Selasa, 22 September 2020

Ekonomi Malaysia Kwartal II Anjlok 17,1 Persen karena Covid-19

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tukang cukur yang mengenakan pakaian pelindung membersihkan alat-alatnya sebelum memotong rambut seorang pelanggan di sebuah pangkas rambut setelah dibuka kembali, di tengah wabah penyakit virus corona di Kuala Lumpur, Malaysia 10 Juni 2020. [REUTERS / Lim Huey Teng]

    Seorang tukang cukur yang mengenakan pakaian pelindung membersihkan alat-alatnya sebelum memotong rambut seorang pelanggan di sebuah pangkas rambut setelah dibuka kembali, di tengah wabah penyakit virus corona di Kuala Lumpur, Malaysia 10 Juni 2020. [REUTERS / Lim Huey Teng]

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur – Produk domestik bruto Malaysia mengalami anjlok 17,1 persen pada kwartal kedua akibat pandemi Covid-19.

    “Departemen statistik Malaysia mengatakan ini adalah kinerja terburuk ekonomi setelah krisis keuangan Asia pada 1998,” begitu dilansir Channel News Asia pada Jumat, 4 Agustus 2020.

    Menurut Gubernur Bank Sentral Malaysia, Nor Shamsiah Yunus, sektor yang paling terdampak akibat krisis ekonomi ini adalah sektor pariwisata, manufaktur dan investasi.

    Dia mengatakan para pengambil kebijakan sudah memperkirakan ekonomi akan mengalami pertumbuhan minus pada kwartal kedua.

    “Meski ekonomi terkena dampak cukup parah, proses relaksasi lockdown pada 4 Mei mulai menunjukkan sejumlah pemulihan ekonomi,” kata Nor Shamsiah.

    Secara terpisah, Menteri Keuangan, Tengku Zafrul Aziz, pernah mengatakan PDB Malaysia bakal terdampak dengan penerapan aturan pembatasan gerak publik atau kegiatan publik akibat Covid-19 ini.

    “Namun, kita tidak sendiri karena pandemi Covid-19 ini bersifat global dan sekitar 150 negara akan mengalami kontraksi ekonomi pada 2020 ini,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.