Skandal Susu Beracun Sudah Tercium Sebelum Olimpiade Beijing

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif ,  Beijing: Skandal susu beracun yang mengandung Melamin di Cina ceritanya belum berakhir. Ditengarai pemerintah “Negeri Tirai Bambu” menutup-nutupi skandal ini yang dampaknya menggoyang hampir separuh dunia.


    Menurut sumber, skandal susu beracun ini baru terkuak pada pertengahan September lalu, tepatnya sebulan setelah Olimpiade Beijing. Padahal sudah sejak awal Bulan Juli, salah satu koran lokal di Cina Selatan, wartawannya pernah melakukan investigasi mengenai kasus susu ini. Kecurigaan muncul karena produk susu bubuk bayi ini sedang banyak dikeluhkan karena membuat anak-anak menjadi sakit.


    “Sebagai editor, saya perhatian dengan masalah ini karena saya pikir ini akan menjadi bencana yang lebih besar untuk kesehatan masyarakat,” ujar editor berita Mingguan Selatan Fu Jianteng, dalam blognya.


    Dari 53.000 bayi yang minum susu beracun Melamin ini, sebenarnya bayi yang sudah meninggal karena korban susu ini terjadi pada 1 Mei. Ini berarti korban tewas telah terjadi lebih dari empat bulan sebelum skandal itu sampai ke masyarakat. Sanlu Group yang menjadi produsen susu beracun ini juga sudah mendapatkan keluhan sejak Desember. Namun gengsi sebagai tuan rumah olimpiade membuat Cina untuk menutupi skandal ini.


    Kabar terakhir, kini Kepolisian Cina telah menahan 22 orang tersangka kasus skandal susu yang terkontaminasi melamin. Seperti dilansir koran lokal, 19 orang yang ditahan termasuk manager produksi, penjualan dan peternakan. “Menurut investigasi polisi, melamin diproduksi dengan mesin-mesin yang disembunyikan dan kemudian dijual ke pusat produksi susu,” papar koran lokal Cina tersebut.


    AFP| AP| Nur Haryanto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Catatan Larangan Pemakaian Kantong Plastik di DKI Jakarta

    Pergub DKI Jakarta tentang larangan pemakaian kantong plastik berlaku 1 Juli 2020. Ada sejumlah sanksi denda dan pencabutan izin usaha bila melanggar.