Pengadilan Rusia Tak Perbolehkan Alexei Navalny Tinggalkan Penjara

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny di Moskow, Russia, 29 September 2019. Navalny juga dikenal aktif di sosial media. Mayoritas pengikutnya merupakan kalangan muda, yang meledek kelompok mapan dan setia kepada Putin. Dia memiliki cara untuk mendapatkan informasi soal perusahaan dan kinerja keuangan yaitu menjadi pemegang saham minoritas. REUTERS/Shamil Zhumatov

    Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny di Moskow, Russia, 29 September 2019. Navalny juga dikenal aktif di sosial media. Mayoritas pengikutnya merupakan kalangan muda, yang meledek kelompok mapan dan setia kepada Putin. Dia memiliki cara untuk mendapatkan informasi soal perusahaan dan kinerja keuangan yaitu menjadi pemegang saham minoritas. REUTERS/Shamil Zhumatov

    TEMPO.CO, Jakarta - Kritikus yang vokal menentang Pemerintah Rusia, Alexei Navalny, tak akan keluar dari penjara dalam waktu dekat. Dikutip dari kantor berita Reuters, Pengadilan Rusia memutuskan untuk menolak permohonannya dan tetap menahan pria yang nyaris mati diracun tersebut di dalam penjara hingga persidangannya usai digelar.

    Dalam pertimbangannya, hakim pengadilan di Rusia menyatakan bahwa keputusan menahan Navalny berkekuatan hukum dan memiliki pertimbangan keamanan. Adapun Alexei Navalny tidak kaget dengan putusan itu dan akan mengajukan banding.

    "Semua sudah jelas bahkan sebelum persidangan digelar," ujar Nalvany, Kamis, 28 Januari 2021.

    Sebagaimana diketahui, Alexei Navalny ditangkap tak lama setelah ia tiba di Rusia pada 17 Januari 2021 kemarin. Saat itu, ia baru saja kembali dari Berlin, Jerman di mana ia dirawat karena menjadi korban percobaan pembunuhan dengan racun syaraf, Novichok.

    Menurut aparat penegak hukum Rusia, Alexei Navalny ditangkap karena melanggar aturan penangguhan hukuman terkait kasus penipuan di tahun 2014. Alexei Navalny mengklaim dirinya tidak memiliki urusan lagi dengan kasus tersebut, namun aparat penegak hukum berkeyakinan Alexei Navalny tetap harus menjalani penahanan.

    Tak lama setelah penangkapan itu, aparat penegak hukum memutuskan untuk menahan Navalny selama 30 hari. Hal ini yang diprotes Navalny dan kemudian memicu unjuk rasa besar-besaran dari para pendukungnya pada pekan lalu.

    Baca juga: Sumber Kremlin Sebut Alexei Navalny Mulai Mengancam Putin

    Sidang Alexei Navalny berikutnya akan digelar pada 2 Februari nanti. Dalam persidangan itu, pengadilan akan menentukan apakah penundaan hukuman selama 3,5 tahunnya akan dikonversikan menjadi hukuman penjara atau tidak.

    Sebelumnya, Alexei Navalny juga memprotes soal terbatasnya akses dia untuk menemui pengacaranya. Menurut dia, aparat Rusia sengaja mempersulitnya karena sikap yang menentang pemerintah.

    "Semua begitu hebat di sini sampai saya tidak bisa berkata-kata...Apa yang terjadi di sini adalah pelanggaran besar terhadap hukum," ujar Navalny yang kemudian meminta pendukungnya untuk tetap menggelar unjuk rasa, mendesak pemerintah untuk berubah sikap.

    Beberapa hari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa aksi unjuk rasa dan perlawanan yang dilakukan Alexei Navalny adalah pelanggaran hukum dan berbahaya. Dan, menurutnya, jika dirinya tak bertindak tegas, maka apa yang terjadi kemudian menyerupai jatuhnya Uni Soviet.

    Baca juga: Vladimir Putin Sebut Unjuk Rasa Pro Alexei Navalny Ilegal dan Berbahaya

    ISTMAN MP | REUTERS

    https://edition.cnn.com/2021/01/28/europe/navalny-russia-court-hearing-intl/index.html


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.