Sambil Ucapkan Selamat Imlek, Taiwan Tegaskan Tak Akan Tunduk ke Cina

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menghadiri peringatan 62 Tahun Krisis Selat Taiwan di Kinmen pada Ahad, 23 Agustus 2020. Reuters

    Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menghadiri peringatan 62 Tahun Krisis Selat Taiwan di Kinmen pada Ahad, 23 Agustus 2020. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Taiwan melanjutkan sindirannya kepada Pemerintah Cina. Dalam ucapan Selamat Imlek kepada Cina, Presiden Tsai Ing-Wen kembali menegaskan bahwa negaranya tak akan tunduk pada intimidasi negeri tirai bambu. Walau begitu, ia terbuka untuk negosiasi yang konstruktif dengan Cina.

    "Saya ingin menegaskan kembali bahwa Taiwan konsisten dengan sikapnya. Kami tidak akan tunduk pada tekanan (Cina) ataupun bertindak gegabah ketika mendapat bantuan," ujar Tsai Ing-Wen, dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 9 Februari 2021.

    Ucapan serupa pernah disampaikan Tsai Ing-Wen pada Januari lalu. Kala itu, sambil mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021, ia mengatakan kepada Cina bahwa Taiwan adalah negara independen, bukan bagian dari Cina. Selain itu, ia membuka pintu jika Cina ingin berdiskusi soal status Taiwan.

    Kali ini, Tsai Ing-Wen menambahkan bahwa kedamaian antara Taiwan dan Cina tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Hal tersebut memerlukan keterlibatan kedua sisi secara adil dan mutual. Selama Cina memilih untuk merespon situasi Taiwan dengan langkah militer, kata Tsai Ing-Wen, damai akan sulit tercapai.

    "Kami mendoakan segala yang terbaik untuk warga di belahan lain selat Taiwan (Cina)...Kami berharap kita bisa bersama-sama mempromosikan kedamaian dan stabilitas di kedua sisi selat," ujar Tsai Ing-Wen menegaskan.

    Per berita ini ditulis, Cina belum merespon ucapan Tsai Ing-Wen tersebut.

    Sebuah jet tempur Indigenous Defense Fighter (IDF) dan rudal jelajah udara-ke-darat Wan Chien terlihat di Makung Air Force Base di pulau lepas pantai Penghu Taiwan, 22 September 2020. Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat telah secara signifikan meningkatkan bantuan militer ke Taiwan. REUTERS/Yimou Lee

    Cina, sebagaimana diketahui, mengklaim Taiwan sebagai miliknya. Hal itu sama seperti yang mereka lakukan terhadap Macau dan Hong Kong. Oleh karenanya, menurut Cina, tidak bisa Taiwan mengklaim sebagai negara merdeka.

    Untuk memaksa Taiwan menjadi bagian dari Cina, berbagai upaya intimidasi dilakukan. Salah satunya dengan mengirimkan armada militer untuk menerobos wilayah kedaulatan Taiwan. Taiwan merespon itu dengan mengirimkan jet tempurnya beberapa kali untuk mengusir armada Cina.

    Cina pernah mengatakan pada Januari lalu bahwa segala pengakuan kemerdekaan oleh Taiwan akan mereka anggap sebagai ajakan berperang. Dan, mereka tidak akan merespon ajakan negosiasi dari Tsai Ing-Wen yang dianggapnya trik murahan.

    Taiwan, di sisi lain, mendapat dukungan Amerika untuk bertahan dari intimidasi Cina. Amerika, yang masih berseteru dengan Cina, berkali-kali mengirimkan bantuan ke Taiwan, mendukungnya sebagai negara merdeka.

    Pada pekan lalu, misalnya, Presiden Amerika Joe Biden mengirimkan Kapal Perang USS John S McCain untuk berpatroli di Selat Taiwan. Penugasan tersebut kurang dari dua pekan sejak Cina mengirim delapan pesawat pengebom dan empat jet tempur ke Taiwan untuk memprovokasinya. 

    Baca juga: Cina Peringatkan Taiwan Bahwa Memerdekakan Diri Berarti Perang Dengannya

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.