Amerika Beri Sanksi Rusia Atas Kasus Upaya Pembunuhan Alexei Navalny

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Amerika akhirnya menjatuhkan sanksi kepada Rusia sebagai hukuman atas percobaan pembunuhan aktivis anti-korupsi Alexei Navalny. Hal ini sekaligus menjadi sikap tegas pertama Presiden Amerika Joe Biden terhadap administrasi Presiden Vladimir Putin.

    Dikutip dari situs Channel News Asia, sanksi dari Amerika menyasar tujuh pejabat senior Rusia dan 14 entitas atau organisasi. Salah satu di antaranya adalah Kepala Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) yang disebut-sebut memiliki peran integral dalam percobaan pembunuhan Navalny. Ia bernama Alexander Bortnikov.

    "Komuntas Intelijen Amerika telah melakukan investigasi secara matang untuk bisa menyakini pejabat FSB menggunakan racun syaraf terhadap kepala oposisi Alexei Navalny," ujar Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki, Selasa waktu Amerika, 2 Maret 2021.

    Selain Kepala Bortnikov, mereka yang juga terkena sanksi Amerika adalah Kepala Direktorat Kebijakan Domestik Kremlin Andrei Yarin, Deputi Menteri Pertahanan Alexei Krivoruchko, Pejabat Kementerian Pertahanan Pavel Popov, mantan PM Sergei Kiriyenko, Kepala Staff Kepresidenan Alexander Kalashinikov, dan Jaksa Agung Igor Krasnov.

    Dengan adanya sanksi, ketujuh pejabat tersebut tak bisa lagi mengakses aset mereka di Amerika karena telah dibekukan. Selain itu, mereka juga tidak bisa lagi berkomunikasi dengan warga Amerika. Menurut laporan Channel News Asia, jika ada warga Amerika yang mencoba betransaksi dengan target sanksi, maka ia akan dikenai hukuman juga.

    Per berita ini ditulis, belum diketahui apakah Bortnikov cs memiliki aset atau bisnis di Amerika. Jika tidak ada, maka pemberian sanksi tersebut menjadi tak lebih dari langkah simbolik Joe Biden terhadap Vladimir Putin.

    Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Wakil Presiden AS Joe Biden selama pertemuan mereka di Moskow 10 Maret 2011. [REUTERS / Alexander Natruskin]

    Sementara itu, untuk sanksi terhadap 14 entitas, mayoritas adalah afiliasi dari produsen zat biologis dan kimia di Rusia. Mereka terdiri atas sembilan perusahaan di Rusia, tiga di Jerman, satu di Swiss, dan satu lembaga riset Rusia.

    Dari sekian banyak sanksi yang diberikan, Presiden Vladimir Putin kembali lolos dari sanksi. Jen Psaki berkata, ada alasan jelas kenapa Joe Biden memilih untuk tidak ikut menghukum Vladimir Putin.

    "Keputusan itu diambil untuk tetap bisa menjaga komunikasi ke depannya," ujar Psaki menegaskan.

    Diberitakan sebelumnya, Alexei Navalny saat ini berstatus terpidana atas kasus pelanggaran penangguhan hukuman. Di pengadilan tingkat pertama, majelis hakim memvonisnya 3,5 tahun penjara. Navalny kemudian mengajukan banding yang sayangnya gagal walaupun lama hukumannya dipangkas menjadi enam pekan saja.

    Pemidanaan Navalny dianggap berbagai pihak sebagai upaya Pemerintah Rusia untuk membungkamnya. Selama ini, Navalny memang tidak pernah menutupi niatannya untuk membongkar korupsi rezim Presiden Rusia Vladimir Putin dan kemudian mencalonkan diri sebagai pemimpin yang baru.

    Hal itu membuat rezim Vladimir Putin memandang Alexei Navalny sebagai sosok berbahaya. Tahun lalu, sebuah operasi pembunuhan dilancarkan kepadanya yang diduga kuat atas permintaan Putin. Untuk membunuh Navalny tanpa jejak, tim eksekutor menggunakan racun syaraf Novichok. Beruntung, Navalny berhasil bertahan hidup walau kemudian ditangkap oleh aparat.

    Baca juga: Uni Eropa Beri Sanksi Baru Kepada Rusia Terkait Alexei Navalny

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.