Media Myanmar Melawan Pembredelan oleh Junta Militer

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perempuan menunjukkan salam tiga jari selama protes menentang kudeta militer di Naypyitaw, Myanmar, 8 Maret 2021. [REUTERS / Stringer]

    Seorang perempuan menunjukkan salam tiga jari selama protes menentang kudeta militer di Naypyitaw, Myanmar, 8 Maret 2021. [REUTERS / Stringer]

    TEMPO.CO, Jakarta - Langkah junta Militer Myanmar membredel media-media independen mendapat perlawanan dari media terkait. Mereka menyatakan akan tetap melanjutkan peliputan soal situasi Myanmar selama kudeta berlangsung.

    Diberitakan sebelumnya, Kementerian Informasi Myanmar membredel lima independen tanpa alasan yang jelas. Kelimanya adalah Mizzima, Democratic Voice of Burma (DVB), Khit Thit, Myanmar now, dan 7Day News. Pembredelan tersebut meliputi pencabutan izin terbit dan tayang hingga waktu yang belum ditentukan.

    "Dengan pembredelan tersebut, maka kami tidak lagi diakui sebagai perusahaan media yang diperbolehkan untuk mempublikasikan atau menayangkan berita di platform manapun. Namun, hal itu tidak akan menghentikan kami," ujar Direktur Operasi DVB Myanmar di Yangon, Toe Zaw Latt, dikutip dari CNN, Selasa, 9 Maret 2021.

    DVB adalah satu dari beberapa media independen Myanmar yang beroperasi dari dari dalam dan luar negeri. Didirikan pada tahun 1992 oleh aktivis demokratik, DVB berbasis di Oslo, Norwegia dan bekerja dengan mengandalkan jaringan reporter lepas yang berada di Myanmar sertai Thailand.

    DVB mulai masuk lagi ke Myanmar ketika rezim Thein Sein mulai membuka Myanmar terhadap dunia luar dan melakukan sejumlah reformasi. Hal tersebut termasuk dihapusnya sensor ketat terhap materi publikasi. Namun, transisi itu menjadi sia-sia ketika kudeta Myanmar terjadi untuk mengambil alih pemerintahan sipil.

    "Sejak awal kami menjejak di dua tempat, satu kaki di dalam dan kaki lainnya di luar. Kami tidak pernah sepenuhnya mempercayai Militer Myanmar dan mereka juga tidak pernah mempercayai media independen. Kami seperti jodoh yang bersatu bukan karena cinta," ujar Toe Zaw Latt.

    Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing mengambil alih kekuasaan pemerintah setelah angkatan bersenjata (Tatmadaw) menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dalam kudeta pada Senin, 1 Februari 2021. Saat masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan hukum di Yangon University, ia memilih untuk mendaftar dalam sekolah militer, Defence Service Academy (DSA). Aung Hlaing pun berhasil masuk pada 1974 setelah tiga kali mendaftar. REUTERS/Lynn Bo Bo/Pool

    Mizzima Media menyatakan hal senada. Lewat postingan di akun media sosial Facebooknya, Mizzima menyatakan mereka akan tetap beroperasi dengan cara-cara yang lain. Untuk sementara waktu, semua kanal media mereka tidak akan bisa diakses dulu.

    Kepala Kampanye Myanmar dari organisasi ham Global Witness, Paul Donowitz, mengecam pembredelan yang terjadi. Menurutnya, junta militer mencoba mengembalikan Myanmar ke era kegelapan.

    "Lima perusahaan media tersebut adalah bagian integral dari lanskap media independen Myanmar. Mereka menyediakan informasi-informasi penting kepada warga."

    "Dalam situasi kudeta seperti sekarang, peliputan independen menjadi kian penting untuk melawan misinformasi dari junta militer. Mereka juga menjadi sumber panutan warga untuk mengetahui apa yang terjadi selama kudeta," ujar Donowitz menegaskan.

    Sebagai catatan, dari 1700 lebih orang yang telah ditangkap Militer Myanmar, beberapa di antaranya adalah wartawan. Media-media independen yang dibredel mengaku tengah mencari cara bagaimana tetap beroperasi sambil menjaga keselamatan staf mereka di lapangan.

    Baca juga: Junta Militer Myanmar Klaim Temukan Anggaran Rahasia Aung San Suu Kyi

    ISTMAN MP | CNN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.