1200 Tuntutan Menanti Pemerintah Lebanon yang Baru Soal Ledakan di Beirut

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap mengepul ke langit di atas kota setelah ledakan bom mobil di dekat hotel St George, Beirut, Lebanon, 14 Februari 2005. Meski ledakan maut yang terjadi pada 4 Agustus 2020 bukan diakibatkan oleh bom, namun peristiwa tersebut mengingatkan dunia dan masyarakat akan rangkaian teror yang pernah terjdi di masa lalu.  REUTERS/Alexander Jenniches

    Asap mengepul ke langit di atas kota setelah ledakan bom mobil di dekat hotel St George, Beirut, Lebanon, 14 Februari 2005. Meski ledakan maut yang terjadi pada 4 Agustus 2020 bukan diakibatkan oleh bom, namun peristiwa tersebut mengingatkan dunia dan masyarakat akan rangkaian teror yang pernah terjdi di masa lalu. REUTERS/Alexander Jenniches

    TEMPO.CO, Jakarta - Masalah yang harus dihadapi Lebanon tak akan otomatis hilang apabila reformasi pemerintahannya berhasil terwujud. Dikutip dari Channel News Asia, ada 1228 tuntutan dari warga Lebanon menanti. Semua itu berkaitan dengan peristiwa ledakan di Beirut.

    Salah satu warga yang akan menuntu Pemerintah Lebanon adalah Elie Hasrouty, seorang insinyur komputer. Dalam insiden ledakan di Beirut, ayahnya adalah satu dari 190 orang yang meninggal akibat peristiwa itu. Hasrouty ingin meminta pertanggungjawaban mengingat ledakan itu bersumber dari bahan peledak yang disimpan pemerintah.

    "Kami menuntut pertanggungjawaban. Tidak hanya untuk saya, tetapi juga warga Lebanon lainnya," ujar Hasrouty sebagaimana dilansir dari Channel News Asia, Selasa, 22 September 2020.

    Ayah Hasrouty, Ghassan, diketahui bekerja di ruang kendali pelabuhan, tak jauh dari lokasi ledakan di Beirut. Ketika ledakan besar itu terjadi, Ghassan tertimpa reruntuhan bangunan dan baru bisa diselamatkan dua pekan kemudian.

    Beirut Bar Association, asosiasi praktisi hukum di Lebanon, menjadi motor di balik ribuan tuntutan ke pemerintah tersebut. Mereka membantu warga yang ingin menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah. Karena hukum Lebanon tidak mengenal class action, maka Beirut Bar Association berencana menggabungkan tuntutan yang ada sebagai tuntutan kepada negara Lebanon.

    Beirut Bar Association menawarkan bantuan hukum ke warga Lebanon secara pro bono. Kurang lebih 400 pengacara dan 200 non-pengacara dilibatkan dalam pemberian bantuan tersebut. Bahkan, 7 lokasi konsultasi hukum dibangun di sekitar lokasi ledakan untuk mempermudah warga setempat.

    "Kami tidak bisa tinggal diam di saat ada tindak kejahatan setragis ini. Kami tidak mencari balas dendam, kami mencari keadilan," ujar Kepala Beirut Bar Association, Melhelm Khalaf.

    Dari 1228 tuntutan yang ada, 82 persen di antaranya meminta tanggung jawab material atas dampak ledakan di Beirut. Sementara itu, sisanya, kebanyakan berkaitan dengan cedera yang dialami serta anggota keluarga yang hilang pasca ledakan di Beirut.

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA

    News link:
    https://www.channelnewsasia.com/news/world/after-lebanon-blast--future-lawsuits-pile-up-against-the-state-13132496


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru Nonton di Bioskop Pasca Covid-19

    Masyarakat dapat menikmati film di layar lebar dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.