Selasa, 22 September 2020

Pemerintahan Trump Blokir Impor Barang dari Xinjiang karena Tuduhan Kerja Paksa

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, belajar menjahit pakaian, Jumat, 4 Januari 2019. Peserta dapat lulus dari kamp ini ketika mereka dinilai telah mencapai tingkat tertentu dengan bahasa Mandarin, deradikalisasi, dan pengetahuan hukum mereka. ANTARA/M. Irfan Ilmie

    Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, belajar menjahit pakaian, Jumat, 4 Januari 2019. Peserta dapat lulus dari kamp ini ketika mereka dinilai telah mencapai tingkat tertentu dengan bahasa Mandarin, deradikalisasi, dan pengetahuan hukum mereka. ANTARA/M. Irfan Ilmie

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintahan Donald Trump melarang impor barang dari Xinjiang, Cina, karena diyakini dibuat oleh pekerja paksa yang ditahan di kamp indoktrinasi Xinjiang.

    Lima perusahaan atau kawasan industri di Xinjiang dan satu perusahaan di provinsi Anhui timur, yang membuat produk pakaian, kapas, komputer, dan produk rambut, telah masuk daftar hitam Perlindungan Bea dan Perbatasan Amerika Serikat (US CBP), menurut laporan CNN, 15 September 2020.

    Salah satu pusat pendidikan dan pelatihan kerja Xinjiang juga masuk dalam daftar itu. "Ini bukan pusat kejuruan, ini kamp konsentrasi," kata Ken Cuccinelli, pejabat senior yang menjalankan tugas wakil sekretaris Departemen Dalam Negeri AS.

    "Tempat di mana agama dan etnis minoritas menjadi sasaran pelecehan dan dipaksa untuk bekerja dalam kondisi keji tanpa bayaran dan kebebasan. Ini adalah perbudakan modern," katanya.

    Anak-anak etnis Uighur memegang poster bergambarkan pesepakbola Arsenal, Mesut Ozil saat protes melawan China di Istanbul, Turki 14 Desember 2019. Kaum minoritas Uighur ini tersebar di Daerah Otonomi Xinjiang, Uighur, sementara sebagian kecil tinggal di Provinsi Hunan dan Henan. REUTERS/Kemal Aslan

    US CBP mengeluarkan perintah pemblokiran kepada enam entitas Cina, yang dimaksudkan untuk mencegah barang-barang yang diduga dibuat dengan kerja paksa memasuki AS. Perintah tersebut memungkinkan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS untuk menahan pengiriman di pelabuhan AS, dan memberi perusahaan waktu untuk mengkonfirmasi bahwa barang mereka tidak diproduksi dengan kerja paksa.

    Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan pada Selasa bahwa larangan impor AS dari wilayah Xinjiang menyabotase rantai pasokan global, Reuters melaporkan.

    Langkah pengawasan perdagangan AS ini adalah yang terbaru dari serangkaian aksi pemerintahan Trump yang menargetkan otoritas dan bisnis Cina atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

    Sekitar 2 juta minoritas Muslim di Xinjiang telah dipenjara di pusat indoktrinasi, termasuk sejumlah besar orang Uighur, menurut Departemen Luar Negeri AS dengan banyak kasus pelecehan yang dilaporkan.

    Sumber:

    https://edition.cnn.com/2020/09/14/politics/us-xinjiang-cotton-imports-intl-hnk/index.html

    https://www.reuters.com/article/us-usa-trade-china-xinjiang/china-says-u-s-bans-on-xinjiang-imports-sabotage-global-supply-chains-idUSKBN26614E?il=0


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.