Protes Kudeta, Serikat Pekerja Myanmar Serukan Mogok Nasional

Para pengunjuk rasa yang mengenakan topeng yang menggambarkan pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi, memberikan hormat tiga jari saat mereka mengambil bagian dalam protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, 28 Februari 2021. REUTERS/Stringer

TEMPO.CO, Jakarta - Serikat Pekerja Myanmar tidak mau ketinggalan ikut menentang kudeta yang terjadi di sana. Ahad kemarin, 7 Maret 2021, mereka menyerukan gerakan mogok nasional yang akan efektif dimulai Senin ini. Tujuannya, untuk menghentikan secara paksa kegiatan ekonomi di Myanmar yang pada akhirnya akan mendorong junta militer menghentikan kudeta.

Dikutip dari Channel News Asia, sembilan organisasi di bawah bendera Serikat Pekerja Myanmar sudah menyatakan akan ikut dalam gerakan itu. Adapun mereka berharap hal itu akan memicu langkah serupa dari organisasi-organisasi lainnya.

"Gerakan mogok ini akan meningkatkan kemungkinan mereka yang di sektor swasta pun juga akan mau terlibat (gerakan menentang kudeta). Menurut kami ini strategi yang masuk akal untuk menekan Militer Myanmar," ujar Direktur Program dan Regional Solidarity Center, Andrew Tillet Seks, Ahad kemarin.

Pihak Militer Myanmar belum menanggapi hal tersebut. Adapun jika kegiatan ekonomi benar-benar terhenti akibat mogok nasional, maka hal itu akan menjadi pukulan berikutnya terhadap Militer Myanmar.

Per berita ini ditulis, situasi di Myanmar masih panas. Warga-warga terus menggelar unjuk rasa, mendesak Militer Myanmar untuk segera mengakhiri kudeta dan membebaskan para tahanan politik. Namun, Militer Myanmar bergeming dan malah menembaki warga yang berdemo.

Menurut laporan PBB, aksi Militer Myanmar tersebut sudah memakan banyak korban jiwa. Jumlahnya kurang lebih 54 orang. Di sisi lain, Militer Myanmar juga sudah menculik lebih dari 1700 orang yang terdiri atas aktivis hingga pejabat negara.

Kondisi di Myanmar tak ayal mendorong berbagai negara mengambil sikap tegas seperti pemberian sanksi. Amerika bahkan baru saja memberikan sanksi baru berupa pemblokiran aktivitas dagang Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, dan dua konglomerasi militer. Keduanya adalah Myanmar Economic Cooperation (MEC) dan Myanmar Economic Holdings Limited (MEHL). Pemblokiran efektif per Senin ini.

Khususu MEC dan MEHL, selama ini keduanya digunakan Militer Myanmar sebagai sumber uang mereka. Via keduanya, Militer Myanmar mengendalikan industri-industri yang menguntungkan mulai dari bir, rokok, telekomunikasi, ban, pertambangan, serta real estate.

Pemblokiran aktivitas dagang tersebut, apabila dikombinasikan dengan mogok nasional, bisa memiskinkan Militer Myanmar untuk memaksa mereka menghentikan kudeta. Namun, sejauh ini, Militer Myanmar optimistis bakal bisa bertahan. Militer Myanmar mengaku sudah terbiasa dengan sanksi dan bakal bertahan dengan sekutu-sekutu setianya.

Baca juga: Dua Perusahaan yang Terkait Militer Myanmar Diblokir Amerika Serikat

ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA






Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

29 menit lalu

Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

Mantan ratu kecantikan Myanmar itu telah terlunta-lunta sejak 21 September di Thailand.


Amerika Gelontorkan Rp 2,5 Triliun untuk Bantu Etnis Rohingya

3 hari lalu

Amerika Gelontorkan Rp 2,5 Triliun untuk Bantu Etnis Rohingya

Total bantuan AS dalam menanggapi Krisis Pengungsi Rohingya telah mencapai hampir US$1,9 miliar (Rp 28 triliun) sejak Agustus 2017.


Jepang Setop Kerja Sama Beri Pelatihan Militer ke Myanmar

3 hari lalu

Jepang Setop Kerja Sama Beri Pelatihan Militer ke Myanmar

Akibat eksekusi junta militer terhadap aktivis pro-demokrasi, Jepang menghentikan pemberian latihan militer untuk Myanmar.


Retno Marsudi Menyoroti Krisis Rohingya Makin Memburuk

4 hari lalu

Retno Marsudi Menyoroti Krisis Rohingya Makin Memburuk

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melihat penyelesaian krisis Rohingya ini dipersulit oleh situasi di Myanmar.


Menlu ASEAN Bertemu di New York Bahas Persiapan KTT

4 hari lalu

Menlu ASEAN Bertemu di New York Bahas Persiapan KTT

Para menteri luar negeri ASEAN bertemu di sela-sela Sidang Umum ke-77 PBB di New York untuk membahas persiapan KTT November 2022


Helikopter Militer Myanmar Menembak Sekolah, 7 Anak Tewas Belasan Terluka

7 hari lalu

Helikopter Militer Myanmar Menembak Sekolah, 7 Anak Tewas Belasan Terluka

Helikopter militer Myanmar dilaporkan menembaki sebuah sekolah, akibatnya sedikitnya 7 anak tewas dan belasan lainnya terluka


Retno Marsudi dan Antonio Guterres Bahas Myanmar

8 hari lalu

Retno Marsudi dan Antonio Guterres Bahas Myanmar

Retno Marsudi membahas soal krisis di Myanmar dalam pertemuan dengan Antonio Guterres di New York.


Tuntutan Tidak Didengar, Buruh Rencanakan Aksi Mogok Nasional

9 hari lalu

Tuntutan Tidak Didengar, Buruh Rencanakan Aksi Mogok Nasional

Serikat buruh akan melakukan aksi mogok nasional jika tuntutan mereka dalam demo lanjutan tetap tidak didengar.


Pemakaman Ratu Elizabeth II: Berikut Daftar Undangan, Siapa yang Tidak Diundang?

10 hari lalu

Pemakaman Ratu Elizabeth II: Berikut Daftar Undangan, Siapa yang Tidak Diundang?

Pemakaman Ratu Elizabeth II pada 19 September nanti akan dihadiri 2.200 orang. Berikut daftar undangan, tapi siapa yang tak diundang?


Buntut Tarif Ojol Dilanggar Aplikator, Pengemudi Berencana Mogok Nasional

11 hari lalu

Buntut Tarif Ojol Dilanggar Aplikator, Pengemudi Berencana Mogok Nasional

Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) Lily Pujiati menjelaskan masih banyak pengemudi ojek online atau ojol yang mengeluhkan aplikator memotong lebih dari 15 persen.