Kisah Rumah Duka Kewalahan Hadapi Lonjakan Kematian Pasien Covid-19

Seorang pasien virus Corona beristirahat di ruang ICU University of Washington Medical Center, Seattle, AS, 24 April 2020. Amerika Serikat hingga kini masih menjadi negara dengan kasus virus Corona terbanyak di dunia dengan jumlah kasus mencapai 988.469 kasus. REUTERS/David Ryder

TEMPO.CO, Jakarta - Layanan rumah duka Houston, yang dikelola oleh Chuck Pryor biasanya sepi setiap Minggu. Namun pada pekan ketiga Februari 2021, rumah duka itu masih saja sibuk persis seperti setahun sebelumnya, dimana telepon sering berdering. Telepon-telepon yang masuk itu mengabarkan pada Pryor bahwa ada lagi pasien Covid-19 yang meninggal.

Angka kematian akibat Covid-19 di Amerika Serikat hampir menyentung angka setengah juta.

“Ini secara mental melelahkan,” kata Pryor, 59 tahun, yang menjalankan sebuah bisnis layanan rumah duka kecil-kecilan bersama istrinya Almika.

Seorang sukarelawan meletakkan bendera Amerika Serikat mewakili beberapa dari 200 ribu nyawa yang telah hilang di negara itu dalam pandemi penyakit virus corona 2019 (Covid-19) di National Mall, Washington, Amerika Serikat, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Joshua Roberts/aww/cfo (REUTERS/JOSHUA ROBERTS)

Baca juga: Infeksi Virus Covid-19 Jenis Baru, Amerika Sudah Kumpulkan Hampir 1.000 Kasus

Bunyi sirine ambulan membawa pasien – pasien Covid-19 yang meninggal telah membuat banyak pengelola rumah duka di Amerika Serikat kewalahan. Dutch Nie, juru bicara National Funeral Directors Association mengatakan beberapa keluarga yang mengelola bisnis rumah duka menangani penumpukan jumlah pasien Covid-19 yang harus segera dikebumikan.

Ada rumah duka yang bahkan menangani jumlah yang sangat banyak orang-orang yang harus dimakamkan selama berbulan-bulan. Kenaikan jumlah orang yang meninggal ini di atas jumlah normal yang biasa mereka kerjakan.

“Sebagian besar pemilik rumah duka menyadari ini karir 24 jam dan 365 hari. Namun, Anda tidak terbiasa bekerja dengan jam-jam seperti itu,” kata Nie.

Pandemi Covid-19 telah membuat pengelola rumah duka seperti Pryor harus mengubah cara kerja. Rumah sakit – rumah sakit yang kewalahan dengan jenazah pasien Covid-19, ingin agar jenazah tersebut segera dikeluarkan dari rumah sakit secepatnya.   

Kondisi ini masih belum bisa diimbangi karena sulitnya mencari staf yang terlatih, peti mati dan APD. Belum lagi dering telepon dari anggota keluarga pasien yang berduka dan kesulitan.       

Sampai pekan ketiga Februari 2021, serangan wabah virus corona masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Pasien meninggal akibat Covid-19 masih menggunung pada musim panas dan musim gugur membuat pekerja di rumah duka kelelahan, sakit hingga ada pula yang minta berhenti kerja.

“Mereka yang memutuskan berhenti kerja karena secara mental mereka kesulitan mengatasinya. Saya hanya berdoa pada Allah, tolong beri saya kekuatan karena sejujurnya saya ingin angkat kaki saat ini. Saya pun mengkhawatirkan diri saya yang rapuh. Jadi, saya meminta pertolongan pada Tuhan,” kata Pryor.

Dia menceritakan beberapa kisah yang dia dengar atas tugas yang dia lakukan telah menghantuinya. Salah satunya, seorang ibu muda usia 30 tahun-an meninggal karena komplikasi Covid-19. Lantaran kondisinya yang terus memburuk, tim dokter melakukan operasi C-section untuk menyelamatkan bayi kembar yang dikandungnya.    

      

Sumber: Reuters






Bahaya Diffuser dengan Campuran Cairan Antiseptik

1 jam lalu

Bahaya Diffuser dengan Campuran Cairan Antiseptik

Cairan antiseptik memiliki sejumlah kandungan yang membahayakan sehingga tak dianjurkan digunakan untuk campuran diffuser.


Satu Keluarga Keturunan India Menghilang, Terduga Penculik Coba Bunuh Diri

3 jam lalu

Satu Keluarga Keturunan India Menghilang, Terduga Penculik Coba Bunuh Diri

Seorang pria yang diduga penculik sebuah keluarga dari California, AS, ditahan etelah mencoba untuk bunuh diri.


Ingin Jadi Warga Rusia, Eks Marinir AS Serang Polisi dan Dipenjara 4,5 Tahun

9 jam lalu

Ingin Jadi Warga Rusia, Eks Marinir AS Serang Polisi dan Dipenjara 4,5 Tahun

Mantan marinir AS Robert Gilman dijatuhi hukuman 4,5 tahun di Moskow karena menyerang polisi saat mabuk. Ia disebut-sebut ingin jadi warga Rusia.


Begini Efek Setelah Mengidap Covid-19

10 jam lalu

Begini Efek Setelah Mengidap Covid-19

Usai mengidap Covid-19 ternyata dapat mempengaruhi fungsi kogitif otak. Apa efek samping lainnya?


Dituding Siapkan Senjata Nuklir Kiamat Poseidon, Ini Kata Rusia

17 jam lalu

Dituding Siapkan Senjata Nuklir Kiamat Poseidon, Ini Kata Rusia

Media Barat melaporkan Rusia sedang bersiap menguji super-torpedo Poseidon, yang sering disebut sebagai 'senjata Kiamat'


Militer Amerika Serikat Klaim Telah Menumpas Pimpinan Kelompok Al Shabaab

19 jam lalu

Militer Amerika Serikat Klaim Telah Menumpas Pimpinan Kelompok Al Shabaab

Militer Amerika Serikat mengklaim telah membunuh seorang pemimpin kelompok radikal al Shabaab dalam sebuah serangan udara sepanjang akhir pekan lalu


Badai Ian Tewaskan 100 Orang di Amerika Serikat

20 jam lalu

Badai Ian Tewaskan 100 Orang di Amerika Serikat

Korban tewas akibat Badai Ian di Amerika Serikat sudah mencapai 100 orang sampai Senin malam, sementara pencarian terus dilakukan


Noam Chomsky: AS Harus Buka Ruang Dialog Rusia Ukraina

1 hari lalu

Noam Chomsky: AS Harus Buka Ruang Dialog Rusia Ukraina

Noam Chomsky, filsuf politik asal Amerika Serikat meminta Washington untuk berhenti bertindak seolah mencegah negosiasi di antara Rusia Ukraina.


Donald Trump Menggugat CNN

1 hari lalu

Donald Trump Menggugat CNN

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi melayangkan tuntutan melawan CNN dengan tuduhan pencemaran nama baik


PPKM Level 1 di Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali Diperpanjang hingga 7 November

1 hari lalu

PPKM Level 1 di Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali Diperpanjang hingga 7 November

Pemerintah memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) wilayah Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali