PBB: Peretas Korea Utara Curi 300 Juta Dollar untuk Buat Senjata Nuklir

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rudal balistik yang bisa diluncurkan dari kapal selam (SLBM) dipamerkan dalam parade militer untuk memperingati Kongres Partai Buruh ke-8 di Pyongyang, Korea Utara 14 Januari 2021. Korea Utara telah melakukan uji coba rudal balistik SLBM dari bawah air, dan tengah menganalis pengembangan kapal selam operasional untuk membawa rudal. KCNA via REUTERS

    Rudal balistik yang bisa diluncurkan dari kapal selam (SLBM) dipamerkan dalam parade militer untuk memperingati Kongres Partai Buruh ke-8 di Pyongyang, Korea Utara 14 Januari 2021. Korea Utara telah melakukan uji coba rudal balistik SLBM dari bawah air, dan tengah menganalis pengembangan kapal selam operasional untuk membawa rudal. KCNA via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bocor mengungkap sejumlah rahasia di balik program nuklir Korea Utara. Salah satunya soal bagaimana Korea Utara mendanai program tersebut dengan sejumlah sanksi yang menimpanya. Ternyata, mereka mengandalkan peretas untuk mencari dana.

    Dikutip dari CNN, Pemimpin Agung Korea Utara Kim Jong Un mengerahkan sejumlah peretas untuk menyasar institusi keuangan dan pasar mata uang virtual. Peretas tersebut kemudian diminta untuk mencuri dana untuk membiayai program nuklir Korea Utara. Menurut pengakuan salah satu negara, dalam laporan PBB, mereka telah mencuri hingga US$300 juta.

    "Mereka mencuri aset virtual senilai US$316,4 juta Dollar antara tahun 2019 hingga 2020," ujar laporan terkait, Selasa, 9 Februari 2021.

    Laporan PBB tersebut melanjutkan, Korea Utara sesungguhnya bisa mencari dana tambahan dari berbagai sumber lain. Namun, situasi COVID-19 membuat mereka tidak bisa bergerak seleluasa biasanya.

    Perlu diketahui, Korea Utara menutup perbatasannya untuk meminimalisir kemungkinan COVID-19 masuk. Namun, dampaknya, hal itu memutus hubungan ekonomi Korea Utara dengan negara-negara sekutunya. Salah satunya dengan Cina yang selama ini membantu Korea Utara bertahan hidup.

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melambai saat upacara Kongres Partai Buruh ke-8 di Pyongyang, Korea Utara 14 Januari 2021.[KCNA melalui REUTERS]

    Salah satu perdagangan Korea Utara yang terdampak parah oleh penutupan itu adalah sektor energi. Korea Utara tidak bisa lagi mengandalkan ekspor batu bara yang pada 2019 lalu membantu mereka mengumpulkan US$370 juta. Jadi, meski pandemi COVID-19 berhasil ditekan, mereka harus mencari sumber dana lain, termasuk peretasan, untuk mendanai program-programnya tak terkecuali program nuklir.

    Misi Korea Utara di PBB, hingga berita ini ditulis, belum memberikan tanggapan. Namun, klaim di laporan PBB sejalan dengan rencana Kim Jong Un sejauh ini.

    Dalam kongres politik yang berlangsung bulan lalu, Kim Jong Un menyatakan Korea Utara akan mengembangkan senjata baru dalam program militernya. Hal itu mulai dari nuklir, rudal jelajah, hingga rudal yang bisa menyasar beberapa target sekaligus.

    Mantan Presiden Amerika Donald Trump sempat mencoba untuk membujuk Kim Jong Un melakukan denuklirisasi. Namun, dalam tiga pertemuan sejak 2018, tak ada satupun yang membuahkan hasil. Donald Trump kemudian memutuskan untuk memfokuskan perhatiannya ke Pilpres Amerika di mana ia kalah.

    Baca juga: Dokumen PBB Sebut Korea Utara Masih Kembangkan Senjata Nuklir

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.