Aparat Federal: Ekstremis Berpotensi Menyerang Pelantikan Joe Biden

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota Pengawal Nasional Distrik Colombia berjaga di depan gedung Capitol pasca kerusuhan, di Washington, AS, 7 Januari 2021. Dalam kerusuhan yang terjadi pada Rabu (6/1) lalu di gedung Capitol dilaporkan empat orang tewas dan puluhan orang terluka. REUTERS/Jonathan Ernst

    Sejumlah anggota Pengawal Nasional Distrik Colombia berjaga di depan gedung Capitol pasca kerusuhan, di Washington, AS, 7 Januari 2021. Dalam kerusuhan yang terjadi pada Rabu (6/1) lalu di gedung Capitol dilaporkan empat orang tewas dan puluhan orang terluka. REUTERS/Jonathan Ernst

    TEMPO.CO, Jakarta - Aparat penegak hukum federal memperingatkan warga Amerika, terutama yang berdomisili di Washington DC, bahwa peristiwa serupa kerusuhan US Capitol berpotensi terulang. Menurut mereka, kerusuhan US Capitol bisa menjadi motivator untuk kelompok kebencian atau ekstremis untuk melakukan hal serupa pada pelantikan Joe Biden nanti, 20 Januari 2021.

    Dikutip dari CNN, berbagai lembaga penegak hukum federal telah mengeluarkan buletin dan panggilan ke berbagai aparat di daerah soal potensi tersebut. Mereka mengharapkan bantuan untuk mengamankan pelantikan Joe Biden yang kabarnya akan dijaga 20 ribu tentara.

    "Kerusuhan yang terjadi di gedung US Capitol sangat mungkin merupakan bagian dari trend di mana ekstremis memanfaatkan unjuk rasa, demonstrasi, atau perkumpulan legal lainnya untuk melakukan tindak kekerasan dan kejahatan," ujar buletin intelijen yang dibagikan kepada para lembaga penegak hukum, Kamis, 14 Januari 2021.

    Buletin intelijen itu menambahkan bahwa bentuk gangguan yang bisa terjadi pada pelantikan Joe Biden beragam. Beberapa di antaranya mulai dari memusatkan serangan perhatian pada institusi pemerintah, menganggu kelompok minoritas, atau memprovokasi sesama ekstremis lewat teori-teori konspirasi.

    Situasi tersebut, menurut buletin intelijen, bisa kian parah apabila aparat tidak hati-hati dalam menindak mereka. Salah satu contohnya, jika aparat menggunakan senjata api secara serampangan, maka hal itu malah akan mendorong kelompok ekstremis untuk bertindak kian brutal pada pelantikan Joe Biden nanti.

    "Sejak kerusuhan US Capitol, retorika online terus bertambah dengan beberapa di antaranya menyinggung tindakan semena-mena soal penembakan terhadap salah satu pengunjuk rasa oleh polisi," ujar buletin intelijen.

    Seorang pendukung Presiden AS Donald Trump memegang poster "Don Wayne" di dekat Gedung Capitol AS di Washington, AS, Rabu, 6 Januari 2021. Hannah Gaber/USA TODAY via REUTERS

    Secara terpisah, biro Investigasi Federal Amerika, FBI, menyampaikan bahwa mereka sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan buruk, baik sebelum atau sesudah pelantikan Joe Biden. Bahkan, mereka sudah berkoordinasi dengan berbagai lembaga pemerintahan untuk memberi gambaran soal ancaman-ancaman yang potensial muncul.

    FBI enggan memberikan gambaran detil soal ancaman-ancaman yang ada. Namun, menurut salah seorang sumber, yang enggan disebutkan namanya, FBI telah menerima laporan bahwa akan ada "demonstrasi damai bersenjata" pada 17 Januari 2021.

    Baca juga: Trumpisme Membekas Setelah Kepergian Donald Trump

    Pengawal Presiden Amerika (Secret Service) menyatakan hal senada dalam laporan intelijennya. Dikutip dari CNN, mereka mendapatkan laporan bahwa puluhan demonstrasi akan digelar pada hari pelantikan Joe Biden meski sebagian besar akan digelar online. Namun, mereka tidak bisa memberikan keterangan soal seberapa akurat laporan itu karena berbagai platform media sosial sudah membatasi segala konten yang berkaitan dengan kegiatan ekstrem pasca kerusuhan US Capitol.

    "Upaya media sosial untuk memblokir akun mereka yang terlibat penyebaran disinformasi secara tidak langsung telah mengganggu kemampuan untuk menganalisis kegiatan-kegiatan protes di hari inagurasi," ujar laporan Secret Service.

    ISTMAN MP | CNN

    https://edition.cnn.com/2021/01/13/politics/us-government-prepares-for-extremists/index.html


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.