Pebisnis Monrovia Memimpin Pemerintahan Transisi Liberia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Accra: Para pemberontak dan pemerintah Liberia secara mengejutkan memilih Gyude Bryant, seorang pebisnis warga Monrovia, untuk memimpin pemerintahan transisi. Pemilihan itu dicapai setelah melalui proses perundingan selama sehari penuh oleh para delegasi.

    Bryant (54 tahun) akan disumpah untuk bekerja erat dengan pihak PBB dan badan-badan internasional lainnya dalam masa dua tahun pemerintahan transisi itu. Sumpah itu berarti pula pemilihan Bryan untuk memimpin Liberia keluar dari masa 14 tahun pertumpahan darah, dan selanjutnya menuju masa pemilihan.

    Saya telah hidup di Liberia dengan segala permasalahan yang ada, dan saya sekarang justru melihat posisi saya sebagai sumber kegairahan, kata Bryant di Accra, Ghana, lokasi yang menjadi tuan rumah pembicaraan damai selama 2,5 bulan lalu.

    Bryant yang selama ini dikenal sebagai pebisnis sekaligus politikus yang selalu memperjuangkan konsensus di negaranya itu berjanji akan berusaha mengatasi kebutuhan yang paling mendesak dan terparah dari bangsanya. Dia juga dikenal netral dalam dunia politik Liberia.

    Tokoh dari Partai Aksi Liberia itu terpilih dari hasil saringan akhir yang terdiri dari tiga kandidat terkuat. Para kandidat itu sebelumnya diajukan oleh 18 partai politik dan kelompok-kelompok masyarakat yang mewakili rakyat Liberia.

    Kandidat lainnya adalah bekas staf PBB sekaligus pesaing kuat dalam masa pemilihan 1997 lalu dari bekas Presiden Liberia Charles Taylor yang kini diasingkan di Nigeria, Ellen Jhonson-Sirleaf. Selain itu adalah Rudolph Sherman, pemimpin koalisi sejumlah partai yang bersimpati kepada Taylor.

    Banyak pihak menduga bahwa Ellen-lah yang akan terpilih. Bryant adalah kuda hitam. Ini benar-benar tidak diduga sebelumnya, kata salah seorang sumber dalam proses pemilihan. Seorang jurnalis Liberia juga bereaksi sama. Dia mengaku terkejut atas pemilihan itu karena semua orang, menurut dia, mengatakan bahwa Ellen akan menjadi orang yang tepat saat ini. Hal itu berkaitan dengan koneksinya dengan PBB dan masyarakat internasional.

    Bryant sendiri kepada para wartawan menyatakan tidak akan menarik diri dari pemilihannya itu. Saya sesungguhnya tidak terlalu terkejut karena rakyat Liberia memang membutuhkan seorang yang netral, dan saya yakin saya adalah orang yang netral, kata dia.

    Kedua faksi pemberontak, masing-masing Persatuan Liberia untuk Rekonsiliasi dan Demokrasi (LURD) dan Gerakan untuk Demokrasi di Liberia (MODEL), dan pemerintah Liberia sebagai delegasi-delegasi dalam pembicaraan itu juga menyetujui Wesley Jhonson sebagai wakil Bryant. Jhonson adalah pemimpin Partai Rakyat Bersatu.

    Sementara, kepala mediator pembicaraan damai Presiden Nigeria Jenderal Abdulsalami Abubakar berkomentar bahwa kedua pemimpin pemerintahan transisi akan menghadapi tantangan yang monumental. Abubakar mengingatkan kepada pasca masa empat tahun perang saudara dan sejarah 14 tahun peperangan yang dialami salah satu negeri di Afrika Barat itu. Anda berdua harus selalu ingat bahwa sebagai sebuah tim kalian memikul tugas yang sangat berat, kata dia.

    Pemilihan Bryant dan Jhonson itu terjadi dua hari menyusul penandatanganan kesepakatan damai diantara para delegasi. Dan sebagai bagian dari kesepakatan damai itu, pihak pemberontak setuju untuk tidak saling berebut posisi vital dalam pemerintahan transisi. Selanjutnya, pemerintah transisi terpilih akan mulai bekerja Okober mendatang. Bryant akan mengambil alih kekuasaan dari bekas wakil presiden Moses Blah, penerima limpahan kekuasaan akibat 'terusirnya' Taylor. Pemerintahan ini akan mengantar kepada pemerintahan terpilih pada 2005.

    Taylor sendiri adalah bekas seorang panglima perang. Dialah yang dianggap faktor kunci mengapa Liberia terjerumus dalam peperangan sejak 1989. PBB telah mendakwanya sebagai penjahat perang akibat peperangan Liberia dengan Sierra Leone. 150 ribu warga sipil juga menandai pertumpahan darah akibat perang saudara selamatujuh tahun di negeri itu.

    (ap/afp/reuters/wuragil)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?