AS Serang Afganistan, Ledakan Terjadi Di Kandahar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Ledakan keras juga terdengar di sebelah selatan Afghanistan, tepatnya di kota Kandahar, Minggu (7/10) malam. Kandahar merupakan basis spritual penguasa Afganistan Taliban. Lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian Usamah bin Ladin, pengusaha kaya asal Arab yang diduga berada dibalik aksi peledakan menara kembar World Trade Centre dan Pentagon di Amerika Serikat, pada 11 September lalu.

    Pemerintah Amerika Seriktat telah menyatakan dengan resmi penyerangan ke Afghanistan. Presiden AS George W. Bush mengatakan penyerangan itu adalah bentuk baru dalam perang melawan terorisme.

    Dari ibukota Kabul, dilaporkan aliran listrik di negara tersebut putus. Penduduk setempat kepada kantor berita Perancis AFP mengatakan mendengar deru meriam Taliban, alat anti pesawat tempur dan ledakan-ledakan kecil. Suara itu bagai sebuah perang yang pecah di jalan-jalan kota itu. Suasana sangat tegang terjadi di pihak Taliban, yang memerintah Afganistan dengan hukum Militer Islam. Taliban telah mempersiapkan garis depannya menghadapi kemungkinan serangan militer AS sebagai balas dendam karena pihaknya telah menolak untuk menyerahkan tersangka teroris Usamah bin Ladin.

    Pihak oposisi yang berada 50 kilometer (30 mil) di utara ibukota, telah berjanji untuk bekerjasama dengan pihak AS untuk menggempur Taliban dan telah melakukan komunikasi yang intensif dengan para perancang strategi perang AS belum lama ini. Militer Taliban yang berada di dalam kota, pada hari Sabtu (6/10) menyatakan perang terbuka dengan menembak jatuh apa yang mereka sebut sebagai sebuah pesawat mata-mata AS yang terbang di atas kota tersebut.

    Para pejabat Amerika di Washington mengatakan bahwa Presiden George W. Bush telah menjadwalkan untuk berkunjung ke negara itu. (Dede A/Ira k)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.