Kaleidoskop 2020: George Floyd dan Black Lives Matter

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Tahun 2020 adalah tahun di mana Black Lives Matter tak lagi hanya menjadi isu sampingan yang sambil lalu. Ia menjadi isu besar yang bahkan tidak terbatas di Amerika saja, namun juga di negara-negara lain. Apa yang awalnya hanya sekedar momen, berubah menjadi gerakan dan kematian pria asal Minneapolis, George Floyd, menjadi katalisnya.

    Perubahan yang pantas masuk dalam Kaleidoskop 2020 itu bermula pada 25 Mei. Sebuah toko kelontong yang berada di Minneapolis, Cup Foods, melaporkan George Floyd ke kepolisian setempat. Karyawan toko mencurigai George Floyd menggunakan uang US$20 palsu untuk membeli sebungkus rokok terlepas ia merupakan pelanggan setia di sana.

    "Karyawan sudah meminta rokok itu dikembalikan, tetapi Floyd menolak. Dia tampak mabuk dan tidak bisa mengontrol dirinya," ujar berkas pemeriksaan karyawan terkait yang dirilis ke publik.

    Di antara protes yang bermunculan di seluruh dunia setelah pembunuhan George Floyd, mural bergambar Floyd muncul pada sisa Tembok Berlin. Foto: Omer Messinger/Sipa/AP

    Kepolisian Minneapolis merespon panggilan itu, mengirimkan empat polisinya yang berada di lokasi terdekat. Salah satunya bernama Derek Chauvin di mana akan menjadi figur sentral dari kematian Floyd. Ketika mereka tiba, George Floyd masih berada di parkiran toko, di dalam mobilnya bersama dua orang.

    Salah satu aparat yang datang, Thomas Lane, mendatangi George Floyd dan mulai menanyainya beberapa hal. Keduanya terlibat pembicaraan yang tiba-tiba berujung pada Lane menodongkan pistolnya ke Floyd, memintanya untuk mengangkat tangan. Alasan di balik ditodongkannya pistol itu belum terungkap hingga sekarang.

    Lane selanjutnya mencoba memborgol George Floyd, menahannya atas tuduhan penggunaan uang palsu. Floyd dikabarkan sempat kooperatif, namun ia kemudian melawan ketika hendak dibawa ke mobil polisi. Tahu temannya kesulitan, rekan-rekan Lane datang membantu dan Derek Chauvin berada di antaranya.

    Chauvin menarik paksa George Floyd dari mobilnya hingga ia mencium aspal. Dari baliknya, Chauvin kemudian menaruh lututnya di bagian belakang leher Floyd, menahannya agar tidak kabur. Keputusan yang berujung fatal.

    Selama kurang lebih tujuh menit, Chauvin menindih leher George Floyd dengan lututnya. Floyd meronta-ronta, memohon ampun, berteriak bahwa dirinya akan mati kehabisan nafas. Setidaknya 20 kali ia berteriak dan Chauvin tidak meresponnya. Ketika Chauvin sadar, Floyd sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

    Foto mantan perwira polisi Minnesota (searah jarum jam dari kiri atas) Derek Chauvin, Tou Thao, Thomas Lane dan J. Alexander Kueng dalam kombinasi foto dari Departemen Koreksi Minnesota dan Penjara Kabupaten Hennepin di Minneapolis, Minnesota, US. Keempatnya merupakan para polisi yang terlibat dalam penangkapan George Floyd. Department of Corrections Minnesota/Reuters

    Peristiwa itu viral. Dalam hitungan menit, semua mengutuk tindakan Chauvin dan rekan-rekannya yang terekam gawai warga setempat. Hari berikutnya, 26 Mei 2020, keempat polisi itu diperkarakan dan warga Minneapolis turun ke jalan untuk memprotes tindak kekerasan yang dilakukan kepolisian terhadap George Floyd.

    Awalnya, unjuk rasa hanya berlangsung di Minneapolis, Minnesota saja. Jumlah warga hanya ratusan, tidak sampai ribuan. Namun, viralnya video kekerasan terhadap George Floyd membuat gelombang protes tak terbendung. Pada 27 Mei 2020, unjuk rasa sudah mencapai Memphis, Los Angeles, dan Portland. Di Minneapolis, kantor kepolisian dibakar. Dalam 2X24 jam, George Floyd menjadi katalis gerakan melawan rasisme yang kemudian disebut sebagai Black Lives Matter.

    Efek kematian Floyd bertahan berpekan-pekan. Tiap harinya lokasi unjuk rasa bertambah, baik di Amerika atau bahkan di belahan dunia lainnya. Bentuk unjuk rasanya pun mulai beragam, mulai dari demonstrasi konvensional hingga penghapusan objek-objek yang memiliki rekam jejak perbudakan.

    Di Bristol, Inggris, misalnya, patung pedagang budak Edward Colston dirubuhkan. Kepolisian setempat bahkan tidak mencoba menghentikan aksi tersebut. Beberapa hari kemudian, seniman lokal menggantikan patung yang dirubuhkan dengan patung Jan Reid, aktivis setempat yang mendorong penghapusan objek dengan jejak perbudakan atau kolonialisme.

    Per 31 Mei 2020, unjuk rasa sudah terjadi setidaknya di 75 kota Amerika. Tidak semuanya berjalan mulus. Beberapa berakhir kerusuhan yang memakan korban jiwa. Sebanyak 4.400 pengunjuk rasa juga ditahan. Adapun kerusuhan itu menarik perhatian inkumben Presiden Amerika Donald Trump.

    Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan tentang protes yang sedang berlangsung atas ketidaksetaraan rasial setelah kematian George Floyd oleh polisi kulit putih di Minneapolis, di Rose Garden Gedung Putih di Washington, AS, 1 Juni 2020. [REUTERS / Tom Brenner]

    Donald Trump memilih cara keras dalam merespon isu Black Lives Matter. Ia menonjolkan apa yang disebutnya sebagai Law and Order (hukum dan ketertiban). Ia mengancam akan menerjunkan Garda Nasional ke jalanan jika unjuk rasa tidak mereda. Ia bahkan sempat berkata "Jika penjarahan dimulai, maka penembakan juga akan dimulai" via Twitter-nya. Twitter, tak lama kemudian, memberi label tweet itu sebagai unggahan yang "menglorifikasi kekerasan".

    Bulan Juni, unjuk rasa Black Lives Matter sudah mencapai Washington DC. Donald Trump tetap dengan sikapnya, Law and Order. Ia kembali melempar ultimatum, militer akan dipakai jika unjuk rasa tak mereda. "Untuk menyelesaikan masalah dengan cepat," ujar Donald Trump. Namun, pengunjuk rasa tak gentar. Sebaliknya, dukungan dari politisi-politisi kian banyak ke mereka. Black Lives Matter kian masif. Belakangan, hal itu menjadi salah satu faktor yang membuat Donald Trump kalah di Pilpres Amerika.

    Sebelum menjadi nama gerakan internasional, Black Lives Matter sebenarnya adalah organisasi advokasi dan aktivisme kulit hitam yang berbasis di Amerika. Beberapa pendirinya adalah Alicia Garza, Patrisse Cullors, dan Opal Tometi. Mereka menjadi figur kunci di balik masifnya gerakan publik pasca kematian George Floyd. Memanfaatkan fondasi, jaringan, serta komunitas yang mereka bangun, mereka mengubah insiden George Floyd menjadi diskursus dan gerakan publik.

    Mereka kembali mengingatkan bahwa isu Black Lives Matter tidak terbatas pada kekerasan oleh kepolisian saja, tetapi juga disparitas perlakuan, rasisme sistemik yang diterima minoritas. Sederhananya, mereka memperlihatkan insiden George Floyd sebagai pucuk gunung es saja. Perlu diketahui, yang meninggal akibat kekerasan kepolisian pun tidak Floyd saja, tetapi juga ada Breonna Taylor, Stephon Clark, Philando Castle, Alton Sterling, Walter Scott, yang tewas dalam lima tahun terakhir.

    Perlawanan warga terhadap isu rasisme terus berkembang. Di Amerika, mereka meminta aturan penggunaan senjata oleh aparat kepolisian kembali dikaji. Selain itu, mereka juga meminta anggaran Kepolisian dipangkas dan fungsi mereka dikaji ulang. Kepolisian Amerika dianggap mengcover terlalu banyak hal yang pada akhirnya kerap berujung pada kekerasan.

    Mantan wakil Presiden Joe Bide dan senator Kamala Harris saat bersiap-siap debat di Detroit, 31 Juli 2019. Presiden dan wakil presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden dan Kamala Harris, dinobatkan menjadi Time Person of the Year oleh majalah TIME. REUTERS

    Calon Presiden kala itu, Joe Biden, pun ikut bertindak. Ia membawa pesan anti-rasisme dalam kampanye. Ia pun berjanji akan menjunjung diversitas dalam kabinetnya nanti. Sejauh ini ia tidak ingkar janji. Usai menjadi Presiden Amerika Terpilih ke-46, Joe Biden memilih banyak figur minoritas, dari hispanik hingga kulit hitam, di kabinetnya. Selain itu, ia juga mengangkat perempuan double minoritas, Kamala Harris, menjadi Wakil Presiden Amerika. Kamala Harris adalah blasteran Afrika Asia.

    Kamala Harris, dalam pidatonya, pun mengangkat isu rasisme dan bagaimana menjaga gerakan Black Lives Matter tidak redup. Menurutnya, jalan masih panjang untuk menuntaskan misi Black Lives Matter.

    "Tidak ada vaksin untuk rasisme. Kita semua harus bekerja. Untuk George Floyd, untuk Breonna Taylor, untuk nyawa-nyawa yang hilang dan terlalu banyak untuk disebut semua namanya. Ini juga untuk anak-anak kita, untuk kita. Kita harus bekerja keras untuk memenuhi janji bahwa semua adil di bawah hukum," ujar Harris.

    ISTMAN MP | LA TIMES | NY TIMES | REUTERS

    https://www.reuters.com/article/uk-minneapolis-police-protests-response/factbox-what-changes-are-governments-making-in-response-to-george-floyd-protests-idUKKBN23I01F

    https://www.reuters.com/article/us-minneapolis-police-protests-global-fa-idUSKBN23C1JO

    https://www.latimes.com/california/story/2020-12-16/black-lives-matter-protests-george-floyd-coronavirus-covid-2020

    https://www.nytimes.com/2020/05/31/us/george-floyd-investigation.html


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.