Joe Biden Ajak Facebook dan Google Tangkal Komunitas Anti-Vaksin

Seorang tentara Angkatan Udara AS mendapat vaksin COVID-19 di Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, Korea Selatan, 29 Desember 2020. Pasukan AS-Korea (USFK), yang mencakup sekitar 28.500 personel militer Amerika serta ribuan personel lain dan anggota keluarganya, memberikan dosis pertama kepada petugas kesehatan garis depan dan penanggap pertama di pasukan, kata seorang pejabat USFK. Staff Sgt. Betty R. Chevalier/U.S. Air Force/DVIDS/Handout via REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Joe Biden khawatir kampanye vaksinasi akan terganjal kelompok anti-vaksin. Oleh karenanya, ia mulai mendekati perusahaan-perusahaan media sosial untuk membahas hal tersebut. Kepala Staf Kepresidenan Ron Klain pun dikabarkan sudah menemui Facebook dan Google untuk membahas hal tersebut.

"Disinformasi yang membuat orang ragu untuk divaksin adalah tantangan terbesar kampanye vaksinasi COVID-19. Tidak ada pemain yang lebih besar dibanding pemilik media sosial dalam hal ini," ujar pejabat pemerintah yang mengetahui upaya terkait, Jumat, 19 Februari 2021.

Pejabat tersebut menjelaskan, apa yang diinginkan administrasi Joe Biden pada dasarnya adalah mencegah konten anti-vaksin trending. Sebab, jika sampai isu tersebut trending, ia khawatir perkembangannya tidak akan terkendali.

Salah satu contoh yang dipakai Joe Biden, menurut sumber itu, adalah protes anti-vaksin di Stadion Dodger, Los Angeles, awal Februari lalu. Ia mengatakan, Joe Biden tidak ingin sampai event serupa terjadi lagi dan viral kemudian hari.

Event tersebut diorganisir lewat sebuah laman di Facebook yang membagikan klaim sesat soal pandemi COVID-19, masker, dan imunisasi. Gawatnya, event itu sukses, berhasil menutup akses publik ke stadion yang menjadi lokasi vaksinasi COVID-19 terbesar di Amerika.

Presiden AS Joe Biden berbicara tentang rencana pemerintahannya untuk memperkuat manufaktur Amerika selama penampilan singkat di South Court Auditorium di Gedung Putih di Washington, AS, 25 Januari 2021. [REUTERS / Kevin Lamarque]

Berberapa tahun terakhir, jumlah anti-vaksin di Amerika memang meningkat. Menurut survei dari Center for Countering Digital Health pada 2020, akun media sosial yang dimiliki kelompok anti-vaksin berhasil meningkatkan pengikutnya hingga 7,8 juta sejak 2019. Hal itu tak ayal bikin Joe Biden was-was.

"Untungnya perusahaan-perusahaan media sangat responsif dan langsung membalas Gedung Putih. Namun, butuh waktu untuk melihat apakah kerjasama itu berhasil menekan misinformasi," ujar sumber itu.

Hingga berita ini ditulis, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, Facebook dan Twitter mengkonfirmasi mereka sudah membalas ajakan administrasi Joe Biden.

Juru bicara Facebook berkata, perusahaannya sudah mendekati Gedung Putih untuk membahas bantuan apa saja yang bisa mereka berikan. Baru-baru ini, Facebook menerapkan kebijakan hapus akun dan konten yang berkaitan dengan misinformasi COVID-19.

Hal senada disampaikan oleh Twitter. Lewat juru bicaranya, mereka mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan administrasi Joe Biden untuk membahas isu-isu penting seperti misinformasi COVID-19.

Baca juga: Pasca Investigasi WHO, Cina Kembali Majukan Teori COVID-19 Berasal dari Amerika

ISTMAN MP | REUTERS







Malaysia Cabut Wajib Masker di Pesawat

3 jam lalu

Malaysia Cabut Wajib Masker di Pesawat

Kementerian Kesehatan Malaysia mengeluarkan kebijakan baru tidak lagi mewajibkan penumpang menggunakan masker dalam pesawat terbang.


Sri Mulyani: Luka yang Disebabkan Pandemi Covid-19 ke Ekonomi Sangat Dalam

6 jam lalu

Sri Mulyani: Luka yang Disebabkan Pandemi Covid-19 ke Ekonomi Sangat Dalam

Sri Mulyani menjelaskan, masalah utama pandemi Covid-19 adalah terancamnya jiwa manusia.


Selalu Waspada Covid-19, Perhatikan Beda Gejala Batuk dan Flu Biasa

11 jam lalu

Selalu Waspada Covid-19, Perhatikan Beda Gejala Batuk dan Flu Biasa

Covid-19 dan flu memiliki gejala yang serupa, namun terdapat perbedaan antara keduanya. Perlu memperhatikan perbedaannya.


Dunia Melihat Indonesia sebagai Negara Super Power Mini, Apa Maksud Luhut

1 hari lalu

Dunia Melihat Indonesia sebagai Negara Super Power Mini, Apa Maksud Luhut

Luhut Binsar Panjaitan menceritakan beberapa pakar ekonomi di Amerika Serikat memuji kondisi perekonomian Indonesia.


Ancaman Resesi Global 2023, Luhut: Kita Harus Kompak Hadapi Keadaan

1 hari lalu

Ancaman Resesi Global 2023, Luhut: Kita Harus Kompak Hadapi Keadaan

Luhut Binsar Panjaitan meminta Indonesia harus kompak menghadapi ancaman resesi global 2023.


Daftar 14 Samsat Keliling Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi Hari Ini

1 hari lalu

Daftar 14 Samsat Keliling Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi Hari Ini

Polda Metro Jaya membuka layanan Samsat Keliling di 14 wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) untuk hari ini.


Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

1 hari lalu

Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

Pemerintah Kanada mengumumkan akan segera mencabut semua pembatasan perjalanan Covid-19.


Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

2 hari lalu

Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

Pakar menjelaskan batuk kronik berkepanjangan hingga beberapa bulan dapat mengindikasikan penyintas mengalami long COVID-19.


Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

3 hari lalu

Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

Warga China minta para ahli epidemi berbicara dan pemerintah melakukan penelitian komprehensif dan transparan untuk meninjau kebijakan nol Covid.


Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

3 hari lalu

Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

Pemerintah resmi membuka penawaran ORI (Obligasi Negara Ritel Indonesia) seri ORI022 mulai hari ini, Senin, 26 September 2022 pukul 09.35 WIB.