Raja Thailand Diperingatkan untuk Tidak Berpolitik dari Jerman

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida menyapa para bangsawan saat mereka meninggalkan upacara keagamaan untuk memperingati kematian Raja Chulalongkorn di The Grand Palace di Bangkok, Thailand, Jumat, 23 Oktober 2020. Namun di akhir Agustus 2020, Vajiralongkor kembali menganggkat Sineenat sebagai selirnya. REUTERS/Athit Perawongmetha

    Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida menyapa para bangsawan saat mereka meninggalkan upacara keagamaan untuk memperingati kematian Raja Chulalongkorn di The Grand Palace di Bangkok, Thailand, Jumat, 23 Oktober 2020. Namun di akhir Agustus 2020, Vajiralongkor kembali menganggkat Sineenat sebagai selirnya. REUTERS/Athit Perawongmetha

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Jerman memperingatkan Raja Thailand Maha Vajiralonkorn untuk tidak melakukan aktivitas politik dari Jerman.

    Jerman, seperti dilaporkan Reuters, 26 Oktober 2020 menegaskan, tidak dapat menerima Raja Thailand melakukan kegiatan politik dari negara itu.

    Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan, perilaku Raja Thailand telah lama dicermati. Raja ini disebut cenderung tinggal berlama-lama di Bavaria.

    Sementara di negaranya, gelombang unjuk rasa kelompok oposisi semakin membesar untuk menuntut reformasi kerajaan dan Perdana Menteri Prayuth Chan-o-cha untuk mundur dari jabatannya.

    "Kami memantau hal ini dalam jangka lama. Ini akan memiliki konsekwensi langsung jika ada sesuatu yang kami nilai ilegal," kata Maas seperti dikutip dari Reuters, 26 Oktober 2020.

    Pengunjuk rasa di Bangkok telah meminta Jerman menyelidiki aktivitas Raja Thailand berlama-lama tinggal di negara itu. Sesuai jadwal, pengunjuk rasa hari ini akan berdemonstrasi di depan Kedutaan Jerman untuk memberikan petisi ke Berlin.

    Petisi pengunjuk rasa itu meminta pemerintah Jerman menyelidiki apakah Raja Thailand memanfaatkan kekuasaannya saat tinggal di Jerman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.