Amerika Serikat Tak Bisa Sendiri Jadi Mediator Israel - Palestina

Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh saat menyampaikan pidato menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai rencana perdamaian Timur Tengah, di Ramallah di Tepi Barat yang diduduki Israel, 28 Januari 2020. [REUTERS / Raneen Sawafta]

TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh memuji putusan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) yang mengizinkan dilakukannya sebuah penyelidikan terhadap kemungkinan kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel dan fraksi di Palestina.

Shtayyeh pun mendesak Kepala Jaksa Penuntut di ICC agar membuka sebuah penyelidikan formal, yang mungkin akan membawa Palestina pada sebuah langkah penting, yakni pengakuan internasional Palestina sebagai sebuah negara.

Baca juga: Dituduh Lakukan Kejahatan Perang di Gaza, Israel Akan Lawan ICC 

Anak-anak Palestina memprotes tindakan militer Israel yang menggusur sekolah mereka, yang terbuat dari kontainer, di dekat Hebron, Tepi Barat, Rabu, 11 Juli 2018. Konflik kedua negara makin memanas terkait dengan perbatasan wilayah. REUTERS/Mussa Qawasma

Dalam wawancara dengan France 24 beberapa hari setelah putusan ICC, Shtayyeh menekankan bahwa Israel adalah penyerang utama. ICC yang bermarkas di Den Hague, Belanda, dalam putusannya menyatakan memiliki yuridiksi di territorial Palestina sehingga ini menjadi sebuah jalan dilakukannya investigasi dugaan kejahatan perang yang dilakukan kedua belah pihak (Israel dan Palestina).

Menurut Shtayyeh, pihaknya sangat yakin Amerika Serikat dibawah Pemerintahan Joe Biden, akan segera membuka kembali biro diplomatik Palestina di Washington serta kantor konsulat jenderal Amerika Serikat di Yerusalem Timur. Dia pun yakin Amerika Serikat akan melanjutkan bantuannya ke Palestina.   

Akan tetapi, Shtayyeh pun yakin pemerintahan Amerika Serikat yang baru tidak akan mungkin membatalkan putusan pemerintahan sebelumnya yang memindahkan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Ibu Kota Tel Aviv, Israel ke Yerusalem, yakni sebuah wilayah yang masih dipersengketakan dengan Palestina.  

Untuk itulah Shtayyeh mengklaim proses damai yang sesungguhnya sulit dimediasi kalau hanya Amerika Serikat sendiri. Dibutuhkan keterlibatan yang luas oleh dunia internasional untuk menciptakan solusi dua negara. Upaya tersebut harus melibatkan pemain di kawasan seperti Yordania dan Mesir serta Eropa, Rusia dan Cina.

Dalam wawancara tersebut, Shtayyeh menyayangkan keputusan beberapa negara Arab yang menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Sebab tindakan tersebut tidak berdampak apa pun pada Palestina. Dia pun mendesak negara-negara Arab untuk kembali bersatu memperjuangkan Palestina.

      

        

Sumber: https://www.france24.com/en/tv-shows/the-interview/20210207-us-can-t-be-sole-mediator-any-more-between-israel-and-palestine-says-palestinian-pm






Kisah Warga Palestina di Kuburan Gaza dan 'Bau Kematian' Menyengat

7 jam lalu

Kisah Warga Palestina di Kuburan Gaza dan 'Bau Kematian' Menyengat

Di Jalur Gaza yang padat, warga Palestina yang tidak memiliki tempat tinggal menetap di kuburan-kuburan dan terbiasa dengan 'bau kematian'.


Studi Arkeologi: Inikah Sebab Tambang Raja Salomo Telantar di Gurun Israel?

19 jam lalu

Studi Arkeologi: Inikah Sebab Tambang Raja Salomo Telantar di Gurun Israel?

Tambang tembaga di Gurun Negev Israel kemungkinan adalah situs kuno yang telah menginspirasi legenda tentang tambang emas Raja Salomo atau Sulaiman.


Dari Kamp Palestina sampai Kanjuruhan, Manfaat Senjata Gas Air Mata Dipertanyakan

1 hari lalu

Dari Kamp Palestina sampai Kanjuruhan, Manfaat Senjata Gas Air Mata Dipertanyakan

Hampir tidak ada skenario di mana penggunaan gas air mata masuk akal untuk pengendalian massa, apalagi melindungi keselamatan publik.


Kelompok HAM: Israel Menahan 800 Warga Palestina Tanpa Pengadilan

1 hari lalu

Kelompok HAM: Israel Menahan 800 Warga Palestina Tanpa Pengadilan

Israel menahan hampir 800 warga Palestina tanpa pengadilan atau tuntutan, jumlah tertinggi sejak 2008, sebuah kelompok hak asasi Israel melaporkan


Dugaan Retas HP Menko Airlangga, Jubir: Tidak Ada Kiriman File Spyware

4 hari lalu

Dugaan Retas HP Menko Airlangga, Jubir: Tidak Ada Kiriman File Spyware

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Alia Karenina buka suara soal dugaan peretasan terhadap ponsel milik Menteri Airlangga Hartarto.


Dikejar Tentara Israel, Bocah Palestina Berusia 7 Tahun Tewas

5 hari lalu

Dikejar Tentara Israel, Bocah Palestina Berusia 7 Tahun Tewas

Seorang bocah Palestina berusia 7 tahun meninggal karena gagal jantung saat dikejar tentara Israel di Kota Bethlehem, Tepi Barat


Kualifikasi Piala Asia U-17: Timnas Indonesia Menang di Laga Uji Coba

5 hari lalu

Kualifikasi Piala Asia U-17: Timnas Indonesia Menang di Laga Uji Coba

Skuad asuhan Bima Sakti menjalani laga uji coba menjelang Kualifikasi Piala Asia U-17. Timnas U-17 menang dari tim PPLP Kemenpora.


Pasukan Israel Bunuh 4 Pria Bersenjata Palestina

6 hari lalu

Pasukan Israel Bunuh 4 Pria Bersenjata Palestina

Pasukan Israel membunuh empat pria bersenjata Palestina di sebuah kota yang menjadi titik fokus kampanye penggerebekan di Tepi Barat.


Kualifikasi Piala Asia U-17, Bima Sakti Coret 4 Pemain Timnas U-16

6 hari lalu

Kualifikasi Piala Asia U-17, Bima Sakti Coret 4 Pemain Timnas U-16

Timnas U-16 akan menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-17 2023. Indonesia satu grup bersama Malaysia, Palestina, Uni Emirat Arab, dan Guam.


PBNU Sebut Perlu Komunikasi dengan Israel untuk Membantu Palestina

9 hari lalu

PBNU Sebut Perlu Komunikasi dengan Israel untuk Membantu Palestina

Ketua umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyebut pembicaraan dengan Israel perlu dilakukan untuk mempertanyakan nasib Palestina.