Beri Komentar Seksis, Presiden Komite Olimpiade Tokyo Dimarahi Netizen dan Istri

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria memakai masker pelindung di tengah wabah COVID-19 di depan arena Olimpiade raksasa di Tokyo, Jepang, 13 Januari 2021. Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Jepang atau pun penyelenggara ajang itu. Presiden IOC, Thomas Bach, sebelumnya sempat menyatakan bahwa Olimpiade Tokyo masih sesuai jadwal dan mereka tak menyiapkan rencana cadangan. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Seorang pria memakai masker pelindung di tengah wabah COVID-19 di depan arena Olimpiade raksasa di Tokyo, Jepang, 13 Januari 2021. Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Jepang atau pun penyelenggara ajang itu. Presiden IOC, Thomas Bach, sebelumnya sempat menyatakan bahwa Olimpiade Tokyo masih sesuai jadwal dan mereka tak menyiapkan rencana cadangan. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Olimpiade Tokyo, Yoshiro Mori, dalam tekanan. Ia mengeluarkan komentar seksis yang pada intinya menyebut perempuan terlalu banyak bicara sehingga rapat menjadi berlarut-larut. Gara-gara komentar itu, sekarang mantan PM Jepang itu didesak mundur dari posisinya.

    "Jika kita menambah jumlah perempuan di dalam komite, kita harus memastikan lama mereka berbicara itu dibatasi. Jika tidak, kamu dalam masalah karena mereka tidak akan berhenti bicara," ujar Mori dalam rapat Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo, Rabu kemarin, 3 Februari 2021.

    Mori melanjutkan, di dalam Komite Penyelenggara Olimpiade ada tujuh perempuan yang bertugas. Menurutnya, mereka harus tahu batas. Perempuan yang terlalu banyak bicara, menurut Mori, menjengkelkan.

    Sebagai catatan, Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo di tahun 2019 menetapkan bahwa perempuan harus lebih dilibatkan. Komposisi yang ditetapkan ada 6:4 untuk jumlah anggota laki-laki dan perempuan. Faktanya, cuma ada tujuh di dalam komite itu. Komentar Mori dianggap menggambarkan situasi bias di komite.

    Dalam waktu singkat, komentar seksis Mori menimbulkan kegemparan di Jepang. Netizen menganggap komentarnya tidak pantas dan mendesaknya untuk mundur. Dikutip dari laporan CNBC, tagar "Mori, tolong mundur" jadi trending di Twitter dari Kamis pagi.

    Meningkatnya kasus Covid-19 disebut menjadi alasan pemerintah Jepang untuk melakukan pembatalan ajang tersebut. Pada awal Januari lalu, Tokyo disebut sempat mengalami lonjakan kasus lebih dari 50 persen.

    Banyak netizen juga langsung menyasar para sponsor Olimpiade Tokyo untuk meninjau kembali keterlibatan mereka jika Mori bertahan. Mori akhirnya meminta maaf pada Kamis ini, namun tidak mempertimbangkan mundur.

    "Sesungguhnya saya juga tidak banyak berbicara dengan perempuan akhir-akhir ini," ujarnya mencoba membela diri.

    Lucunya, Mori mengaku bahwa dia jadi kena marah istri dan anak perempuannya juga karena komentarnya.

    "Istri saya berkata, 'Kamu telah berbuat jelek lagi kan? Dan selalu saya yang harus menanggung akibatnya karena kamu mencela perempuan'. Paginya, gantian anak dan cucu perempuan saya yang memarahi," ujar Mori lemas.

    Pemerintah Jepang tidak mau berkomentar banyak soal komentar Mori. Namun, atlit dan parlemen mengkritiknya. Atlit judo Jepang Noriko Mizoguchi, misalnya, merespon kasus Mori dengan mengunggah kode etik Olimpiade soal pelecehan seksual.

    Renho, anggota Parlemen Jepang, menyebut pernyataan Mori memalukan. "Komentar dia bertentangan dengan semangat Olimpiade yang ingin menyingkirkan diskriminasi dan menekankan persahabatan, solidaritas, dan kesetaraan," ujarnya menegaskan.

    Baca juga: Virus Corona, Status Darurat di Jepang Diperpanjang

    ISTMAN MP | CNBC

    https://www.cnbc.com/2021/02/04/tokyo-olympics-chief-says-he-may-need-to-resign-over-sexist-remarks-.html


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.