Usamah Bin Ladin Masih Hidup

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Orang paling dicari di dunia, Usamah Bin Ladin, dinyatakan masih hidup dan berada di Afganistan menyusul aksi serangan udara Amerika Serikat dan sekutunya di bumi Taliban. Keterangan ini dinyatakan di Islamabad oleh duta besar Taliban untuk Pakistan Mullah Abdul Salam Zaeef, Senin (8/10).

    Abdul Salam juga mengatakan bahwa aksi militer udara malam hari waktu setempat itu telah membunuh setidaknya 20 warga sipil. Sebelumnya AS dan Inggris mengaku target serangan rudal dan misil itu adalah markas dan instalasi pertahanan militer Taliban. Dia sendiri menyebut serangan itu sebagai tindakan kekerasan dan aksi terorisme oleh tirani AS. Jika pikiran irasional AS menyatakan bahwa mereka akan beruntung dalam aksi ini, maka saya berpikir asumsi mereka itu salah. Mereka akan hengkang tanpa hasil apa pun, kata Abdul Salam.

    Dia mengeaskan kembali Taliban tidak akan menyerahkan Usamah Bin Ladin seperti yang diinginkan AS. Bin Ladin hingga kini menjadi tersangka utama kasus terorisme 11 September yang meluluhlantakkan menara kembar World Trade Centre dan menghancurkan sebagian markas pertahanan Pentagon.

    Setelah lama menghilang dari pantaun media, Bin Ladin menampakkan diri, dalam rekaman terbarunya yang disiarkan melalui jaringan televisi milik Kabul, Al-Jazeera, sesaat setelah AS dan Inggris menggempur Kabul. Kami tidak melakukan kontak apa pun dengan dia (Bin Ladin) tetapi dia masih di Afganistan dan masih hidup, lanjut Abdul Salam.

    Dalam aksi penyerangan ke Afganistan, ungkap Abdul Salam, Polisi Dunia itu menjatuhkan beberapa bom di distrik kota Kandahar, tempat tinggal pemimpin tertinggi Taliban Mullah Muhammad umar. Namun dia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai dampak serangan itu sendiri terhadap pasukan pejuang Taliban. (Dede Ariwibowo-Tempo NewsRoom/CNN)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.