Presiden Moon Tuntut Tanggung Jawab Korea Utara Menembak Mati Warganya

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Ibu Negara Kim Jung-sook mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dan istrinya, Ri Sol Ju, saat mereka pergi di Bandara Samjiyon di Provinsi Ryanggang, Korea Utara, 20 September 2018. Korps Pers Pyeongyang/REUTERS

    Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Ibu Negara Kim Jung-sook mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dan istrinya, Ri Sol Ju, saat mereka pergi di Bandara Samjiyon di Provinsi Ryanggang, Korea Utara, 20 September 2018. Korps Pers Pyeongyang/REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta -Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyatakan tindakan pasukan Korea Utara menembak mati pejabat Korea Selatan dan membakar jasadnya tidak dapat ditoleransi apapun alasannya.

    Presiden Moon Jae-in menuntut Korea Utara bertanggung jawab dan mengambil langkah yang sepatutnya atas peristiwa ini, menghukum pelakunya, dan meminta maaf atas tindakan tidak manusiawi itu, serta mengambil langkah pencegahan.

    "Presiden Moon menyatakan sangat menyesalkan pembunuhan oleh Utara terhadap pejabat Korea Selatan, tidak ada toleransi apapun alasannya," kata Kang Min-seok, juru bicara Presiden atau Cheong Wa Dae, seperti dikutip dari The Korea Times, 24 September 2020.

    "Dia menambahkan Utara harus bertanggung jawab menjelaskan dan mengambil langkah sepatutnya atas peristiwa ini."

    Presiden Moon Jae-in juga memerintahkan militer Korea Selatan untuk memperkuat postur keamanan untuk melindungi nyawa dan keselamatan masyarakat Korea Selatan.

    "Korea Utara menembak warga Korea Selatan, yang tidak bersenjata dan tidak berniat untuk melawan, hingga tewas dan membakar jasadnya, dan ini tidak dapat dibenarkan apapun alasannya," kata Suh Chook-suk, Deputi Kepala Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan.

    "Tindakan ini bertentangan dengan peraturan internasional dan kemanusiaan, dan pemerintah Korea Selatan mengutuk keras hal itu."

    Pasukan patroli Korea Utara menembak mati pejabat Korea Selatan lalu membakar jasadnya setelah menjelaskan niatnya membelot ke Utara.

    Pejabat yang bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan menurut laporan The Korea Times,  menghilang saat menjalankan tugasnya menjaga perairan di perbatasan kedua negara di barat pulau Yeonpyeong pada hari Senin, 21 September 2020.

    Pejabat berusia 47 tahun itu diperkirakan membelot karena meninggalkan sepatunya di kapal, mengenakan jaket pelampung dan berpegangan pada benda mengambang ketika kapal Korea Utara menemukannya hari Selasa sekitar jam 3.30 sore waktu setempat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.