Presiden Turki Erdogan: Emmanuel Macron Itu Beban untuk Prancis

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Turki Tayyip Erdogan berpidato di Istanbul, Turki, 21 Agustus 2020. [Murat Cetinmuhurdar / PPO / Handout via REUTERS]

    Presiden Turki Tayyip Erdogan berpidato di Istanbul, Turki, 21 Agustus 2020. [Murat Cetinmuhurdar / PPO / Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, kembali mengkritik Presiden Prancis Emmanuel Macron. Apabila sebelumnya ia mengkritik Emmanuel Macron soal ucapannya tentang krisis di tubuh Islam, kali ini soal langkah investigasi puluhan masjid. Menurut Erdogan, apa yang dilakukan Emmanuel Macron malah membebani Prancis.

    "Emmanuel Macron itu beban untuk Prancis. Macron dan Prancis akan memasuki periode-periode yang berbahaya. Harapan saya, Prancis mau menyingkirkan Macron sesegera mungkin," ujar Erdogan, dikutip dari kantor berita Al Jazeera, Jumat, 4 Desember 2020.

    Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Prancis tengah membidik 76 masjid yang tersebar di berbagai kota. Menurut Prancis, ke-76 masjid tersebut diduga mengajarkan paham radikalisme dan separatisme.

    Investigasi secara menyeluruh tengah dilakukan kepada masjid-masjid tersebut. Jika kecurigaan mereka terbukti, Pemerintah Prancis menegaskan bahwa mereka akan menutup masjid terkait.

    Sebelum menyasar Masjid, Prancis sudah lebih dulu menyasar figur-figur yang diduga radikal. Kurang lebih ada 66 orang yang berhasil dibuktikan radikal dan mereka, yang keseluruhannya adalah imigran, langsung dideportasi oleh Prancis ke kampung halaman masing-masing.

    Langkah-langkah yang menyasar penganut radikalisme tersebut diklaim Prancis sebagai upayanya untuk mempertahankan sekularisme. Mereka menyakini bahwa upaya separatis, dari kelompok radikal, kian agresif beberapa bulan terakhir.

    Klaim Prancis itu mengacu pada berbagai peristiwa teror yang terjadi mulai dari pembunuhan guru di Paris hingga pembantaian di Nice. Oleh karenanya, Prancis pun merasa harus lebih tegas lagi dalam menindak masalah radikalisme.

    Emmanuel Macron, yang menjadi sasaran kritik Erdogan, menegaskan bahwa tidak ada islamophobia dalam kebijakan tersebut. Di sisi lain, kata ia, juga bukan merupakan penghapusan kebebasan berpendapat. Menurut Macron, justru dirinya tengah berupaya untuk menjaga kebebasan tersebut.

    "Kami bukan Hungaria, bukan Turki. Saya tidak bisa menerima Prancis dikatakan mengurangi kebebasan...Prancis malah diserang karena memperjuangkan kebebasan berpendapat. Kami kesepian," ujarnya.

    ISTMAN MP | AL JAZEERA | CHANNEL NEWS ASIA

    https://www.aljazeera.com/news/2020/12/4/erdogan-hopes-france-gets-rid-of-macron-trouble

    https://www.channelnewsasia.com/news/world/we-re-not-hungary-macron-says-rejecting-illiberal-accusations-13703842


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H