Selasa, 22 September 2020

PM Selandia Baru Jacinda Ardern dan Kerabatnya Jadi Target Zhenhua Data

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern selama konferensi pers peringatan setahun teror penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru, 13 Maret 2020.[REUTERS]

    Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern selama konferensi pers peringatan setahun teror penembakan di masjid Christchurch, Selandia Baru, 13 Maret 2020.[REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Jacinda Ardern dan tokoh penting Selandia Baru lainnya menjadi target perusahaan teknologi Zhenhua Data yang berafiliasi dengan militer Cina.

    Politisi dan keluarganya, diplomat, akademisi, eksekutif bisnis, hakim, dan atlet termasuk di antara warga Selandia Baru yang diprofilkan dalam database intelijen Cina yang sangat besar.

    Bocoran dari perusahaan, Zhenhua Data, mengungkapkan perusahaan Cina memanen data pribadi politisi Selandia Baru dan kerabat mereka, seperti putra mantan Perdana Menteri John Key, serta orang tua dan saudara perempuan Perdana Menteri Jacinda Ardern, menurut laporan Stuff.co.nz, 15 September 2020.

    Stuff telah memperoleh akses ke "Overseas Key Individuals Database", yang diklaim menyertakan detail pribadi lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia, dan disusun oleh perusahaan intelijen data Cina yang telah ditautkan dengan aparat intelijen negara di Beijing.

    Pengumpulan data menyeluruh mencakup lebih dari 730 warga Selandia Baru dan merupakan bagian dari upaya yang lebih luas yang digambarkan oleh seorang pejabat intelijen sebagai sistem pengawasan massal global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dapat digunakan untuk kampanye pengaruh politik.

    Sebelumnya The Indian Express melaporkan Zhenhua Data telah memanen data 1.350 politisi India mulai dari menteri, wali kota, legislator, hingga anggota partai. Secara keseluruhan perusahaan teknologi yang berbasis di Shenzhen itu mengawasi 10.000 lebih individu dan organisasi India dalam database target asingnya, kata The Indian Express, yang menginvestigasi kebocoran data ini selama dua bulan.

    Sementara The Washington Post melaporkan Zhenhua Data juga memanen data biografi dan catatan dari kapten kapal induk dan calon perwira Angkatan Laut AS. Zhenhua Data juga mengumpulkan profil dan peta keluarga para pemimpin asing beserta kerabat dan anak-anak mereka, termasuk rekaman obrolan media sosial di kalangan pengamat Cina di Washington.

    ABC melaporkan sektor luar angkasa Australia menjadi target utama pengintaian Cina dengan melacak pergerakan peralatan rahasia dari stasiun pelacakan di luar Canberra ke NASA di Amerika Serikat.

    Entri Zhenhua Data yang diperoleh ABC memiliki lebih dari 70 catatan yang merujuk pada staf Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) dan operasi rahasia.

    Satu entri menunjukkan Zhenhua Data memantau transfer "peralatan ilmiah" pada Maret 2019 dari Kompleks Komunikasi Antariksa Dalam Canberra di Tidbinbilla hingga menyeberangi Samudra Pasifik ke Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California.

    Jacinda Ardern mengatakan kepada Stuff selama kampanye pada Selasa, bahwa dia tidak akan mengomentari masalah keamanan atau menjawab pertanyaan tentang anggota keluarganya yang ada dalam daftar.

    "Saya tidak terbiasa mengomentari masalah seputar masalah keamanan...Kami perlu memastikan bahwa apakah itu masalah keamanan siber, masalah campur tangan asing, kami perlu memastikan bahwa kami selalu waspada," kata Ardern.

    Mereka yang ada dalam daftar diberi label "Politically Exposed Person (PEP)" atau orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam kasus penyuapan dan korupsi pengaruh yang mereka miliki. Sementara yang lain dilabeli "kerabat atau rekan dekat".

    Baik Zhenhua Data atau Kedutaan Besar Cina di Selandia Baru belum berkomentar terkait panen data ini.

    Zhenhua Data menggambarkan dirinya sebagai intelijen data sumber terbuka dan beroperasi sejak September 2017.

    Artikel dari situs web perusahaan, yang sekarang sudah dihapus dari internet, berbicara tentang "perang hibrida" dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan rumor dan mempengaruhi opini publik.

    Database yang dilihat oleh Stuff setara dengan kira-kira 10 persen dari total database yang telah disusun perusahaan. Data itu dibocorkan kepada Associate Professor Chris Balding, seorang akademisi Amerika, seorang ahli tentang Cina, yang kemudian meneruskan materi tersebut ke perusahaan keamanan siber Internet 2.0 yang berbasis di Canberra.

    Tokoh berpengaruh di seluruh dunia yang ditargetkan dalam database Zhenhua Data menjadi berita utama internasional pada Senin, berkat konsorsium jurnalis, termasuk reporter dari Australian Financial Review, Washington Post, Indian Express, Globe and Mail di Kanada, dan Il Foglio di Italia.

    Sumber:

    https://www.stuff.co.nz/national/politics/122773268/new-zealand-politicians-diplomats-judges-and-fraudsters-found-on-massive-chinese-intelligence-database

    https://www.abc.net.au/news/2020-09-15/chinese-database-zhenhua-interest-australia-space-science-sector/12662996

    https://indianexpress.com/article/express-exclusive/china-watching-big-data-president-kovind-pm-narendra-modi-opposition-leaders-chief-justice-of-india-zhenhua-data-information-technology-6594861/

    https://www.washingtonpost.com/world/asia_pacific/chinese-firm-harvests-social-media-posts-data-of-prominent-americans-and-military/2020/09/14/b1f697ce-f311-11ea-8025-5d3489768ac8_story.html


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.