh Pengadilan Tinggi pada tahun 2017 tetapi pengumuman keputusan tersebut ditangguhkan beberapa kali hingga Rabu.

    Hakim mencatat bahwa komunitas Kristen di Malaysia telah menggunakan kata "Allah" selama beberapa generasi dalam mengamalkan iman mereka. “Fakta bahwa mereka telah menggunakannya selama 400 tahun tidak dapat diabaikan,” ucap Hakim Noor.

    Baca juga: Pria Malaysia Menangkan Gugatan Soal Hubungan Seks Sesama Jenis

    Sumber: CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H