Pasien COVID-19 Tewas Karena Oksigen bantuan Kurang, Menkes Yordania Mundur

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga Yordania berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 di Amman, Yordania, 18 Mei 2020. REUTERS/Muhammad Hamed

    Sejumlah warga Yordania berada di sebuah pusat perbelanjaan untuk mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi virus corona atau COVID-19 di Amman, Yordania, 18 Mei 2020. REUTERS/Muhammad Hamed

    TEMPO.CO, Jakarta - Tujuh pasien COVID-19 di Rumah Sakit Al-Salt, Amman, Yordania, meninggal dunia akibat minimnya ketersediaan oksigen bantuan di sana. Menanggapi hal tersebut, Menteri Keshatan Yordania Nathir Obeidat mengundurkan diri dari posnya sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap keluarga pasien.

    "Saya bertanggungjawab sepenuhnya terhadap insiden yang terjadi di Rumah Sakit Al-Salt," ujar Obeidat, dikutip dari kantor berita Al Jazeera, Sabtu, 13 Maret 2021.

    Menurut laporan Al Jazeera, peristiwa pasien kehabisan oksigen bantuan tersebut terjadi pada Sabtu pagi kemarin. Peristiwa berlangsung selama dua jam, dari pukul 06.00 pagi hingga 08.00 pagi waktu setempat.

    Peristiwa tersebut tidak hanya terjadi di satu ruangan, tapi di berbagai sektor di Rumah Sakit Al-Salt. Beberapa di antaranya adalah ruang perawatan intensif, ruang bersalin, dan ruang perawatan COVID-19.

    Ketika suplai oksigen bantuan terhenti, kepanikan terjadi di Rumah Sakit Al Salt. Pihak rumah sakit langsung mencari bantuan kepada ambulans. Sementara itu, di ruang-ruang perawatan, para petugas medis ataupun anggota keluarga berusaha memberikan nafas bantuan agar pasien bertahan hidup. Sayang, 8 pasien gagal bertahan.

    "Ayah dan ibu saya berada di ruang isolasi COVID-19. Saya kebetulan sekali berada di dalam ruangan mereka ketika suplai oksigen terputus. Ketika saya menanyai staf, mereka menjawab oksigen habis dan mereka menunggu suplai bantuan."

    "Beberapa tenaga pertahanan sipil, yang kebetulan berada di rumah sakit, berhasil membantu menyediakan tabung oksigen. Tabung itu kemudian digunakan untuk membantu pasien-pasien yang sekarang seperti orang tua saya," ujar salah anak pasien COVID-19, Fares Kharabsha.

    Bagi keluarga pasien yang berada di luar rumah sakit, mereka dilarang masuk ketika suplai oksigen bantuan terhenti. Keluarga-keluarga pasien tersebut kemudian memprotes Rumah Sakit karena menghalangi mereka untuk mengecek anggota keluarga yang dirawat. Menurut laporan Al Jazeera, total ada 150 anggota keluarga yang tidak masuk ketika oksigen terhenti.

    Insiden tersebut langsung memicu reaksi dari berbagai pihak. PM Yordania Bisher Al-Khasawneh, misalnya, memerintahkan investigasi atas kasus terkait. Sementara itu, Raja Abdullah II berkunjung ke rumah sakit untuk menenangkan anggota keluarga yang panik serta menegur Direktur Rumah Sakit Al-Salt.

    "Bagaimana bisa kejadian seperti itu terjadi? Hal tersebut tak bisa diterima," ujar Raja Abdullah II kepada Direktur Rumah Sakit yang langsung ia bekukan izin kerjanya.

    Per berita ini ditulis, suplai oksigen di Rumah Sakit Al-Salt sudah normal kembali.

    Sebagai catatan tambahan, kasus COVID-19 di Yordania secara gradual menanjak beberapa hari terakhir. Hal itu memaksa Pemerintah Yordania untuk memberlakukan sejumlah pembatasan ketat seperti larangan keluar rumah sepanjang hari setiap Jumat. Adapun Yordania tercatat memiliki 465 ribu kasus dan 5200 kematian akibat COVID-19.

    Baca juga: Kunjungi Yordania, Retno Marsudi Sampaikan Kembali Bahaya Nasionalisme Vaksin

    ISTMAN MP | AL JAZEERA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.