Pengunjuk Rasa Desak Jerman Selidiki Raja Thailand Maha Vajiralongkorn

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi memberi jalan bagi ambulans selama protes anti-pemerintah, di kawasan Victory Monument, Bangkok, Thailand, Ahad, 18 Oktober 2020. Pengunjuk rasa anti-pemerintah di Thailand menentang larangan demonstrasi untuk hari keempat pada hari Ahad. REUTERS/Athit Perawongmetha

    Ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi memberi jalan bagi ambulans selama protes anti-pemerintah, di kawasan Victory Monument, Bangkok, Thailand, Ahad, 18 Oktober 2020. Pengunjuk rasa anti-pemerintah di Thailand menentang larangan demonstrasi untuk hari keempat pada hari Ahad. REUTERS/Athit Perawongmetha

    TEMPO.CO, Jakarta -Pengunjuk rasa di Thailand akan membuat petisi ke pemerintah Jerman untuk menyelidiki apakah Raja Maha Vajiralongkorn dengan kekuasaannya melakukan pelanggaran hukum selama tinggal di Jerman.

    Reuters melaporkan, para pengunjuk rasa hari ini akan ke Kedutaan Jerman menyampaikan permintaan mereka agar negara Eropa itu menyelidiki kemungkinan penyalahgunaan kewenangan Raja Thailand itu yang menghabiskan sebagian besar waktunya tahun ini di Jerman.

    Namun pengunjuk rasa tidak secara spesifik menyebut kekuasaan raja yang mereka yakini telah disalahgunakan di Jerman.

    "Permohonan ini bertujuan membawa Thailand kembali ke kerajaan konstitusional yang nyata," ujar sejumlah orang.

    Unjuk rasa ini berlangsung setelah tuntutan mereka agar Perdana Menteri Prayuth Chan-o-cha mundur tidak digubris. Kantor Perdana Menteri mengunggah pernyataan di Twitter pada hari Minggu, 25 Oktober untuk mengatakan Prayuth tidak mundur.

    Jika Prayuth menolak mundur, pengunjuk rasa akan menggunakan cara damai untuk mendesak jenderal itu mundur dari jabatannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.